Jakarta, CNBC Indonesia - Harapan berakhirnya perang antara Amerika Serikat dan Iran kembali menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman (MoU) menuju perjanjian tenteram dengan Teheran "sebagian besar telah dinegosiasikan". Keputusan baru bakal dibuat hari ini.
Dalam unggahan media sosial pada Sabtu waktu setempat, Trump mengatakan kesepakatan nan sedang dibahas bakal membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bumi nan penutupannya sejak pecah perang pada Februari lampau mengguncang pasar daya global.
Namun Trump tidak menjelaskan secara rinci isi lain dari kesepakatan tersebut.
"Aspek-aspek final dan detail-detail dari Kesepakatan saat ini sedang dibahas, dan bakal diumumkan segera," tulis Trump, dikutip dari Reuters, Minggu (24/5/2026).
Meski demikian, media Iran memberikan respons berbeda. Kantor buletin Fars melaporkan pada Minggu awal hari bahwa kesepakatan itu nantinya bakal memungkinkan Iran mengelola Selat Hormuz.
Fars juga menyebut klaim Trump bahwa kesepakatan nyaris final sebagai sesuatu nan "tidak sesuai dengan kenyataan".
Pemerintah Iran sebelumnya memang mengonfirmasi bahwa mereka sedang mengupayakan memorandum kesepahaman nan bakal menjadi dasar penghentian perang. Upaya itu dilakukan setelah pejabat tinggi Iran berjumpa dengan Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir.
Militer Pakistan menyatakan negosiasi menghasilkan kemajuan nan "menggembirakan" menuju kesepahaman akhir. Dua sumber Pakistan nan terlibat dalam pembicaraan apalagi menyebut rancangan kesepakatan nan sedang dibahas "cukup komprehensif untuk mengakhiri perang".
Sumber-sumber nan mengetahui negosiasi mengatakan kepada Reuters bahwa kerangka usulan tersebut bakal berjalan dalam tiga tahap.
Tahap pertama adalah penghentian resmi perang. Tahap kedua menyelesaikan krisis di Selat Hormuz.
Sementara itu, tahap ketiga membuka jendela negosiasi selama 30 hari untuk membahas kesepakatan nan lebih luas, dengan kemungkinan perpanjangan waktu.
Ancaman Trump Masih Membayangi
Di tengah sinyal diplomasi tersebut, Trump tetap melontarkan ancaman keras kepada Iran. Dalam wawancara dengan Axios pada Sabtu, dia mengatakan bakal memutuskan pada Minggu apakah serangan terhadap Iran bakal kembali dilanjutkan.
"Entah kita mencapai kesepakatan nan baik alias saya bakal menghancurkan mereka sampai ke seribu neraka," kata Trump seperti dikutip Axios.
Salah satu sumber Pakistan mengatakan belum ada agunan Washington bakal menerima memorandum tersebut. Namun jika AS menyetujuinya, pembicaraan lanjutan diperkirakan bakal berjalan setelah libur Iduladha berhujung pada Jumat mendatang.
Trump sendiri berada di bawah tekanan politik dalam negeri akibat dampak perang terhadap nilai daya di AS. Tingkat kepuasan publik terhadap dirinya disebut terpukul oleh lonjakan nilai bahan bakar.
Pada Jumat, Trump apalagi mengatakan dirinya tidak bakal menghadiri pernikahan putranya akhir pekan ini dan memilih tetap berada di Washington, dengan situasi Iran menjadi salah satu alasannya.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump mengaku telah berbincang melalui telepon dengan para pemimpin Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, Mesir, Turki, dan Pakistan pada Sabtu.
Axios melaporkan para pemimpin tersebut mendorong Trump menerima kerangka kesepakatan nan sedang berkembang.
Pakistan selama beberapa pekan terakhir memang aktif mencoba mempersempit perbedaan posisi antara Iran dan AS. Upaya itu dilakukan setelah perang berkepanjangan membikin Selat Hormuz praktis tertutup bagi sebagian besar pelayaran dunia meski gencatan senjata rentan tetap berlangsung.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kembali menegaskan syarat utama Washington untuk mengakhiri konflik.
"Iran tidak boleh mempunyai senjata nuklir. Selat kudu terbuka tanpa pungutan biaya. Mereka kudu menyerahkan uranium nan telah diperkaya," kata Rubio saat berjamu ke India.
Rubio mengatakan ada kemajuan tertentu dalam negosiasi dan proses diplomasi tetap terus berjalan.
"Bahkan saat saya berbincang dengan Anda sekarang, tetap ada pekerjaan nan sedang dilakukan. Ada kemungkinan, entah kelak hari ini, besok, alias beberapa hari lagi, kami mungkin bakal mempunyai sesuatu untuk diumumkan," ujarnya kepada wartawan di New Delhi.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan mempersingkat kunjungannya ke Ohio dan kembali ke Gedung Putih pada Sabtu sore.
Iran Bertahan pada Tuntutan Utama
Iran terus membantah bahwa mereka mengembangkan senjata nuklir. Pemerintah Teheran menegaskan program pengayaan uranium dilakukan untuk kepentingan sipil dan damai.
Iran juga menuntut kewenangan pengawasan atas Selat Hormuz, penghentian blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta pencabutan hukuman terhadap penjualan minyak Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan tren negosiasi pekan ini mengarah pada penurunan ketegangan, meski tetap ada sejumlah persoalan nan kudu dibahas melalui mediator.
"Tren minggu ini mengarah pada pengurangan perselisihan, tetapi tetap ada isu-isu nan perlu dibahas melalui mediator. Kita kudu menunggu dan memandang gimana situasi berkembang dalam tiga alias empat hari ke depan," kata Baghaei.
Menurut dia, blokade AS terhadap pelayaran Iran memang menjadi rumor penting. Namun prioritas utama Teheran saat ini adalah mengakhiri ancaman serangan baru AS dan menghentikan bentrok di Lebanon, tempat golongan Hizbullah nan didukung Iran tetap bertempur melawan pasukan Israel di wilayah selatan.
Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir meninggalkan Teheran pada Sabtu setelah berjumpa negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.
Qalibaf menegaskan Iran bakal tetap memperjuangkan "hak-hak sah"-nya baik melalui medan perang maupun jalur diplomasi. Namun dia juga menyindir Washington dengan mengatakan Iran tidak dapat mempercayai "pihak nan sama sekali tidak mempunyai kejujuran".
Ia memperingatkan bahwa militer Iran telah membangun kembali kekuatannya selama masa gencatan senjata.
"Jika AS secara tolol memulai kembali perang, konsekuensinya bakal lebih kuat dan lebih pahit dibanding awal konflik," ujarnya.
(luc/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
4 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·