Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons nilai tukar rupiah nan sempat menyentuh Rp 17.300 per dolar AS.
Airlangga bakal memantau terus pergerakan nilai tukar rupiah. Ia menyebut pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya terjadi di Indonesia.
“Ya kita monitor saja, lantaran beragam mata duit di regional juga bergejolak,” kata Airlangga saat ditemui usai konvensi pers di Kantor Kementerian Investasi, Jakarta Selatan, Kamis (23/4).
Menurutnya, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh dinamika global. Meski begitu, Airlangga menegaskan tidak bakal bersikap reaktif terhadap pergerakan harian nilai tukar rupiah.
“Ya kan itu (penyebabnya) lihat gejolak global. Nanti kita monitor saja dan itu BI (Bank Indonesia) tugasnya menjaga (stabilitas rupiah),” tutur Airlangga.
BI Perkuat Intervensi Jaga Stabilitas Rupiah
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengatakan tekanan terhadap rupiah dinilai tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan pelemahan mata duit di kawasan. Kondisi global, termasuk eskalasi bentrok geopolitik dan sentimen pasar finansial internasional, tetap menjadi aspek utama nan membebani pergerakan rupiah.
“Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian dunia nan juga menekan mata duit regional. Pergerakan rupiah tetap sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year to date sebesar 3,54 persen,” kata Destry dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4).
Di tengah tekanan tersebut, Destry memastikan BI terus mengintensifkan langkah stabilisasi. Upaya ini dilakukan untuk menjaga daya tarik aset domestik, sekaligus meredam volatilitas di pasar keuangan.
“Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku kembang instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya akibat bentrok Timur Tengah," terang Destry.
"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. Cadangan devisa juga tetap kuat sebesar USD 148,2 miliar pada akhir Maret 2026,” tambahnya.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·