Pagi itu seorang anak mendekati meja saya sembari menunjuk gelas kopi nan tetap tersisa. "Pa, gelasna bade dicuci," katanya. Saya menoleh sekilas lampau menjawab bahwa gelas itu bakal saya cuci sendiri.
Saya mengira percakapan selesai. Ternyata tidak. Beberapa menit kemudian dia datang lagi dengan permintaan nan sama. Saya kembali menolak. Tidak lama setelah itu dia kembali lagi, kali ini tanpa banyak bicara. Ia hanya duduk di samping saya sembari sesekali melirik gelas nan tetap berada di pojok meja.
Barulah saya menyadari bahwa ada sesuatu nan berbeda dari sekadar kemauan membantu. Saya bertanya pelan, "Kamu memang mau mencuci gelas itu?" Wajahnya langsung berubah. Ia mengangguk sigap dan matanya berbinar.
Ketika akhirnya saya mengizinkan, dia membawa gelas tersebut ke wastafel dengan langkah ringan dan penuh semangat. Saat itulah saya merasa sedang memandang sesuatu nan lebih besar daripada sekadar seorang anak nan mau mencuci gelas kopi.
Peristiwa sederhana itu membikin saya memahami satu perihal nan selama ini sering luput dari perhatian orang dewasa. Bagi anak tersebut, mencuci gelas bukanlah pekerjaan rumah tangga nan sepele. Aktivitas itu adalah kesempatan untuk merasa berguna. Ia mau dipercaya. Ia mau terlibat. Ia mau merasakan bahwa keberadaannya memberi faedah bagi orang lain.
Semakin lama menjadi guru, semakin sering saya menemukan pengalaman serupa. Ada anak nan selalu menawarkan support membereskan kelas. Ada nan senang mengantar pesan ke ruang guru. Ada nan begitu antusias ketika diminta membantu menyambut tamu sekolah. Jika dilihat sepintas, perilaku-perilaku itu mungkin tampak biasa saja. Namun setelah mengawasi banyak anak selama bertahun-tahun, saya mulai memandang pola nan sama: mereka sedang mencari ruang untuk merasa berarti.
Dalam ilmu jiwa perkembangan terdapat konsep need for significance, ialah kebutuhan manusia untuk merasa mempunyai nilai, dihargai, dan diakui keberadaannya. Kebutuhan ini tidak hanya dimiliki orang dewasa. Anak-anak pun membutuhkannya. Bahkan bagi sebagian anak nan sering mengalami kesulitan akademik alias sosial, kebutuhan tersebut bisa menjadi sangat kuat.
Banyak anak datang ke sekolah setiap hari tanpa pernah betul-betul merasakan pengalaman berhasil. Mereka mungkin kesulitan mengikuti pelajaran, memperoleh nilai nan tidak memuaskan, alias lebih sering menerima koreksi daripada apresiasi. Dalam situasi seperti itu, otak manusia secara alami bakal mencari jalur lain untuk memperoleh pengalaman positif tentang dirinya sendiri. Sebagian anak menemukannya melalui olahraga. Sebagian melalui seni. Sebagian lagi menemukannya melalui kesempatan-kesempatan mini untuk membantu orang lain.
Sayangnya, orang dewasa sering kali salah membaca sinyal tersebut. Ketika seorang anak terus menawarkan bantuan, kita menganggapnya mengganggu. Ketika dia sering berada di sekitar guru, kita menganggapnya mencari perhatian. Ketika dia berulang kali meminta tugas tertentu, kita menganggapnya sekadar mau terlihat rajin. Padahal bisa jadi nan sedang dia cari bukan perhatian, melainkan kebermaknaan.
Pengalaman ini mengingatkan saya pada beberapa siswa nan selama bertahun-tahun saya dampingi. Ada anak nan tampak biasa saja di ruang kelas, tetapi begitu percaya diri ketika diberi tanggung jawab membantu aktivitas sekolah. Ada anak nan susah memperkuat mengikuti pelajaran dalam waktu lama, tetapi bisa menunjukkan ketekunan luar biasa ketika dipercaya mengerjakan sesuatu nan menurutnya penting. Dalam situasi seperti itu saya belajar bahwa keberhasilan anak tidak selalu muncul dalam corak nilai alias peringkat. Kadang-kadang keberhasilan itu muncul dalam corak senyum bangga ketika dia merasa dipercaya.
Karena itu saya semakin percaya bahwa sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat anak belajar membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah juga kudu menjadi tempat di mana setiap anak menemukan bahwa dirinya mempunyai arti. Tidak semua anak bakal menjadi juara kelas. Tidak semua anak bakal unggul dalam ujian. Namun setiap anak berkuasa mempunyai pengalaman bahwa dirinya bisa memberi faedah bagi lingkungan sekitarnya.
Mungkin inilah salah satu tugas krusial sekolah nan sering terlupakan: menyediakan ruang kebermaknaan. Bukan dalam corak pekerjaan nan dipaksakan, melainkan kesempatan nan memungkinkan anak berinisiatif, berkontribusi, dan merasakan bahwa kehadirannya dibutuhkan. Ruang itu bisa sesederhana membantu merapikan perpustakaan, merawat tanaman sekolah, menyambut tamu, membantu kawan nan lebih muda, alias tugas-tugas mini lain nan membikin anak merasa dipercaya.
Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat pada rapor. Namun pengalaman-pengalaman seperti itulah nan perlahan membangun rasa percaya diri, tanggung jawab, dan identitas positif dalam diri anak. Ketika seorang anak merasa dirinya berguna, dia sedang membangun fondasi krusial untuk pertumbuhan nan jauh lebih besar.
Pagi itu seorang anak hanya mau mencuci gelas kopi. Namun dia mengingatkan saya bahwa di kembali banyak perilaku anak nan tampak sederhana, sering tersembunyi kebutuhan nan sangat mendasar: kebutuhan untuk merasa dibutuhkan.
Dan mungkin, salah satu ukuran sekolah nan baik bukan hanya seberapa banyak anak belajar di dalamnya, melainkan juga seberapa banyak anak merasa bahwa keberadaannya berarti.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·