Jakarta, CNBC Indonesia — Amerika Serikat (AS) dilaporkan membatalkan rencana pengerahan sekitar 4.000 tentaranya ke Polandia. Keputusan mendadak ini muncul di tengah ketegangan hubungan Washington dengan sekutu-sekutunya di Eropa mengenai perang Iran dan pembahasan masa depan NATO.
Laporan ini pertama kali diungkap Army Times, mengutip NBC News pada Minggu (17/5/2026). Namun hingga sekarang Pentagon belum memberikan pengumuman resmi mengenai pembatalan tersebut. Juru bicara Pentagon juga menolak berkomentar.
Seorang pejabat AS nan berbincang kepada Reuters secara anonim menyebut keputusan itu berangkaian dengan penataan ulang pasukan AS di Eropa. Langkah tersebut disebut menjadi solusi jangka pendek sebelum AS melanjutkan rencana pengurangan sekitar 5.000 tentara dari Jerman nan sebelumnya sudah diumumkan.
Saat ini sekitar 35.000 tentara AS tetap ditempatkan di Jerman. Jika terjadi pembatalan pengiriman ke Polandia, pasukan nan awalnya direncanakan untuk rotasi sementara kemungkinan bakal dialihkan dari letak lain.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengatakan, dirinya telah menerima agunan bahwa keamanan Polandia tidak bakal terdampak.
"Saya menerima agunan bahwa keputusan ini berkarakter logistik dan tidak bakal secara langsung mempengaruhi keahlian pertahanan maupun keamanan kami," kata Tusk dalam konvensi pers Jumat waktu setempat.
Pemerintahan Presiden Donald Trump memang tengah meninjau ulang kehadiran militernya di Eropa. Trump selama ini mendesak negara-negara NATO agar mengambil porsi lebih besar dalam pembiayaan dan pertahanan area Eropa.
Ketegangan juga meningkat setelah sejumlah negara Eropa tidak ikut mendukung operasi militer AS terhadap Iran. Trump apalagi dikabarkan sempat bersitegang dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz mengenai rumor tersebut.
Senator Partai Demokrat Jeanne Shaheen mengatakan, keputusan pembatalan pengerahan pasukan ke Polandia tampaknya mengejutkan Kongres AS.
"Sejauh nan saya tahu, kami tidak diberi pemberitahuan mengenai perihal itu," ujarnya. Sebelumnya, pejabat senior AS mengatakan pengurangan pasukan di Jerman bakal mengembalikan jumlah tentara AS di Eropa ke level sebelum tahun 2022, sebelum invasi Rusia ke Ukraina mendorong peningkatan kekuatan militer pada era Presiden Joe Biden.
Langkah terbaru Washington ini juga terjadi ketika AS semakin menekan negara-negara Eropa untuk meningkatkan shopping pertahanan mereka sendiri. Washington menilai ketergantungan berlebihan terhadap militer AS membikin sebagian negara Eropa mengabaikan penguatan pasukan domestiknya.
Reuters sebelumnya juga melaporkan adanya email internal Pentagon nan membahas opsi balasan terhadap sekutu NATO nan dianggap tidak mendukung operasi AS dalam perang Iran. Salah satu opsinya mencakup penangguhan posisi Spanyol di NATO hingga peninjauan support AS terhadap klaim Inggris atas Kepulauan Falkland.
Pada akhir tahun lalu, jumlah tentara AS di Eropa tercatat sekitar 85.000 personel. Namun patokan dalam National Defense Authorization Act (NDAA) melarang jumlah tersebut turun di bawah 76.000 tanpa konsultasi dengan sekutu NATO serta kajian akibat terhadap keamanan AS dan keahlian menghadapi agresi Rusia.
(mkh/mkh)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·