Aksi Nyentrik ‘Tong Sampah’ di CFD Rasuna Said: Ajak Warga Belajar Pilah Sampah

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Komunitas IKJ-Mime berkostum 'Tong Sampah' saat CFD di area Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (10/5/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Suasana Car Free Day (CFD) di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, tak hanya dipenuhi penduduk nan berolahraga dan melangkah santai. Di antara keramaian, sekelompok anak muda dengan kostum nyentrik menarik perhatian visitor nan datang.

Mereka mengenakan busana warna-warni dengan kombinasi hijau, merah muda, kuning, ungu, dan beragam warna lainnya. Sebagian memakai topi unik warna-warni, sementara lainnya tampil dengan rambut kribo. Wajah mereka dicat putih dengan tambahan perona pipi merah tebal serta alis nan dibentuk mencolok.

Dari golongan tersebut, dua orang apalagi tampil dengan kostum menyerupai tong sampah. Mereka masuk ke dalam boks bercap “organik” dan “anorganik”. Sementara nan lainnya menggantungkan beragam jenis sampah sebagai properti, mulai dari botol plastik hingga limbah organik seperti batok kelapa.

Aksi ini merupakan bagian dari pagelaran organisasi IKJ Mime nan diundang untuk mengisi aktivitas CFD sekaligus Deklarasi Gerakan Pilah Sampah di area Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (10/5).

“Kita dari organisasi IKJ Mime, kumpulan anak-anak IKJ, diundang oleh tim Gubernur (Pramono Anung) untuk meramaikan, untuk berekspresi. Jadi kita di sini tuh ada pilah sampah,” kata salah satu personil mereka, Ahmad.

Siswa memasukan sampah kedalam kotak sampah pilah saat aktivitas pengelolaan bank sampah di SD Negeri Kedunglumbu, Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah, Jumat (8/5/2026). Foto: Mohammad Ayudha/ANTARA FOTO

Menurut Ahmad, konsep pagelaran ini dibuat untuk membantu masyarakat memahami jenis-jenis sampah melalui pendekatan nan ringan dan menghibur.

“Kita buat aktivasi buat anak mini terutama ya. Kita kasih sampah jenisnya misal organik, ya kan ya. Dia kelak pilih mana, pasti kelak kita kasih tahu. Kalau misal dia nan kuning berfaedah bukan nan itu. Kita bilang “no no no no”. Kalau pas nan hijau baru kita “yeah” berfaedah dia benar. Ngasih tahu kayak gitu aja tapi dalam bungkusan happy, intermezo gitu,” jelasnya.

Anggota lainnya, Udin, menambahkan pesan utama dari tindakan tersebut adalah menyederhanakan proses memilah sampah agar lebih mudah dilakukan masyarakat.

“Kalau pesannya mungkin, jadi buang sampah itu tidak dibikin sulit. Jadi dengan keberadaan kita kayak gini nih itu kita coba untuk menghantarkan bahwa memilah sampah itu nggak sulit, memilah sampah itu gampang. Bahkan, makanya kita membentuk diri kita ini jadi tong sampah. Kurang lebih sih pesannya itu sih,” kata dia.

Menjalani peran sebagai ‘tong sampah’, para peserta mengaku mendapatkan pengalaman baru dalam memahami pentingnya pengelolaan sampah.

Komunitas IKJ-Mime berkostum 'Tong Sampah' saat CFD di area Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (10/5/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

“Oh, kita makin percaya jika misalnya makin menghargai tong sampah lantaran jadi tong sampah itu nggak mudah, capek ternyata. Dan kita kudu menghargai, ya itu dengan buang sampah pada tempatnya gitu,” ujar Ahmad.

Aksi ini juga menjadi bagian dari support terhadap program pemerintah wilayah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari sumbernya.

Sementara itu, Udin menambahkan, selama tindakan berlangsung, tetap banyak visitor nan belum memahami perbedaan jenis sampah organik dan anorganik.

“Menginfokan ke orang-orang bahwa banyak juga tadi nan salah, begitu kita kasih sampah non-organik mereka masukinnya ke nan organik. Akhirnya kita kasih info dan mereka juga baru tahu. Banyak sih tadi nan belum begitu paham,” ujarnya.

Aksi imajinatif tersebut diharapkan dapat menjadi langkah pengganti dalam meningkatkan kesadaran penduduk mengenai pentingnya memilah sampah dari sumbernya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan