Alami Krisis Percaya Diri, Gen Z Butuh Bantuan AI untuk Mulai Mengobrol di Aplikasi Kencan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Alami Krisis Percaya Diri, Gen Z Butuh Bantuan AI untuk Mulai Mengobrol di Aplikasi Kencan Ilustrasi(Magnific)

GENERASI Z (Gen Z) nan berumur 20-an tahun disebut sangat menginginkan cinta, namun mereka mengalami krisis kepercayaan diri untuk memulai obrolan di aplikasi kencan. Fakta ini diungkapkan oleh Jackie Jantos, ketua aplikasi kencan Hinge. Menurut Jantos, berkurangnya hubungan langsung secara tatap muka menjadi pemicu utama kekhawatiran sosial ini.

"Mereka betul-betul menginginkan cinta," kata Jantos kepada BBC, namun "kesulitan mempunyai rasa percaya diri untuk menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya."

Menjawab tantangan tersebut, Hinge meluncurkan fitur berbasis kecerdasan buatan (AI) nan dapat meninjau profil dan menyarankan pemantik obrolan (prompts). Jantos memihak fitur ini dengan menegaskan bahwa AI tidak datang untuk menggantikan keaslian pengguna.

"Ini bukan tentang menuliskan kata-kata untuk Anda, tetapi membantu Anda mengekspresikan siapa diri Anda," ujarnya.

Dampak Pandemi dan Minimnya Interaksi Langsung

Jantos, nan berumur 47 tahun, menjelaskan bahwa Gen Z sekarang menghabiskan sekitar 1.000 jam lebih sedikit per tahun untuk berinteraksi langsung dengan orang lain dibandingkan golongan usia nan sama dua dasawarsa lalu. Angka ini setara dengan lebih dari dua jam sehari nan dihabiskan sendirian berbareng ponsel.

Akibatnya, nyaris separuh Gen Z di Inggris sekarang merasa kesenyapan "sering alias selalu." Pandemi Covid-19 juga dinilai memotong tahun-tahun krusial bagi mereka untuk belajar bersosialisasi secara langsung.

"Tahun-tahun ketika Anda bereksperimen tentang gimana Anda tampil secara langsung di hadapan orang lain, gimana Anda merayu, gimana Anda memikirkan keintiman, perihal itu terganggu bagi banyak orang," jelas Jantos.

Tren Dating App Burnout dan Pergeseran Budaya

Meskipun beberapa master hubungan memperingatkan adanya kejadian dating app burnout (kelelahan menggunakan aplikasi kencan), pengguna Hinge di Inggris justru terus tumbuh. Berdasarkan info Ipsos iris hingga Mei 2025, pengguna Hinge naik dari 1,4 juta menjadi 1,5 juta dalam setahun. Sebaliknya, penonton Tinder justru merosot dari 1,9 juta ke 1,5 juta, membikin posisi Hinge sekarang menempel ketat kekuasaan Tinder.

Dr. Carolina Bandinelli, guru besar asosiasi dari University of Warwick, sepakat bahwa pandemi mengubah lanskap kencan. Namun, dia menilai euforia aplikasi kencan mulai meredup lantaran tidak sesuai janji awalnya.

"Ada kesan bahwa aplikasi kencan [sekarang] adalah satu-satunya langkah untuk berjumpa orang," kata Bandinelli. Namun, "Anda tidak betul-betul memilih, Anda lebih banyak menebak. Kurangnya isyarat sosial membuatnya menjadi sangat sulit."

Selain aspek aplikasi, perubahan style hidup juga berpengaruh. Siobhan Copland, pendiri jasa biro jodoh Cupid in the City, memandang perbedaan besar pada Gen Z adalah mereka mulai meninggalkan budaya minum-minum di bar. "Mereka lebih memilih berada di gym pada Jumat malam daripada di bar," pungkas Copland. (BBC/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia