Kartun Marsha and The Bear(YouTube/MashaBearRUSSIAN)
SERIAL animasi asal Rusia, Masha and the Bear memecahkan rekor di YouTube. Namun, di kembali popularitasnya, animasi ini berulang kali menghadapi bentrok budaya dan penolakan di beberapa negara.
Di beberapa bagian dunia, kontroversi mencuat lantaran perilaku Masha nan dianggap tidak mencerminkan nilai-nilai lokal. Pada tahun 2015, pemerintah Iran melarang penayangan animasi ini di televisi negara lantaran gadis mini tersebut dianggap memberikan contoh nan jelek bagi anak-anak.
Masha dinilai terlalu aktif, tidak alim kepada orang dewasa, dan suka melanggar aturan, sebuah perilaku nan dianggap rawan di negara nan sangat menjunjung tinggi nilai kesopanan. Penolakan serupa juga muncul di Amerika Serikat dari kalangan orang tua nan mengkritik Masha lantaran argumen nan sama, meskipun tidak ada larangan resmi nan diterapkan oleh pemerintah.
Aspek sensitivitas budaya juga sempat memicu boikot di Amerika Utara. Di Kanada, sebuah segmen dukun alias shaman dalam bagian berjudul Distant Relative pada tahun 2015 memicu gelombang protes lantaran dinilai menampilkan stereotipe terhadap masyarakat original setempat.
Akibatnya, Netflix sempat menghapus animasi tersebut untuk sementara waktu hingga pihak pembuat memberikan penjelasan bahwa segmen itu merupakan parodi dari cerita rakyat Rusia, bukan bermaksud menyinggung suku original Amerika.
Sanksi di Tengah Konflik Rusia-Ukraina
Kartun Masha and the Bear juga terseret ke dalam ranah bentrok geopolitik, salah satunya di Ukraina. Meskipun jenis bahasa Ukraina di YouTube memiliki 18 juta pengguna dan mengumpulkan lebih dari 800 juta views tahun ini, serial ini menghadapi penolakan keras dari otoritas politik setempat lantaran dianggap sebagai propaganda Kremlin.
Anggota parlemen Verkhovna Rada, Yaroslav Yurchyshyn, secara terbuka menuntut penjatuhan hukuman terhadap animasi tersebut demi membatasi akses tontonan anak-anak di negaranya.
Melalui saluran Telegram pribadinya, Yaroslav Yurchyshyn mengungkapkan rasa geramnya atas situasi tersebut.
"Proyek Masha and the Bear kami nan pro-Kremlin tetap belum dikenai sanksi... Kita mempunyai Telegram, nan melaluinya anak-anak membeli narkoba dan menanam bahan peledak," tulis Yurchishin.
Atas dasar kekhawatiran tersebut, sang personil parlemen mengusulkan untuk menjatuhkan hukuman pada animasi Masha and the Bear dan produk Rusia lainnya, serta menetapkan batas usia untuk penggunaan jejaring sosial.
Lonjakan Popularitas
Menariknya, setiap upaya pelarangan dan kecaman ini justru menguntungkan pihak pembuat lantaran pusaran sengketa tersebut justru membuat Masha and the Bear menjadi jauh lebih terkenal dan memicu lonjakan penonton nan tajam.
Sebagai contoh, setelah adanya larangan tayang dari pemerintah Iran, jumlah pengikut serial ini di media sosial langsung melonjak drastis hingga 30 persen.
Bahkan pada 2018 Guinness World Records menobatkan bagian ke-17, Recipe for Disaster (Masha + Kasha) nan diunggah kanal Get Movies sebagai video kartun/animasi nan paling banyak ditonton di YouTube, nan sekarang telah menembus 4,6 miliar penonton. Karakter Masha nan aktif, berani, dan doyan melanggar patokan justru terbukti menjadi daya tarik utama nan membuatnya semakin membekas di ingatan penonton dunia. (Zamin/ EADaily/H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·