Jakarta -
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mengatakan tingkat aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) tetap di bawah 10 persen. Pihaknya menargetkan aktivasi IKD tersebut mencapai 20 persen tahun ini.
Hal itu disampaikan Bima Arya dalam Rapat Kerja dengan Komisi II DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/4/2026). Bima menyebut perekaman KTP elektronik di RI sudah di nomor 98 persen.
"Penduduk kita sekarang ini dari info terakhir 288.315.089 jiwa Ketua. Jumlah wanita dan laki-laki sangat tipis. Ini nggak, jika kita lihat trennya memang dari masa ke masa seperti ini beda tipis saja antara wanita dan laki-laki. Kemudian kita sudah sukses untuk melakukan perekaman KTP-el ini nyaris 98%," kata Bima Arya dalam rapat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, persoalan blanko KTP nan masif ditemui pada 2023 sekarang sudah teratasi. Bima Arya menyebut sudah tidak ada lagi kelangkaan blanko KTP di daerah.
"Kemudian blanko nan tadinya penuh dengan persoalan sebelum tahun 2023 begitu ya. Nah sekarang ketika sistem lelangnya sudah diterapkan ya dan kita beranjak dari sistem lelang ke e-katalog. Kemudian juga anggaran dari pusat saya kira menjadi lebih signifikan maka nyaris tidak ditemui lagi kelangkaan blanko KTP di daerah-daerah," kata Bima Arya.
"Beberapa tahun lampau sebelum 2022 agak banyak daerah-daerah nan tetap krisis blangko KTP. Kami sendiri berkeliling ke daerah, Dukcapil selalu memastikan bahwa blangko ini cukup stoknya begitu," tambahnya.
Ia lantas menyinggung aktivasi IKD tetap di bawah 10 persen. Ia menilai penggunaan aplikasi IKD ini tetap rendah lantaran tak ada kebijakan nan mengharuskan penggunaan tersebut, seperti di era Covid nan mewajibkan aplikasi PeduliLindungi.
"Kemudian aktivasi IKD, IKD ini tetap di bawah 10 persen aktivasi IKD ini. Kendalanya ya tentu lantaran seluruh rakyat belum mengalami insentif untuk menggunakan itu. Jadi jika dulu era COVID kan kita punya PeduliLindungi nan jika tidak punya itu maka kita tidak bisa kemana-mana. Nah jadi IKD kita belum ke sana," ujar Bima Arya.
Bima Arya mengatakan nantinya bakal ada verifikasi nan menerapkan liveness detection alias teknologi biometrik keaktifan. Data nan dikirimkan pun bisa dipastikan tak tiruan dan bukan robot.
"Tahun ini kita bakal menerapkan liveness detection. Ya jadi agar semuanya bisa dikonfirmasi ketika membikin KTP, ketika membikin IKD itu betul-betul orangnya. Jadi tidak robot, bukan fake begitu. Ini teknologi liveness detection, jadi langsung selfie dan kemudian terkonfirmasi bahwa itu bukan fake, bukan palsu, dan bukan robot," ujarnya.
"Itu mulai tahun ini. Dan artinya jika liveness detection ini kemudian melangkah dengan baik, maka aktivasi IKD bakal melonjak. Ya targetnya tahun ini 20% ya Pak Teguh ya? 20% gitu," lajut Bima Arya.
(dwr/eva)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·