Jakarta -
Pemerintah Singapura mengumumkan beragam kebijakan baru mengenai dengan support terhadap perkembangan anak dan keluarga. Salah satunya ialah rencana pemberian tunjangan nyaris Rp 1 miliar per anak penduduk negara Singapura hingga berumur 17 tahun.
Kebijakan itu disebut-sebut menjadi salah satu upaya perubahan untuk mendorong pasangan mempunyai lebih banyak anak, seiring dengan tantangan bakal nomor kesuburan (fertility rate) nan telah lama dihadapi Singapura.
Dikutip dari The Straits TImes, Selasa (25/8/2026), jumlah bayi nan lahir pada tahun 2025 turun ke nomor terendah sejak kemerdekaan Singapura, dengan kurang dari 30.000 kelahiran. Sementara itu, jumlah kematian terus meningkat di masyarakat nan menua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan Pendaftaran Kelahiran dan Kematian 2025 mencatat, sebanyak 29.864 bayi lahir pada tahun 2025, turun 11,4% dibandingkan dengan 33.703 kelahiran pada tahun 2024. Laporan tersebut dirilis oleh Otoritas Imigrasi dan Pemeriksaan Perbatasan (ICA) pada tanggal 27 Juli.
Sedangkan jika dibandingkan dengan nomor kematian, gapnya hanya sebesar 3.365 lebih rendah dari nomor kelahiran, terendah sepanjang sejarah. Angka tersebut menunjukkan penurunan tajam dibandingkan satu dasawarsa lalu, ketika gap antara nomor kelahiran dan kematian mencapai 22.323 pada tahun 2015.
Pemerintah Singapura sebelumnya telah menggelontorkan beragam insentif nan berfokus pada kelahiran. Namun, setelah lebih dari 20 tahun diterapkan, dampaknya kurang terlihat. Malahan, semakin banyak penduduk Singapura nan tetap melajang dan semakin banyak pasangan menikah nan tidak mempunyai anak.
Angka kesuburan total (TFR) masyarakat telah menurun selama beberapa dasawarsa terakhir. Sebagai contoh, TFR (Total Fertility Rate) adalah 1,41 pada tahun 2001, tahun di mana skema Baby Bonus pertama kali diberlakukan. Pada tahun 2011, nomor ini turun menjadi 1,2, dan turun ke titik terendah baru ialah 0,87 pada tahun 2025.
Paket Insentif Baru
Atas kondisi tersebut, dilakukan peralihan dari nan semula memberikan insentif kelahiran ke mendukung peran sebagai orang tua. Pemerintah berupaya untuk menciptakan lingkungan nan ramah family di Singapura, mulai dari mengatasi kekhawatiran orang tua muda tentang pendidikan, perawatan anak, hingga perumahan.
"Kami punya tujuan untuk lebih dari sekadar perbaikan berjenjang alias perubahan pada skema individual. Kami mau melakukan perubahan mendasar dalam perihal langkah kami mendukung keluarga," ujar Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong dalam pidato Rapat Umum Hari Nasional ketiganya, Minggu (23/8).
Pergeseran dari pemberian insentif kelahiran ke support terhadap peran sebagai orang tua ini ditunjukkan melalui SG Child Support Package senilai S$ 62.000. Paket Tunjangan Anak nan baru bakal diperluas ke semua anak Singapura nan lahir pada tahun 2026, alias nan berumur satu hingga 17 tahun pada tahun 2026.
Paket tersebut mencakup Baby Gift sebesar S$ 10.000 dalam corak tunai dan Child Credits sebesar S$ 32.000. Lalu ada juga hibah awal Child Development Account (CDA) S$ 5.000, kontribusi pendampingan dari pemerintah ke CDA hingga S$ 5.000, serta top-up sebesar S$ 10.000 ke rekening Post-Secondary Education Account (PSEA) anak.
Lewat paket ini, juga ditetapkan setiap anak Singapura bakal menerima support finansial senilai nyaris S$ 70.000 alias sekitar Rp 976,21 juta (kurs Rp 13.945). Jumlah tersebut meningkat dari S$ 27.500 hingga S$ 56.500 per anak nan saat ini diterima orang tua dalam corak support finansial langsung, tergantung pada urutan kelahiran anak.
Selain itu, PM Wong mengumumkan bakal ada penambahan libur untuk mengurus anak. Pemerintah juga bakal menanggung biaya semua libur mengenai anak nan diatur dalam undang-undang, hingga pemisah penggantian, sehingga mengurangi beban finansial bagi pengusaha.
Ia juga meminta para pemberi kerja untuk turut berkedudukan dengan mendukung staf nan merupakan orang tua, menambahkan bahwa menjadi orang tua semestinya tidak pernah menjadi kerugian dalam pekerjaan seseorang.
(shc/eds)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·