Agresi Israel ke Libanon Ancam Kesepakatan Damai AS-Iran

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Agresi Israel ke Libanon Ancam Kesepakatan Damai AS-Iran Ilustrasi(Antara)

Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala, menilai kesepakatan tenteram antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terancam sia-sia akibat agresi militer Israel ke Libanon. Meski penandatanganan Nota Kesepahaman (MOU) secara digital pada 17 Juni lampau membawa angan baru, tindakan militer Israel di Libanon Selatan dianggap menjadi ganjalan utama stabilitas di Timur Tengah.

“Meskipun AS dan Iran sudah menyetujui kesepakatan damai, prospeknya di Timur Tengah tetap diragukan lantaran Israel terus melakukan serangan militer ke Libanon. MOU AS-Iran itu bisa terganjal oleh tindakan agresi Israel,” ujar Djumala dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/6).

Mantan Duta Besar RI untuk Austria dan PBB ini menjelaskan bahwa MOU tersebut mempunyai tiga makna strategis. Pertama, menurunkan ketegangan Washington-Teheran nan merupakan sumber instabilitas kawasan. Kedua, memperkuat diplomasi sebagai sistem penyelesaian sengketa. Ketiga, mendorong stabilitas keamanan di area Teluk secara lebih luas.

Namun, optimisme tersebut sekarang menghadapi ujian serius. Serangan militer Israel di Libanon Selatan kembali terjadi hanya berselang dua hari setelah kesepakatan disetujui. Menurut Djumala, bagi Iran, agresi ini bukan sekadar ancaman terhadap sekutu, melainkan upaya sistematis untuk menghalang normalisasi hubungan Teheran-Washington.

“Eskalasi di Lebanon Selatan dapat memicu reaksi berantai. Iran mungkin menghadapi tekanan domestik untuk meningkatkan support pada golongan proksi, sementara AS berada di posisi susah antara menjaga komitmen MOU alias mempertahankan support strategis kepada Israel,” lanjut akademisi Hubungan Internasional FISIP Unpad tersebut.

Djumala menekankan bahwa keberhasilan perdamaian ini sangat berjuntai pada keahlian kedua pihak untuk menyelaraskan peredaan eskalasi di Selat Hormuz dengan penghentian agresi di Libanon. Ia mendesak Washington untuk lebih aktif menahan eskalasi militer Israel agar proses diplomasi tidak rusak.

“Perdamaian di Timur Tengah tidak bisa dibangun hanya melalui kesepakatan bilateral semata. Tanpa pengendalian eskalasi regional dan komitmen semua pihak, kesepakatan AS-Iran bakal sia-sia di tengah pusaran bentrok nan berkepanjangan,” pungkasnya. (*)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia