Agar Tak Ada yang Tertinggal Saat Bencana Datang

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Sementara itu, Sekretaris ULD BPBD NTB nan juga Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) NTB, Sri Sukarni, mengatakan golongan disabilitas sebenarnya telah mempunyai jaringan hingga tingkat desa. Jaringan tersebut kerap menjadi sumber info pertama ketika musibah terjadi sebelum laporan masuk ke pemerintah.

“Jadi ketika terjadi bencana, misalnya seperti nan ditanyakan tadi, ketika terjadi musibah banjir alias apa di desa, kita sudah komunikasi. Belum sampai ke BPBD, sudah sampai ke kami duluan,” ujar Sri.

Sebagai pengguna bangku roda, Sri menyebut tantangan nan dihadapi penyandang disabilitas saat musibah tidak berakhir pada proses evakuasi. Dia menyatakan bahwa sering kali nan diselamatkan hanya orangnya, sementara perangkat bantu seperti bangku roda alias tongkat justru tertinggal.

“Kadang kan ketika musibah itu, nan dibantu adalah orangnya saja, tetapi bangku roda dan perangkat bantu itu tertinggal. Jadi ketika di pengungsian, kami tidak bisa mengakses (beraktivitas),” kata Sri.

Ia juga menyoroti kebutuhan unik wanita disabilitas nan kerap luput dari perhatian saat masa tanggap darurat. Menurut Sri, saat musibah wanita penyandang disabilitas menghadapi kerentanan berlapis sehingga kebutuhan mereka perlu dipetakan sejak sebelum musibah terjadi.

Meski ULD baru berumur sekitar satu tahun, Sri optimistis organisasi nan menghimpun 10 organisasi disabilitas tersebut bakal terus berkembang. Baginya, perjalanan membangun sistem kebencanaan nan inklusif memang tetap panjang, tetapi langkah awal sudah dimulai.

“Ini adalah SDM kami nan bakal membikin ULD ini kelak berkembang, nan bakal membikin ULD ini insyaallah bakal maju ke depan dalam tahun-tahun nan bakal datang. Gitu, seperti bayi nan baru belajar merangkak, lampau berlari, dan dewasa,” kata Sri.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita