Houthi.(Al Jazeera)
ALIANSI mematikan nan melibatkan dua musuh bebuyutan Amerika Serikat, militan al-Shabaab dari Somalia dan pemberontak Houthi dari Yaman, sekarang menjadi ancaman serius bagi stabilitas Timur Tengah dan pasar daya global. Kerja sama ini menandai pergeseran strategis saat perbedaan sektarian dikesampingkan demi menghadapi musuh bersama: Barat dan Israel.
Kematian Jibril Si Lengan Satu dan Terungkapnya Aliansi
Pada 12 Februari, serangan rudal AS di luar al-Ghaydah, Yaman, menewaskan Jibril 'One-Armed' Yahya Ali, seorang penduduk Somalia nan menjadi penghubung utama antara al-Shabaab dan Houthi. Jibril berkedudukan krusial dalam memfasilitasi pembelian senjata kelas militer dari Houthi untuk diselundupkan ke al-Shabaab di Somalia.
Meskipun Jibril tewas, para pejabat intelijen memperingatkan bahwa aliansi nan dia bangun telah berjalan. Al-Shabaab, sayap al-Qaeda terkaya di dunia, mempunyai biaya tunai nan melimpah tetapi memerlukan senjata canggih. Di sisi lain, Houthi mempunyai teknologi militer mumpuni dan memerlukan biaya serta injakan strategis baru untuk menyerang kepentingan Barat.
Ancaman terhadap Jalur Minyak Dunia
Kerja sama ini sangat mengkhawatirkan lantaran letak geografis kedua golongan nan berada di sisi berlawanan dari Teluk Aden. Jalur ini merupakan rute vital bagi 12% perdagangan minyak bumi melalui laut. Dengan Houthi nan menyerang kapal tanker di Laut Merah, kehadiran mereka di Somalia melalui al-Shabaab dapat memperluas jangkauan serangan mereka.
Gen. Dagvin Anderson, komandan pasukan AS di Afrika, menyatakan bahwa al-Shabaab sekarang mendapatkan akses ke senjata nan lebih canggih dan training militer. "Ini bukan sekadar masalah regional. Ini mempunyai implikasi global," tegasnya.
Pertukaran Senjata dan Pelatihan Militer
Berdasarkan arsip intelijen, al-Shabaab mengusulkan daftar kemauan senjata kepada Houthi nan mencakup:
- Rudal antipesawat panggul.
- Roket Katyusha 107 mm.
- Senapan runduk Dragunov.
- Drone serang eksplosif dan rudal antitank.
- Peralatan penglihatan malam (night-vision) buatan AS.
Selain senjata, Houthi juga memberikan training kepada militan al-Shabaab. Setidaknya 100 pejuang al-Shabaab dilaporkan telah melakukan perjalanan ke Yaman untuk mempelajari perakitan drone, teknik penembak jitu, dan pembuatan peledak pinggir jalan nan lebih mematikan.
Faktor Israel dan Somaliland
Ketegangan semakin meningkat setelah keputusan Israel untuk mengakui kemerdekaan Somaliland pada Desember lalu. Langkah ini memberikan Israel akses potensial ke pelabuhan Berbera di Laut Merah, nan dapat digunakan untuk memantau dan menyerang posisi Houthi.
Pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, secara terbuka menyatakan bahwa kelompoknya memantau tindakan Israel di Somaliland dan menakut-nakuti bakal menargetkan aktivitas apa pun nan dianggap menakut-nakuti kendali mereka atas Teluk Aden dan selat Bab al-Mandeb.
Catatan Keamanan: Al-Shabaab diperkirakan meraup pendapatan sedikitnya Rp1,5 triliun (US$100 juta) per tahun melalui pemerasan upaya dan pemanfaatan tambang emas, nan memungkinkan mereka untuk terus mendanai pembelian senjata dari Houthi.
Bagi Washington, aliansi ini menciptakan tantangan ganda. Upaya untuk menekan al-Shabaab di Somalia sekarang kudu berhadapan dengan teknologi militer Iran nan disalurkan melalui Houthi, menciptakan 'sakit kepala' baru nan mematikan bagi keamanan maritim internasional. (The Wall Street Journal/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·