Jakarta, CNBC Indonesia - Draf kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah bocor ke publik. Draf tersebut diungkap beberapa sumber dari negara Barat, Pakistan, dan Iran, pada Jumat (11/6), kepada Reuters.
Media Iran juga sudah mempublikasikan memorandum tersebut. Isi drafnya menunjukkan kesepakatan nan condong menguntungkan Iran.
Hal ini langsung mendapat respons dari Presiden AS Donald Trump. Ia dengan tegas menyebut laporan tersebut tidak akurat.
Semua sumber menekankan bahwa draf tersebut belum final. Beberapa menyebut rumor kunci nan belum terselesaikan adalah bahasa tentang penghentian bentrok di Lebanon. Iran menuntut agar Israel mengakhiri kampanye melawan sekutu Iran, milisi Hizbullah.
Meskipun ada sedikit perbedaan dalam laporan tersebut, semua jenis menunjukkan kesepakatan persyaratan utama nan diusulkan Teheran dua bulan lampau selama negosiasi tatap muka awal, nan sebelumnya telah berulang kali ditolak Washington.
Dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump tidak mengatakan apa nan tidak jeli dalam laporan tentang kesepakatan nan diusulkan. Ia hanya menyebut laporan itu palsu.
"Persyaratan nan dibocorkan Iran ke Berita Palsu TIDAK ada hubungannya dengan persyaratan nan telah disepakati secara tertulis," tulis Trump melalui akun media sosialnya, dikutip dari Reuters, Sabtu (13/6/2026).
"Orang-orang [Iran] sangat tidak terhormat untuk diajak berurusan," ujar Trump tentang Iran.
Berdasarkan persyaratan nan dijelaskan beberapa sumber kepada Reuters, AS bakal segera memberikan Iran miliaran dolar dalam aset nan tidak dibekukan dan mencabut hukuman atas ekspor minyaknya, sebagai hadiah atas pencabutan blokade Selat Hormuz oleh Iran, nan sebagian besar ditutup sejak perang dimulai.
Setiap obrolan tentang tuntutan utama AS mengenai program nuklir Iran bakal ditunda selama periode pembicaraan 60 hari tentang penyelesaian akhir.
Satu-satunya referensi definitif tentang kebijakan nuklir untuk saat ini adalah pernyataan ulang komitmen Iran nan telah berumur puluhan tahun untuk tidak mencari senjata nuklir, nan pertama kali dibuat ketika meratifikasi Perjanjian Non-Proliferasi PBB pada tahun 1970.
Di antara konsesi utama AS nan termasuk dalam draf tersebut adalah obrolan tentang ratusan miliar dolar dalam potensi tukar rugi perang kepada Teheran, dan pencabutan tuntutan lama untuk pembatasan program rudal Iran.
Washington sebelumnya menuntut agar Iran menyerahkan persediaan uranium nan sangat diperkaya (highly enriched uranium). Namun, tidak satu pun dari jenis teks nan ditinjau Reuters menyebut perihal itu.
Sumber-sumber nan mengungkap bocoran draf kesepakatan AS-Iran mengatakan tuntutan tersebut secara definitif dikecualikan untuk saat ini.
Sebuah sumber Barat mengatakan bahwa jika bahasa dapat disepakati, memorandum tersebut dapat ditandatangani paling sigap pada hari Minggu (14/6) oleh Wakil Presiden AS JD Vance dan ketua parlemen Iran, Mohammed Baqer Qalibaf.
Saat ini, Jenewa dipandang sebagai tempat nan paling pas untuk meneken kesepakatan tersebut.
Meskipun bersama-sama melancarkan perang dengan AS, Israel sejauh ini dikecualikan dari negosiasi. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan negaranya tidak bakal menjadi pihak dalam memorandum tersebut.
Netanyahu telah berulang kali berbeda dengan Trump dalam beberapa pekan terakhir mengenai tuntutan AS agar Israel membatasi tindakan militer di Lebanon untuk memungkinkan Washington mencapai kesepakatan dengan Teheran.
(fab/fab)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·