Kabar duka datang dari Mumbai. Sebuah family nan terdiri dari empat orang dilaporkan meninggal bumi dalam waktu kurang dari 24 jam setelah menyantap makan malam berupa biryani, nan kemudian dilanjutkan dengan mengonsumsi semangka pada larut malam.
Menurut laporan Mothership, peristiwa ini terjadi pada 25 April. Keluarga tersebut diketahui menikmati biryani berbareng kerabat sekitar pukul 22.30. Namun, hanya empat personil family inti, terdiri dari dua anak wanita dan kedua orang tua, nan melanjutkan dengan makan semangka sekitar pukul 01.00 awal hari.
Tidak ada kerabat lain nan ikut menyantap biryani melaporkan indikasi sakit. Namun, beberapa jam kemudian, sekitar pukul 05.30, keempat personil family tersebut mulai mengalami indikasi serius seperti muntah, diare, hingga kondisi nan memburuk hingga akhirnya mereka dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
Bahkan, anak wanita bungsu nan berumur 12 tahun dilaporkan meninggal bumi setibanya di rumah sakit sekitar pukul 10.30 pagi. Disusul kakaknya nan berumur 16 tahun serta sang ibu pada sore hari, meski telah mendapatkan perawatan intensif. Sang ayah kemudian meninggal bumi pada malam harinya.
Menurut laporan Times of India, kasus ini pun memicu kebingungan di kalangan tenaga medis. Dokter dari Sir JJ Hospital menyebut bahwa sangat tidak mungkin semangka, apalagi dalam kondisi kurang segar, dapat menyebabkan penurunan kondisi kesehatan nan begitu sigap dan fatal.
Seorang master senior nan terlibat dalam penanganan kasus ini menduga adanya kemungkinan aspek lain, seperti kontaminasi alias unsur berbahaya. Hal ini diperkuat oleh pernyataan pejabat medis nan menilai bahwa kasus tersebut tidak sesuai dengan pola umum penyakit bawaan makanan.
“(Keracunan makanan) biasanya tidak menyebabkan kondisi memburuk dengan sigap dan separah ini,” ujarnya, seperti dikutip oleh Indian Express, Senin (4/5).
Hingga kini, hasil pemeriksaan forensik tetap ditunggu untuk memastikan penyebab pasti kematian. Namun, di tengah kasus ini muncul pertanyaan, apakah sebenarnya kondusif mengonsumsi semangka di malam hari?
Menurut mahir gizi Shilpa Arora, semangka memang kaya bakal air dan nutrisi nan mendukung kesehatan secara keseluruhan. “Semangka terdiri dari 94 persen air, mengandung likopen, kalium, dan beragam nutrisi lainnya. Buah ini juga mengandung serat nan baik untuk membantu proses pencernaan tetap melangkah lancar,” kata dia seperti dikutip dari NDTVFood.
Namun, dia menyarankan agar waktu konsumsi juga perlu diperhatikan. Menurutnya, buah ini mempunyai sifat sedikit masam dan bisa memperlambat proses pencernaan saat malam hari, ketika metabolisme tubuh mulai menurun.
“Saya tidak merekomendasikan konsumsi semangka alias buah apa pun setelah pukul 7 malam,” katanya.
Shilpa menyarankan waktu terbaik untuk mengonsumsi semangka adalah sekitar pukul 12.00 hingga 13.00 siang, ketika sistem pencernaan sedang berada dalam kondisi optimal.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh master Ayurveda, Dr. Dhanvantri Tyagi. Ia mengingatkan bahwa kandungan air dan gula alami nan tinggi pada semangka dapat memicu rasa tidak nyaman jika dikonsumsi terlalu dekat dengan waktu tidur.
Beberapa orang mungkin mengalami perut kembung, rasa berat, alias apalagi gangguan pencernaan keesokan harinya. Selain itu, kandungan air nan tinggi juga berpotensi mengganggu kualitas tidur lantaran meningkatkan gelombang buang air mini di malam hari.
Para mahir menyarankan agar beberapa golongan lebih berhati-hati dalam mengonsumsi semangka di malam hari, di antaranya orang dengan sistem pencernaan sensitif, mereka nan rentan mengalami masam lambung alias kembung, penderita glukosuria nan perlu mengontrol asupan gula, serta mereka nan mengonsumsi semangka setelah makan malam berat.
Pada dasarnya, semangka bukanlah buah nan berbahaya. Justru, jika dikonsumsi dalam kondisi segar dan disimpan dengan benar, buah ini sangat baik untuk tubuh.
Namun, menjadikannya sebagai camilan di malam hari, terutama setelah makan besar, mungkin bukan pilihan terbaik bagi sebagian orang. Sebagai alternatif, menikmati semangka di siang hari sebagai camilan alias di sela waktu makan bisa menjadi pilihan nan lebih bijak dan aman.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·