9 Update Baru Perang AS-Iran: Proposal Damai Hingga Desakan Eropa

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kian memanas dengan eskalasi militer, tekanan ekonomi, hingga tarik ulur diplomasi. Sejumlah negara besar ikut terseret, sementara area Timur Tengah berada dalam status siaga tinggi.

Berikut delapan perkembangan terbaru AS-Iran, sebagaimana dihimpun CNBC Indonesia dari beragam sumber pada Senin (4/5/2026).

1. Iran Kaji Respons AS atas Proposal Damai

Teheran tengah menelaah respons Washington terhadap proposal tenteram 14 poin nan diajukan melalui mediator Pakistan. Rencana tersebut diklaim berfokus pada penghentian bentrok secara menyeluruh, termasuk sistem de-eskalasi militer dan pengamanan jalur perdagangan energi.

Namun, Garda Revolusi Iran menilai posisi AS tetap agresif. Mereka menyebut Washington sekarang berada di persimpangan antara melanjutkan operasi militer nan dianggap "mustahil dimenangkan" alias menerima jalur diplomasi. Pernyataan ini mencerminkan kepercayaan diri Iran di tengah tekanan militer dan ekonomi nan meningkat.

2. Jerman Ngotot Jaga Hubungan dengan AS

Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menegaskan komitmennya menjaga hubungan erat dengan AS meski muncul perbedaan tajam mengenai strategi menghadapi Iran.

"Saya tidak bakal menyerah untuk mengupayakan hubungan transatlantik. Saya juga tidak bakal menyerah untuk bekerja sama dengan Donald Trump," ujarnya, seperti dikutip AFP.

Pernyataan ini muncul setelah Trump mengindikasikan pengurangan signifikan jumlah pasukan AS di Eropa, nan memicu kekhawatiran soal komitmen keamanan Washington terhadap sekutunya.

3. AS Klaim Tekanan Maksimum 'Mencekik' Iran

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut strategi tekanan maksimum sekarang memasuki fase baru berupa "blokade ekonomi" nan terkoordinasi dengan operasi militer berjudul Epic Fury.

"Ini dimulai dari perintah Presiden pada Maret lalu, dan sekarang kami meningkatkan tekanan untuk betul-betul melumpuhkan keahlian ekonomi Iran," ujarnya.

Langkah ini mencakup pembatasan ekspor minyak, akses ke sistem finansial global, hingga hukuman terhadap entitas nan membantu Iran. Dampaknya mulai terasa pada nilai tukar dan inflasi domestik Iran.

4. Jerman Desak Pembukaan Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, secara langsung meminta Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital nan dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Dalam komunikasinya dengan Menlu Iran, dia juga menekankan pentingnya penghentian program nuklir. "Sebagai sekutu dekat AS, kami mempunyai tujuan nan sama: Iran kudu sepenuhnya melepaskan senjata nuklir dan segera membuka Selat Hormuz," tegasnya.

Penutupan alias gangguan di selat ini berpotensi mengguncang nilai daya global, termasuk bagi negara importir seperti Indonesia.

5. Israel Keluarkan Peringatan Evakuasi di Lebanon

Militer Israel mengeluarkan peringatan pemindahan untuk lebih dari 10 desa di selatan Lebanon, apalagi di luar area nan selama ini diduduki.

Langkah ini menandakan potensi ekspansi operasi militer terhadap sasaran nan diduga mengenai Hizbullah. Serangan terbaru dilaporkan menewaskan satu orang dan melukai empat petugas penyelamat, memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah tersebut. Ketegangan ini juga meningkatkan akibat bentrok regional nan lebih luas.

6. Hizbullah Ancam Gagalkan Negosiasi

Kelompok Hizbullah menegaskan tidak bakal terlibat dalam negosiasi tenteram antara Lebanon dan Israel. Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, apalagi menyatakan pihaknya siap menggagalkan proses tersebut.

"Negosiasi ini tidak menyangkut kami, dan kami tidak bakal melaksanakannya," ujarnya.

Sikap ini memperkecil kesempatan tercapainya stabilitas di perbatasan Lebanon-Israel, mengingat pengaruh besar Hizbullah dalam politik dan militer Lebanon.

7. Trump Ragu Proposal Damai Iran

Presiden Donald Trump menyatakan bakal meninjau proposal Iran, namun meragukan peluangnya untuk diterima.

"Saya tidak dapat membayangkan itu bisa diterima lantaran mereka belum bayar nilai nan cukup besar atas tindakan mereka," tulisnya.

Komentar ini mengindikasikan bahwa Washington kemungkinan bakal tetap mempertahankan pendekatan keras, setidaknya dalam jangka pendek.

8. Proposal 14 Poin Iran Jadi Sorotan Global

Proposal Iran menjadi pusat perhatian lantaran mencakup beragam aspek krusial, mulai dari penghentian bentrok di semua front hingga pembentukan kerangka baru pengelolaan Selat Hormuz.

Meski perincian lengkapnya belum dipublikasikan, laporan media Iran menyebut adanya upaya untuk menyeimbangkan kepentingan keamanan regional dengan stabilitas ekonomi global.

Namun, tanpa kepercayaan dari pihak AS dan sekutunya, proposal ini berisiko hanya menjadi arsip diplomatik tanpa penerapan nyata.

9. Trump Beri Kode Baru Hasil Pembicaraan dengan Iran

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi sinyal baru mengenai arah hubungan Washington-Teheran. Ia menyebut pembicaraan dengan Iran melangkah "sangat positif", di tengah rencana AS mengawal kapal-kapal nan melintasi Selat Hormuz nan sekarang terblokir akibat konflik.

Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump mengatakan negosiasi nan sedang berjalan berpotensi menghasilkan kesepakatan nan menguntungkan semua pihak.

"Saya sepenuhnya menyadari bahwa perwakilan saya sedang melakukan obrolan nan sangat positif dengan Iran, dan ini bisa menghasilkan sesuatu nan sangat positif bagi semua pihak," ujar Trump.

Meski begitu, Trump juga memberi kode langkah konkret AS di lapangan. Ia memastikan Washington bakal mulai mengawal kapal-kapal komersial nan terjebak di jalur strategis tersebut.

"Kami bakal memandu kapal-kapal mereka dengan kondusif keluar dari jalur air nan dibatasi ini, sehingga mereka dapat melanjutkan upaya mereka," katanya.

Langkah nan disebut sebagai "Proyek Kebebasan" itu dijadwalkan dimulai pada Senin pagi waktu Timur Tengah. Trump menekankan kebijakan ini sebagai "isyarat kemanusiaan", mengingat banyak kapal nan tertahan mengalami kekurangan logistik.

(tfa/tfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News