Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan musim tandus di Indonesia berpotensi terjadi lebih lama lantaran intensitas El Nino tetap cukup kuat, meski beberapa wilayah sudah dilanda hujan.
Dalam laporan pemantauan suasana pada awal Oktober 2026, terlihat dari anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 nan mencapai +3,33°C serta indeks ENSO tiga bulanan periode Agustus-September-Oktober (ASO) sebesar +3,08.
Pada saat nan sama, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dasarian tercatat +0,703, relatif mendekati nilai indeks bulanan September sebesar +0,72.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa El Nino kategori sangat kuat dan IOD Positif tetap condong mengurangi potensi pembentukan awan hujan di wilayah indonesia," kata BMKG dalam siaran pers, dikutip Jumat (16/10/2026).
Kurangnya potensi hujan di wilayah Indonesia sejalan dengan kondisi lahan nan semakin kering di sejumlah daerah. Hal ini turut meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran rimba dan lahan (karhutla), terutama di wilayah dengan periode tanpa hujan nan panjang.
Berdasarkan hasil pemantauan pada 14 Oktober 2026, teridentifikasi 1.297 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sebaran terbanyak tercatat di Sumatra sebanyak 505 titik dan Kalimantan sebanyak 346 titik, disusul Papua dan Maluku sebanyak 330 titik. Sementara itu, Sulawesi terpantau mempunyai 66 titik, Nusa Tenggara 38 titik, dan Jawa 12 titik.
Pengamatan gambaran satelit Himawari pada 15 Oktober 2026 pukul 13.00 WIB juga memperlihatkan keberadaan asap nan menyebar di sebagian besar Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
"Sebaran titik panas dan asap tersebut menunjukkan bahwa potensi karhutla tetap menjadi perhatian, khususnya pada wilayah nan mengalami defisit hujan dan mempunyai kondisi vegetasi nan kering," terang BMKG.
Di tengah kondisi atmosfer nan tetap kering, suhu udara nan terasa panas mulai menjadi perbincangan masyarakat.
BMKG mencatat suhu udara maksimum di atas 37 derajat Celsius pada sebagian wilayah pada 12-13 Oktober 2026, ialah di Lampung nan mencapai 38,2 derajat Celsius, Papua Selatan dan Kalimantan Selatan 37,4 derajat Celsius, serta Jawa Barat dan Jawa Tengah nan mencapai 37,8 derajat Celsius.
Ada beberapa aspek nan menyebabkan suhu udara lebih tinggi, antara lain posisi semu mentari nan saat ini berada di selatan ekuator serta tutupan awan nan tetap minim.
Hal ini menyebabkan radiasi mentari mencapai permukaan bumi secara maksimal dan mengakibatkan suhu udara nan cukup tinggi di sebagian besar wilayah indonesia, khususnya bagian selatan.
Namun, BMKG menjelaskan potensi hujan lokal di beberapa wilayah tetap terjadi meski kondisi kering tetap cukup besar, lantaran adanya pengaruh dinamika atmosfer nan tetap memungkinkan terbentuknya awan hujan nan berpotensi menghasilkan hujan sedang hingga lebat di sebagian wilayah.
"Aktivitas MJO secara spasial berbareng dengan Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG) berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas konvektif, terutama di Sumatra bagian utara dan barat serta sebagian Kalimantan," ujar BMKG.
Kondisi tersebut juga didukung oleh perlambatan aliran angin di sejumlah wilayah dan suhu permukaan laut nan relatif hangat di perairan Indonesia bagian barat, sehingga menunjang pasokan uap air untuk pembentukan awan hujan.
Sejalan dengan kondisi tersebut, pada periode 13-15 Oktober 2026, BMKG mencatat curah hujan harian dengan kategori lebat hingga ekstrem di sejumlah wilayah, antara lain di Aceh 187 mm/hari, Papua Barat Daya 63 mm/hari, Sumatra Utara 95 mm/hari, dan Sumatra Barat 69 mm/hari.
"Hal ini menunjukkan bahwa potensi hujan l1signifikan tetap tetap ada di sebagian wilayah Indonesia meskipun wilayah nan lain condong kering dengan tutupan awan minim," jelas BMKG.
Potensi Cuaca Sepekan ke depan
Sekitar 76% Zona Musim (ZOM) di Indonesia tetap mengalami musim kemarau, terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi, sementara 8% telah memasuki musim hujan.
Kondisi ini berpotensi memperpanjang kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah nan tetap minim hujan, khususnya Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, serta Papua Selatan.
Meskipun curah hujan secara umum diperkirakan berada pada kategori rendah hingga menengah, hujan tetap berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Hal ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer nan dapat mendukung pembentukan awan hujan dalam waktu nan relatif singkat. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial diprakirakan aktif di sebagian Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara.
Berikut potensi cuaca di Indonesia dalam sepekan ke depan:
1. Periode 16 - 18 Oktober 2026
Hujan intensitas sedang meliputi Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Hujan intensitas lebat hingga sangat lebat meliputi Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Papua Barat Daya, dan Papua.
Hujan disertai angin kencang berpotensi terjadi di Lampung, Banten, dan Jawa Barat.
2. Periode 16 - 18 Oktober 2026
Hujan intensitas sedang meliputi Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Hujan intensitas lebat hingga sangat lebat disertai petir meliputi Aceh dan Sumatra Barat
Hujan disertai angin kencang berpotensi terjadi di Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, dan Papua Selatan.
BMKG mengimbau kepada masyarakat untuk terus mengantisipasi akibat cuaca panas dan kondisi udara nan lebih kering seiring musim tandus nan tetap berlangsung.
"Penggunaan tabir surya diperlukan guna mengurangi paparan langsung sinar matahari. Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kecukupan cairan tubuh terutama bagi nan beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan," tegas BMKG.
Seiring menguatnya kondisi kering, masyarakat dan pemerintah wilayah diimbau untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran rimba dan lahan.
"BMKG juga meminta masyarakat tidak membakar sampah alias membuka lahan secara sembarangan, terutama di area nan mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api," tegasnya lagi.
Sedangkan di wilayah nan berpotensi dilanda hujan lebat, BMKG mengimbau kepada masyarakat dan pemerintah wilayah untuk tetap mewaspadai potensi genangan, longsoran material, dan sambaran petir nan berpotensi mengikuti.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]
13 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·