Rohman Wibowo
, Jurnalis-Senin, 07 September 2026 |12:43 WIB

Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau nan melanda ruang udara (Flight Information Region/FIR) Jakarta. (Foto: Okezone.com/ESDM)
JAKARTA - Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau nan melanda ruang udara (Flight Information Region/FIR) Jakarta berakibat pada kerugian finansial nan signifikan bagi industri penerbangan nasional.
Indonesia National Air Carrier Association (INACA) memperkirakan potensi kerugian ekonomi dapat mencapai Rp19 miliar per hari akibat pembatalan tiket, lonjakan konsumsi bahan bakar untuk rute memutar, hingga pembengkakan biaya kompensasi penumpang.
INACA mencatat gangguan sebaran abu vulkanis ke arah timur laut berkapak langsung pada kepadatan koridor Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Radin Inten II Lampung (TKG). Situasi ini memberikan tekanan dobel terhadap finansial maskapai lantaran hilangnya potensi pendapatan dari penjualan kursi, sementara biaya operasional darurat justru meningkat.
“Dampak upaya ke maskapai berkarakter ganda, ialah kehilangan pendapatan sekaligus menanggung lonjakan biaya operasional. Simulasi harian gangguan di CGK dan TKG menunjukkan potensi kerugian Rp10 miliar hingga Rp19 miliar per hari dari 30-50 penerbangan nan batal, ekstra avtur, parkir pesawat, serta kompensasi penumpang. Jika bersambung sepekan, kerugian bisa menembus Rp70 miliar sampai Rp130 miliar,” ujar Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto kepada iNews Media Group, Senin (7/9/2026).
Berdasarkan peringatan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin dan NOTAM navigasi penerbangan, pembatalan agenda otomatis diberlakukan andaikan konsentrasi abu vulkanis di jalur lepas landas maupun pendaratan melampaui periode pemisah 4.000 ppm.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·