Pekerja mengemas keripik Kepompong di industri makanan ringan rumahan Desa Mento, Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah, Senin (20/7/2026). Pemerintah melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sejak 2017 sampai Juni 2026 telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp(Antara/Anis Efizudin)
PRODUKTIVITAS dan daya saing upaya mikro, kecil, dan menengah alias UMKM mengalami peningkatan seiring semakin luasnya akses mereka dalam memperoleh pembiayaan inklusif.
"Kami terus memperkuat kebijakan dan program melalui pengembangan ekosistem pembiayaan, literasi dan inklusi keuangan, penguatan kapasitas UMKM, serta pelindungan konsumen," kata Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan UMKM dan Keuangan Syariah OJK Ayahandayani K di Jakarta Selasa (28/7).
Pertumbuhan angsuran perbankan pada Juni 2026 tercatat mencapai 12,67% year on year (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 11,51% yoy. Hal itu terutama didukung angsuran investasi 24,90% yoy.
Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan angsuran tahun ini terjaga di kisaran 8%-12% seiring besarnya akomodasi pinjaman nan belum digunakan sebesar Rp2.490 triliun alias 21,52% dari plafon angsuran nan tersedia. Dari sisi penawaran, minat penyaluran angsuran juga tetap lenggang didukung tingginya pertumbuhan biaya pihak ketiga 10,21% yoy.
Pengamat ekonomi Josua Pardede mengemukakan perbankan tetap mempunyai ruang untuk membiayai sektor-sektor nan memberikan nilai tambah lebih tinggi di tengah tren pertumbuhan angsuran nan positif dan didukung percepatan digitalisasi UMKM.
"Khususnya industri pengolahan, angsuran UMKM diharapkan dapat terus didorong melalui sinergi penerapan Peraturan OJK mengenai angsuran UMKM, insentif likuiditas kebijakan BI, dan prioritas pemerintah nan disesuaikan kebutuhan pasar perbankan. Terjaganya stabilitas parameter perbankan sehingga turut mendukung pembiayaan produktif UMKM. Modal kerja menjadi prasyarat pertumbuhan inklusif ke depan," ujar Josua.
Indikator Tumbuhnya Kapasitas
Dalam penilaian Direktur PT Bank BTPN Syariah Tbk Fachmy Achmad, di usianya nan ke-12 tahun, pihaknya terus memperkuat posisi sebagai bank syariah dengan konsentrasi segmen ultramikro. Kinerja bank ditopang kualitas pembiayaan sehat, mencerminkan perilaku unggul pengguna dalam mengelola usaha, dan efektivitas pendampingan secara konsisten.
"Di semester pertama 2026, kami membukukan untung bersih Rp655 miliar. Aset mencapai Rp23 triliun alias tumbuh 8% secara YoY. Sementara penyaluran pembiayaan mencapai Rp11 triliun, tumbuh 9% YoY dengan rasio finansial tetap solid tecermin dari return on asset 7,2% dan capital adequacy ratio 58,7%," ungkap Fachmy.
Kualitas pembiayaan bank, Fachmy menambahkan, tidak hanya mencerminkan kesehatan upaya perbankan tetapi juga menjadi parameter tumbuhnya kapabilitas dan daya tahan nasabah. "Dalam 12 tahun terakhir, kami memberikan akses finansial sekaligus pendampingan bagi segmen ultramikro untuk mengembangkan usaha. Pendampingan nan dilakukan agar bisa memperkuat dalam beragam situasi," tambah Fachmy.
Pada saat nan sama, bank juga membuka ruang pertumbuhan baru pada pengembangan pembiayaan nonkomunitas sebagai bagian dari strategi jangka panjang, seperti pinjaman perseorangan dan pinjaman kepada lembaga nonkeuangan. Melalui ekspansi segmen pembiayaan ini, bank berupaya memperkuat fondasi bisnis, membuka kesempatan pertumbuhan baru dan berkelanjutan, serta menciptakan nilai lebih besar bagi semua pemangku kepentingan. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·