Jakarta, CNBC Indonesia - Pasukan Garda Revolusi Iran dilaporkan menyerang sebuah kapal komersial berbendera Singapura di Selat Hormuz. Insiden bersenjata tersebut dikonfirmasi oleh seorang pejabat Amerika Serikat (AS) pada hari Kamis, (25/06/2026).
Mengutip laporan CBS News, bagian anjungan kapal komersial tersebut nampak mengalami kerusakan parah pada sisi kanan akibat hantaman proyektil misterius di lepas pantai Dahit, Oman. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris memastikan tidak ada korban jiwa ataupun akibat kerusakan lingkungan nan dilaporkan dari dek kapal pascaserangan.
Aksi militer sepihak dari Teheran ini langsung menjadi tantangan besar bagi upaya Presiden Donald Trump nan sedang berambisi membuka kembali koridor pelayaran minyak dunia. Akibat serangan ini, Organisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah PBB langsung menghentikan sementara proyek pemindahan ribuan pelaut dan ratusan kapal nan sempat terdampar akibat perang di Teluk Persia.
"Saya selalu menegaskan bahwa keselamatan para pelaut tetap menjadi nan utama. Oleh lantaran itu, rencana pemindahan bakal dihentikan sementara sampai ada kejelasan lebih lanjut," tegas Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez.
Pihak IMO menjelaskan bahwa kapal Singapura nan menjadi korban tersebut berlayar secara berdikari dan posisinya berada di luar koridor pemindahan resmi PBB. Padahal, nota kesepahaman (MOU) tenteram nan baru diteken pekan lampau sempat memberikan sentimen positif nan sukses membikin nilai minyak mentah bumi anjlok.
Berdasarkan info firma analitik Kpler, arus logistik di selat tersebut sebenarnya sempat melonjak tajam dari 6 kapal menjadi 70 kapal hanya dalam satu minggu. Berdasarkan arsip draf perdamaian, Iran diwajibkan menjamin lintasan kondusif bebas biaya tol bagi kapal asing selama 60 hari menggunakan upaya terbaiknya.
Namun, bentrok penentuan jalur tetap memicu ketegangan lantaran pihak Washington lebih memilih rute kondusif nan mepet dengan garis pantai Oman. Sebaliknya, Teheran bersikeras memaksa semua kapal komersial internasional untuk meminta izin kepada mereka dan wajib berlayar mendekati wilayah pantai Iran.
"Setiap perlintasan melalui rute di luar kerangka kerja tidak bakal dicakup oleh agunan lintasan kondusif dan tidak berkuasa mendapatkan agunan asuransi," ancam Otoritas Selat Persia Iran.
Pihak Iran juga tidak menutup kemungkinan untuk mulai memungut biaya tol laut komersial setelah masa tenggang 60 hari berakhir. Langkah ini ditolak keras oleh pemerintahan Trump dan sekutu Arabnya lantaran dinilai melanggar norma laut internasional secara fatal.
Sebelum rudal merusak kapal Singapura tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sempat menyatakan bahwa negaranya hanya bakal menilai komitmen Iran dari tindakan nyata di lapangan. Rubio menyampaikan perihal tersebut saat melakukan kunjungan kerja diplomatik ke Bahrain demi memantau koridor daya Teluk.
"Jika kapal-kapal bergerak sebagaimana mestinya, maka itulah nan bakal kami nilai. Jika retorika ini didukung oleh ancaman nyata terhadap kapal, itu adalah pelanggaran perjanjian dan kami bakal mempermasalahkannya," tegas Rubio.
(tps/tps)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·