Abu Anak Krakatau Menyebar, Ini Arahan Pemerintah untuk Sekolahan

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia — Pemerintah mengeluarkan sejumlah imbauan mengenai aktivitas pendidikan di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau. Kegiatan belajar mengajar diminta menyesuaikan kondisi di masing-masing wilayah dengan mengutamakan keselamatan dan kesehatan siswa maupun tenaga pendidik.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan aktivitas belajar mengajar tetap dapat dilaksanakan seperti biasa andaikan kondisi wilayah tetap memungkinkan. Namun, sekolah diminta terus memantau potensi peningkatan aktivitas maupun akibat abu vulkanik.

"Kalau memang tetap dapat dilaksanakan, belajar di dalam, terutama aktivitas nan di dalam kelas, melaksanakan seperti biasa sembari terus mengawasi potensi eskalasi," ujar Tito dalam konvensi pers secara virtual, Minggu (6/9/2026).

Menurut Tito, aktivitas pendidikan nan berjalan di luar ruangan, termasuk aktivitas ekstrakurikuler dan aktivitas di lapangan, dapat disesuaikan dengan kondisi di masing-masing wilayah.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan sejumlah wilayah di Lampung dan Banten mengalami akibat abu vulkanik nan cukup berat.

Untuk wilayah nan terdampak parah, pemerintah menganjurkan pembelajaran dilakukan dari rumah secara daring mulai Senin (7/9/2026).

"Di wilayah nan memang sangat terdampak kami anjurkan untuk pembelajaran dilaksanakan di rumah melalui daring," kata Mu'ti.

Namun, Mu'ti menyadari tidak seluruh siswa mempunyai akses internet nan memadai. Karena itu, andaikan pembelajaran dari rumah tidak memungkinkan, aktivitas belajar dapat dilakukan di letak tertentu nan dinilai kondusif dan tidak kudu berada di sekolah.

Mu'ti menegaskan pemerintah pusat tidak menetapkan seluruh wilayah kudu menerapkan pembelajaran jarak jauh. Keputusan disesuaikan dengan kondisi di masing-masing wilayah lantaran akibat abu vulkanik tetap bergerak dan dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk arah angin.

"Sehingga kami tidak dapat menetapkan daerah-daerah mana nan memang dia kudu pembelajaran di rumah. Tetapi kami menegaskan sesuai dengan ketentuan nan sudah kami sebutkan bahwa keselamatan bagi siswa dan kesehatan bagi siswa dan para pendidik serta pendidikan itu menjadi prioritas utama," ujarnya.

Jika pemerintah wilayah menilai suatu wilayah tidak kondusif untuk aktivitas tatap muka, pembelajaran di sekolah tidak boleh dilakukan.

Sebaliknya, andaikan kondisi tetap memungkinkan untuk aktivitas belajar tatap muka, sekolah tetap diminta menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Salah satunya dengan mengurangi aktivitas di luar kelas, termasuk olahraga dan aktivitas lainnya. Bahkan, aktivitas luar ruangan dapat ditiadakan andaikan kondisi tidak memungkinkan.

Untuk aktivitas di dalam kelas, sekolah juga diminta meminimalkan masuknya abu vulkanik. Jendela, pintu, serta akomodasi lain nan berpotensi menjadi jalur masuk debu perlu diamankan.

Di tingkat perguruan tinggi, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan juga mengimbau kampus negeri maupun swasta mengurangi aktivitas di luar kampus.

Ia mengatakan jasa kantor, proses pembelajaran, serta aktivitas akademik lainnya dapat dilakukan secara daring, hybrid, alias metode lain nan dinilai efektif untuk mengurangi akibat paparan debu erupsi.

"Kami menghimbau kepada seluruh perguruan tinggi baik negeri maupun swasta untuk mengambil langkah-langkah strategis dan efektif nan berorientasi pada pengurangan aktivitas di luar kampus kepada seluruh civitas akademika," ujar Fauzan.

Fauzan juga meminta ketua perguruan tinggi mengaktifkan posko siaga di lingkungan kampus masing-masing dan terus berkoordinasi dengan kepala wilayah setempat.

(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News