Aksi jual obligasi dunia semakin meluas seiring kebuntuan perang di Iran nan mendorong kenaikan harga minyak, memicu kekhawatiran inflasi, dan meningkatkan spekulasi bank sentral tetap kudu terus memperketat kebijakan moneternya.
Mengutip Bloomberg pada Senin (18/5), obligasi pemerintah AS alias Treasury melemah di seluruh tenor, dengan imbal hasil obligasi 30 tahun naik ke level tertinggi dalam nyaris tiga tahun akibat kekhawatiran investor terhadap percepatan inflasi.
Imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun melonjak 10 pedoman poin ke level tertinggi sejak 1996, sementara yield obligasi 30 tahun Jepang naik 20 pedoman poin ke posisi tertinggi sejak pertama kali diterbitkan pada 1999. Obligasi di Australia dan Selandia Baru juga ikut turun.
Seiring lonjakan imbal hasil obligasi, pasar saham memperpanjang pelemahan dari level rekor tertinggi. Saham Asia turun 0,8 persen, meski indeks Kospi Korea Selatan nan menjadi indeks berkinerja terbaik bumi tahun ini sukses berbalik naik 1 persen setelah saham Samsung Electronics Co. pulih dari penurunan sebelumnya.
Kontrak berjangka indeks saham juga mengindikasikan pelemahan lebih lanjut di Eropa dan AS. Dolar AS, nan menjadi aset safe haven pilihan selama bentrok Timur Tengah, menguat untuk hari keenam berturut-turut.
Sentimen pasar turut tertekan setelah minyak Brent naik sekitar 2 persen menjadi di atas USD 111 per barel, setelah melonjak nyaris 8 persen pekan lalu, di tengah belum adanya kemajuan untuk membuka kembali Selat Hormuz nan vital.
Presiden AS Donald Trump juga mengatakan waktu terus melangkah bagi Iran untuk mencapai kesepakatan.
Gejolak pasar pada Senin (18/5) mengikuti tindakan jual saham dan obligasi pada Jumat (15/5) lalu, ketika kekhawatiran meningkat bahwa penutupan efektif Selat Hormuz bakal menjaga nilai minyak tetap tinggi, memicu inflasi, dan membikin bank sentral mempertahankan suku kembang tinggi lebih lama.
Salah satu konsentrasi utama penanammodal pekan ini adalah laporan finansial Nvidia Corp., setelah selama berbulan-bulan pasar saham mengabaikan meningkatnya akibat makroekonomi lantaran optimisme bahwa shopping besar-besaran untuk pengembangan AI bakal mendorong pertumbuhan untung perusahaan.
“Kekhawatiran inflasi telah mencengkeram pasar obligasi global,” kata Chief Asia Economist HSBC, Frederic Neumann.
Perhatian pasar sekarang tertuju pada pasar obligasi, terutama perubahan ekspektasi terhadap Federal Reserve. Para trader sekarang memandang kenaikan suku kembang nyaris pasti terjadi pada Maret, menandai perubahan besar narasi pasar obligasi sejak akhir Februari ketika pasar justru memperkirakan dua kali pemangkasan suku kembang seperempat poin pada 2026.
Menurut Yardeni Research, The Fed perlu segera menyesuaikan kebijakannya dengan pasar obligasi alias berisiko kehilangan kendali atas biaya pinjaman di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi.
“Kami memperkirakan The Fed bakal mempertahankan suku kembang pada pertemuan Juni dan beranjak ke sikap kebijakan nan lebih ketat,” tulis Ed Yardeni.
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·