Ahli Amerika Sebut RI Cocok Kembangkan Nuklir, Tapi Ini Bentuknya

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia dinilai mempunyai karakter nan sangat cocok untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir berbasis reaktor modular mini atau Small Modular Reactor (SMR). Teknologi ini dinilai bisa menjawab tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kebutuhan listrik nan tersebar di beragam wilayah.

"Kami memandang SMR menawarkan kesempatan besar lantaran ukurannya lebih ringkas dan dapat ditempatkan di wilayah nan lebih terpencil alias letak dengan kebutuhan daya tinggi seperti area pertambangan," kata master daya nuklir asal Amerika Serikat (AS), Kelle Barfield, dalam obrolan Powering the Future: American Leadership in Clean Nuclear Energy di @america, dikutip Rabu (26/6/2026).

Menurut Barfield, salah satu tantangan terbesar Indonesia adalah memastikan pasokan listrik dapat menjangkau masyarakat di seluruh wilayah Nusantara. Dalam kondisi tersebut, SMR menjadi solusi menarik lantaran tidak memerlukan prasarana sebesar reaktor nuklir konvensional dan dapat melayani kebutuhan listrik secara lebih spesifik di beragam daerah.

Ia juga menilai kerja sama timbal kembali antara Indonesia dan Amerika Serikat dapat mempercepat pengembangan daya nuklir di Tanah Air. Sebab, sejumlah kreasi reaktor SMR asal AS telah melalui proses perizinan dan pertimbangan ketat oleh regulator nuklir Negeri Paman Sam sehingga dapat menjadi referensi bagi Indonesia.

"Indonesia bisa memanfaatkan kreasi dan proses nan sudah diverifikasi di negara nan mempunyai pengalaman panjang mengoperasikan pembangkit nuklir seperti Amerika Serikat. Selain itu, kerja sama ini juga membuka akses ke rantai pasok dan vendor-vendor nuklir AS," ujarnya.

Barfield menekankan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan nuklir bukanlah teknologi, melainkan kesiapan sumber daya manusia dan ekosistem pendukung. Karena itu, Indonesia diminta tidak menunggu seluruh keputusan final sebelum mulai membangun kapabilitas tenaga kerja, jaringan industri, hingga skema pembiayaan.

Dari sisi support teknis, Amerika Serikat disebut telah menjalankan sejumlah program support bagi Indonesia, salah satunya melalui program FIRST alias Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology. Program tersebut membantu negara mitra menentukan pilihan teknologi, letak pembangunan, hingga aspek pendukung lainnya dalam pengembangan SMR.

Terkait waktu pembangunan, Barfield mencontohkan proyek SMR BWRX-300 di Darlington, Kanada, nan saat ini sudah memasuki tahap konstruksi. Proyek tersebut ditargetkan mulai beraksi dalam sekitar tiga tahun, jauh lebih sigap dibanding pembangunan reaktor nuklir besar berkapasitas 1.000 hingga 1.500 megawatt nan umumnya memerlukan waktu lebih lama.

Ia juga optimistis minat perusahaan nuklir AS untuk berinvestasi di Indonesia bakal meningkat, terutama jika proyek-proyek nan sedang dijajaki saat ini menunjukkan hasil positif. Menurutnya, pengalaman kerja sama nan sukses dapat menjadi model nan diikuti perusahaan lain untuk masuk ke pasar Indonesia.

(tfa/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News