Akademik, Elite, dan Industri: Sejarah Fungsi Perguruan Tinggi dari Masa ke Masa

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Jalan Pancasila, Universitas Gadjah Mada (Sumber: arsip pribadi)

Perguruan tinggi adalah lembaga pendidikan tinggi bagi pelajar nan mau melanjutkan studi setelah SMA/SMK alias sederajat. Biasanya, seorang pelajar memilih melanjutkan studi di jenjang tinggi bukan untuk mempelajari ilmunya saja. Ada motivasi lain nan dapat dianggap memberikan insentif lebih besar untuk melanjutkan studi di jenjang tinggi, seperti kemauan untuk bekerja di industri tertentu alias kemauan untuk masuk dalam pemerintahan.

Motivasi ini muncul lantaran beberapa industri memerlukan tenaga kerja dengan skill unik nan hanya bisa didapat dengan menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Sebagai contoh, industri mesin memerlukan lulusan fakultas teknik alias industri kesehatan memerlukan lulusan fakultas kedokteran dan keperawatan. Hal nan sama juga bertindak bagi pemerintahan.

Pemerintah memerlukan pegawai dengan skill unik untuk mengelola beragam bagian pemerintahan. Sebagai contoh, Kementerian Keuangan memerlukan lulusan fakultas ekonomi dan bisnis, Kementerian Hukum memerlukan lulusan fakultas hukum, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa kegunaan perguruan tinggi tidak hanya berkarakter akademik. Dalam sejarah, perguruan tinggi mendapatkan tambahan kegunaan sampingan seiring berjalannya waktu.

Ketika Perguruan Tinggi Masih Murni untuk Fungsi Akademik

Sebelum adanya istilah “universitas” dan lembaga “perguruan tinggi” dalam konteks modern, beberapa peradaban sudah mempunyai pendidikan tinggi nan dapat dibilang setara dengan universitas di era sekarang. Pendidikan tinggi pada awalnya hanya mempunyai satu fungsi, ialah tempat mencari ilmu. Contohnya dapat dilihat dalam sejarah Akademi Plato dan Mahawihara Nalanda.

Akademi Plato, nan berjulukan original Akademia, berdiri di Athena, Yunani Kuno pada tahun 387 Sebelum Masehi (SM). Berdasarkan tulisan mengenai sejarah singkat Akademi Plato nan ditulis oleh David Fideler (2021) untuk organisasi Plato’s Academy Centre yang berjudul "David Fideler: A Short History of Plato’s Academy", filsuf Yunani Kuno, Plato, mendirikan Akademia untuk mengajari murid-muridnya langkah berpikir (filsafat) dengan dialektika dan penyelidikan kooperatif.

Menurut Plato, makulat dapat membikin orang memahami keindahan, kebenaran, dan kebajikan. Plato berambisi bahwa suatu saat ketika murid-muridnya menjadi negarawan, mereka dapat mengelola pemerintahan dengan baik menggunakan pemikiran pengetahuan nan mereka pelajari dari filsafat, nan nantinya bakal memberikan faedah kepada masyarakat. Akademia akhirnya tutup pada tahun 86 SM ketika Athena dikuasai oleh Romawi.

Mahawihara Nalanda berdiri di Nalanda, India (Kemaharajaan Gupta kala itu) pada tahun 427 Masehi (M) dan merupakan universitas residensial pertama dalam sejarah. Menurut sebuah tulisan BBC oleh Sugato Mukherjee (2023) nan berjudul “Nalanda: The university that changed the world”, Mahawihara Nalanda mengajarkan pengetahuan kedokteran, matematika, astronomi, filsafat, dan pengetahuan kepercayaan Buddha.

Universitas ini merupakan pusat pendidikan Buddha Mahayana bumi pada masanya dan pernah mempunyai 10.000 pelajar dari mancanegara. Selain menarik pelajar dari mancanegara, Mahawihara Nalanda juga mengirim sejumlah akademisinya ke Tiongkok, Korea, Jepang, Sri Lanka, dan Indonesia untuk menyebarkan aliran kepercayaan Buddha dan pengetahuan makulat di Asia (Mukherjee, 2023). Mahawihara Nalanda tutup pada akhir abad ke-12 M ketika wilayah Nalanda dikuasai oleh Dinasti Ghuriyah, tetapi buka kembali sebagai universitas modern pada tahun 2010 dengan nama “Universitas Nalanda”.

Ketika Perguruan Tinggi Menjadi Prasarana untuk Kepentingan Politik Kaum Elite

Walaupun perguruan tinggi memang tempat untuk mencari ilmu, Gavan Butler (2007) dalam artikelnya nan berjudul “Higher Education: Its Evolution and Present Trend” menulis bahwa perguruan tinggi mempunyai kegunaan lain sebagai prasarana bagi kaum elite untuk mempertahankan kekuasaannya dan menciptakan kaum elite baru. Noam Yuchtman (2025) dalam artikelnya nan berjudul “Universities and the Contested Creation of the Elite” menyatakan bahwa lembaga pendidikan di seluruh bumi selama ratusan tahun telah berfaedah sebagai pusat krusial dalam pembentukan kaum elite, memainkan peran dalam seleksi perseorangan elite, membentuk modal manusia kaum elite, serta mentransmisikan ideologi kaum elite nan berkuasa. Contoh ketika perguruan tinggi digunakan untuk kepentingan politik kaum elite dapat dilihat dari sejarah perguruan-perguruan tinggi di Inggris, Prancis, dan Jepang.

Universitas Oxford dan Universitas Cambridge di Inggris, nan keduanya merupakan bagian dari universitas terbaik di dunia, awalnya berkarakter kegerejaan dan berkedudukan besar dalam support propaganda pada saat Perang Seratus Tahun (1337-1453) antara Inggris dan Prancis (Butler, 2007). Pada akhir abad ke-19, Universitas Cambridge dan Universitas Oxford mulai berubah untuk mengajar dengan model “pendidikan liberal” nan bermaksud untuk mempersiapkan para pemuda dalam mengelola pemerintahan di koloni-koloni Inggris alias membentuk elite politik dan administratif nan bisa mengelola Kekaisaran Inggris (Wittrock, 1993, dalam Butler, 2007).

Pasca-Revolusi Prancis pada tahun 1794, pemerintahan revolusioner Prancis mendirikan Grandes Écoles (sekolah besar), perguruan tinggi nan bermaksud untuk melatih rakyat Prancis dalam melanjutkan revolusi. Pendirian Grandes Écoles juga digunakan oleh pemimpin Prancis masa itu, Napoleon Bonaparte, untuk menyusun ulang struktur hierarkis lembaga akademik di Prancis dengan prinsip indoktrinasi agar sistem pendidikan tersusun dan sesuai dengan kepentingan negara. Struktur lembaga akademik buatan Napoleon tetap digunakan oleh rezim penerusnya hingga akhirnya diubah ketika didirikannya Republik Prancis Ketiga pada tahun 1870 (Butler, 2007).

Pada awal era Meiji, ialah akhir abad ke-19, pemerintah Jepang mulai menggunakan pendidikan, terutama perguruan tinggi untuk mempropagandakan masyarakat dan membina kaum elite. Pada masa ini, kaum elite diminta oleh pemerintah Jepang untuk merahasiakan pengetahuan pengetahuan non-teknis dari masyarakat. Selain itu, pemerintah Jepang juga meminta para akademisi untuk membina kaum elite.

Akademisi nan tidak mengikuti permintaan pemerintah diberikan balasan perseorangan nan berat, sehingga para akademisi tidak punya pilihan lain selain mengikuti permintaan pemerintah (Butler, 2007). Tindakan ini menyebabkan naiknya ideologi fasisme di Jepang, nan nantinya dimanfaatkan oleh pemerintah Jepang untuk mendapat support rakyat untuk bertempur dan memperluas wilayah Jepang pada saat Perang Dunia Kedua.

Ketika Perguruan Tinggi Mulai Mengikuti Permintaan Industri dan Pasar

Dimulainya Revolusi Industri Pertama pada pertengahan abad ke-18 menyebabkan perubahan besar pada ekonomi industri. Metode produksi baru dengan menggunakan mesin uap industri menyebabkan penurunan nilai operasional dan waktu nan dibutuhkan untuk memproduksi suatu produk. Selain itu, pabrik-pabrik nan dulunya kudu dibangun di tepi sungai untuk mendapat tenaga dari arus sungai sekarang dapat dibangun di mana pun lantaran sudah dapat ditenagai oleh mesin uap industri.

Dengan meningkatnya jumlah pabrik nan dibangun, permintaan terhadap produk hasil tambang seperti besi sebagai bahan baku mesin dan batu bara sebagai bahan bakar mesin uap juga meningkat. Akibatnya, jumlah pertambangan juga meningkat untuk memenuhi permintaan tersebut. Peningkatan jumlah pabrik dan pertambangan pun menyebabkan kenaikan permintaan terhadap tenaga kerja.

Selain ekonomi industri, Revolusi Industri Pertama juga membawa perubahan besar pada pendidikan, terutama perguruan tinggi. Selain tenaga kerja bentuk untuk memproduksi peralatan dan menambang, peningkatan jumlah pabrik dan tambang juga meningkatkan permintaan terhadap tenaga terdidik.

Contoh tenaga kerja terdidik ini adalah insinyur teknik untuk membikin mesin industri, insinyur pertambangan untuk membuka tambang baru, manajer untuk mengelola pabrik dan tambang, mahir finansial untuk mengelola finansial perusahaan, pengacara untuk mengurusi persoalan legal perusahaan seperti kewenangan tanah, master untuk menjaga kesehatan pekerja-pekerja bentuk pabrik dan tambang, dan lain-lain.

Berbagai macam permintaan terhadap tenaga kerja nan berbeda-beda ini membentuk apa nan disebut sebagai pasar tenaga kerja. Oleh lantaran itu, perguruan-perguruan tinggi diminta untuk menghasilkan lebih banyak lulusan nan mempunyai skill nan dibutuhkan pasar. Dalam tulisan nan berjudul “The Neoliberal Transformation of Universities: A Critical Assessment of Academic Capitalism, Academic Autonomy and the Production of Scientific Knowledge” oleh Ebru Eren (2025), perihal ini disebut sebagai marketisasi universitas, ialah transformasi lembaga pendidikan tinggi menjadi entitas nan berorientasi pasar. Marketisasi perguruan tinggi tidak berakhir setelah masa Revolusi Industri Pertama (1760-1840), melainkan terus bersambung pada periode-periode berikutnya.

Dalam tulisan UPCEA (University Professional and Continuing Education Association) oleh Ray Schroeder (2024) nan berjudul “Higher Education and the Four Industrial Revolutions”, perguruan tinggi di Amerika Serikat sebelum Revolusi Industri Pertama lebih mengutamakan pembentukan individu-individu terdidik nan bakal menjadi menteri dan pemimpin sipil.

Setelah Revolusi Industri Pertama, tujuan perguruan tinggi diperluas untuk menghasilkan individu-individu terdidik nan bakal memimpin industri dan bisnis. Jurusan-jurusan baru seperti teknik dan manajemen upaya untuk program sarjana dan pascasarjana muncul untuk pertama kalinya di Amerika Serikat (Schroeder, 2024).

Hal nan serupa juga terjadi di Inggris. Pada akhir abad ke-19, mulai bermunculan sejumlah universitas sipil di kota-kota Inggris nan juga disebut sebagai “universitas bata merah” nan bermaksud untuk membekali para pemuda dengan keahlian nan dibutuhkan dalam upaya lokal (Trow, 1993, dalam Butler, 2007).

Pada akhir Perang Dunia Kedua, perguruan tinggi mulai mengalami perkembangan besar. Pendidikan tinggi diperluas dan aksesibilitas ke pendidikan tinggi mulai dipermudah sehingga kurang berjuntai pada pendapatan ataupun kelas sosial. Hal ini dilakukan lantaran dibutuhkan pekerja-pekerja nan bisa menggunakan beragam macam penemuan industri, nan nantinya bakal mendorong ekspansi industri pascaperang di seluruh bumi (Butler, 2007).

Kesimpulan

Perguruan tinggi memang merupakan lembaga akademik, tetapi fungsinya tidak hanya akademik. Dalam sejarah dan seiring berjalannya waktu, perguruan tinggi mendapatkan kegunaan tambahan, ialah menjadi prasarana bagi kaum elite untuk kepentingan politik mereka hingga menjadi produsen tenaga kerja bagi industri dan pasar. Meski begitu, kegunaan original perguruan tinggi sebagai lembaga akademik tetap merupakan kegunaan nan paling utama, dengan fungsi-fungsi tambahan nan disebutkan sebelumnya sebagai kegunaan sampingan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan