Afrika Jadi Pasar Baru Mobil China, Chery Akuisisi Pabrik Nissan di Afsel

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Ilustrasi Chery. Foto: Dima Plotnikov/Shutterstock

Produsen otomotif China, Chery, mengakuisisi jejak pabrik Nissan di Rosslyn, dekat Pretoria, Afrika Selatan. Chery berencana memproduksi kendaraan plug-in hybrid, kendaraan listrik berbasis baterai (EV), serta model-model dari merek Jetour di akomodasi tersebut.

Perusahaan tersebut semakin gencar mengalihkan strategi dari mengekspor kendaraan menjadi membangun akomodasi produksi di Afrika.

Langkah ini juga didorong kepercayaan bahwa urbanisasi nan pesat, pertumbuhan kelas menengah, serta kebijakan pemerintah nan mendukung, bakal menjadikan Afrika sebagai salah satu pasar pertumbuhan bagi industri otomotif.

Strategi itu pun menjadi bagian dari upaya menghadapi perlambatan permintaan di pasar domestik China, serta meningkatnya halangan perdagangan di Eropa dan Amerika Utara.

Para analis menilai, pergeseran ini berpotensi mengubah industri otomotif Afrika dengan menciptakan lapangan kerja, mengembangkan rantai pasok lokal, dan mempercepat mengambil kendaraan listrik (EV). Namun, lemahnya prasarana dan ketidakpastian kebijakan tetap menjadi halangan nan signifikan.

Beijing Automotive Group (BAIC) telah mempunyai akomodasi manufaktur dan perakitan kendaraan di Gqeberha alias Port Elizabeth, Afrika Selatan. Sementara itu, Great Wall Motor dari China juga mempunyai kapabilitas perakitan lokal dan pengedaran komponen di negara tersebut.

“Afrika telah dikenal sebagai next frontier bagi pasar otomotif,” kata Direktur Eksekutif The Electric Mission, Hiten Parmar, dikutip dari AP News.

Mengunjungi akomodasi produksi Chery di Wuhu, Anhui, China, Kamis 9 Februari 2023. Foto: dok. Chery International

Transisi ke EV Semakin Cepat di Afrika

Para analis menilai Afrika Selatan, Maroko, Kenya, Ethiopia, dan Ghana merupakan sejumlah negara nan paling siap menarik investasi EV dari China. Sebab negara-negara itu mempunyai kapabilitas industri, kebijakan nan mendukung, alias prasarana kelistrikan nan terus berkembang.

Maroko juga diuntungkan oleh kedekatannya dengan pasar ekspor Eropa, sementara persediaan litium nan besar di Zimbabwe berpotensi mendukung rantai pasok baterai.

Manufaktur lokal pada akhirnya dapat menurunkan nilai kendaraan dengan menghindari bea masuk, sekaligus mendorong investasi pada prasarana pengisian daya, manufaktur komponen, dan produksi baterai. Gigafactory baterai berskala besar pertama di Afrika juga telah direncanakan dibangun di Maroko.

Urbanisasi nan pesat, peningkatan pendapatan, serta nilai merek-merek China nan relatif terjangkau memungkinkan produsen otomotif China merebut pasar nan secara historis didominasi oleh perusahaan-perusahaan asal Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat.

“Selama ini konsumen Afrika berjuntai pada mobil bekas, tetapi keterjangkauan merek-merek Asia memberikan akses nan lebih luas terhadap kendaraan baru,” ujar Parmar.

Sementara itu analis riset transisi daya di Zero Carbon Analytics, Nick Hedley, mengatakan pertumbuhan populasi Afrika nan pesat dan ekspansi kelas menengah menciptakan pasar alami bagi kendaraan listrik nan terjangkau. Hal itu juga dapat membantu pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.

“Afrika juga merupakan importir bersih bahan bakar olahan, nan menguras persediaan devisa serta membebani mata duit dan anggaran negara. Beralih ke mobil listrik nan diproduksi secara lokal merupakan kepentingan nasional negara-negara Afrika,” kata Hedley.

“Seiring kendaraan listrik menjadi semakin kompetitif dari sisi biaya, adopsinya bakal semakin sigap di Afrika, dan produsen otomotif China bakal mendapatkan keuntungan,” lanjut Hedley.

Pergeseran tersebut juga didorong oleh perubahan kondisi ekonomi di China. Managing Director CrossBoundary Group, Tombo Banda, mengatakan pabrik-pabrik China memproduksi lebih banyak kendaraan dibandingkan nan bisa diserap pasar domestik, sementara ekspor menghadapi semakin banyak hambatan.

“Melokalkan produksi di benua Afrika merupakan investasi jangka panjang nan masuk akal,” kata Banda.

Ia menilai, manufaktur lokal membantu perusahaan menghadapi tarif sekaligus menempatkan mereka lebih dekat dengan pasar nan berkembang pesat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan