Ada 782 Anak Terpapar Konten Kekerasan, BNPT Soroti Ruang Digital

Sedang Trending 4 jam yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono membujuk 1.600 pelajar SMA se-Jabodetabek menjadi pemasok perdamaian dan pelopor perubahan di lingkungan sekolah.

Dia mengingatkan para pelajar agar bijak menggunakan media sosial dan tidak mudah terpengaruh konten kekerasan maupun ujaran kebencian.

Pesan tersebut disampaikan Eddy dalam aktivitas Kemah Kebangsaan BP2M bertema “Pilar Kebangsaan: Merawat Kebhinnekaan di Tengah Perbedaan” di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (20/10/2026).

Kegiatan ini diikuti pelajar dari 58 sekolah untuk memperkuat wawasan kebangsaan, toleransi, dan persaudaraan.

“Setelah mengikuti Kemah Kebangsaan ini, saya minta teman-teman bisa menjadi agen-agen perubahan di sekolah masing-masing. Ini ada 58 sekolah,” ujar Eddy.

Menurut dia, generasi muda mempunyai peran krusial dalam menjaga persatuan, termasuk melalui perilaku sehari-hari dan aktivitas di ruang digital. Pelajar perlu bisa memilah info secara kritis agar tidak mudah terpengaruh provokasi, ujaran kebencian, maupun konten nan mendorong kekerasan.

Eddy pun membujuk para pelajar menerapkan prinsip 3T, ialah Tahan, Telusuri, dan Timbang sebelum mempercayai alias membagikan info di media sosial.

“Jangan sampai terpapar oleh info-info kekerasan, ujaran kebencian. Jadi, teman-teman kudu menerapkan 3T. Pertama Tahan, tahan dulu, lihat dulu informasinya. Kedua Telusuri, jangan langsung bagikan, telusuri dulu. Ketiga Timbang, pertimbangkan ini perlu tidak di-share,” tegasnya.

Eddy juga menyoroti paparan konten kekerasan terhadap anak di ruang digital. Berdasarkan info nan dihimpun BNPT, terdapat 782 anak di 18 provinsi nan terpapar konten kekerasan melalui beragam grup digital, termasuk true crime community (TCC) nan membahas kasus pidana dan kejadian kekerasan.

Data tersebut, menurutnya, menjadi pengingat pentingnya pendampingan anak di ruang digital. Upaya perlindungan memerlukan keterlibatan orang tua, tenaga pendidik, sekolah, pemerintah, dan masyarakat.

Selain meningkatkan kewaspadaan terhadap konten berbahaya, pelajar juga perlu dibekali keahlian berpikir kritis, empati, dan tanggung jawab dalam menggunakan media digital.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑