Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan, puncak intensitas El Nino bakal melampaui kategori kuat. Fenomena suasana ini diprediksi bakal memperkuat hingga awal tahun 2027.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, pihaknya konsentrasi memperkuat langkah mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di beragam wilayah prioritas Indonesia. Sekaligus menggalang respons sigap dan terintegrasi dari seluruh pihak untuk mengantisipasi lonjakan kebakaran rimba dan lahan (karhutla) serta kekeringan.
Dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Juli 2026 nan dirilis hari ini, Senin (3/8/2026), BMKG mengungkapkan, hasil monitoring pada Dasarian III Juli 2026 menunjukkan indeks IOD dasarian (indeks bulanan) sebesar +0,715 (+0,229). Sementara itu, nilai SSTA di region Nino3.4 secara dasarian (ENSO bulanan) adalah sebesar +2,45 (+2,19). Kondisi ini disebutkan mengonfirmasi sedang berlangsungnya El Nino dengan intensitas kuat.
Karena itu, BMKG mengeluarkan peringatan awal potensi terjadinya kekeringan meteorologis, bertindak untuk periode Dasarian I bulan Agustus 2026.
Berikut perincian Peringatan Dini BMKG:
-
Waspada
Beberapa kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku serta seluruh Provinsi DKI Jakarta, Papua Barat, dan Papua Barat Daya
-
Siaga
beberapa kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), NTT, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Maluku Utara
-
Awas
beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.
BMKG mencatat, hingga Dasarian III bulan Juli 2026, berasas jumlah Zona Musim (ZOM) sebanyak 73,8% wilayah Indonesia (516 ZOM) masuk Musim Kemarau.
Wilayah nan sedang mengalami musim tandus adalah Aceh bagian utara, Sumatra Utara bagian selatan, Riau bagian selatan, Sumatra Barat bagian selatan, sebagian Kepulauan Riau, Bengkulu, sebagian Jambi, Sumatra Selatan, sebagian Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, sebagian besar Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Timur, sebagian besar Kalimantan Tengah bagian selatan, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Barat, sebagian Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Curah hujan periode Dasarian I bulan Agustus 2026 secara umum diprediksi dalam kategori Rendah-Menengah, ialah 0-150 mm/dasarian.
Secara khusus, curah hujan di sebagian besar pulau Sumatra, pulau Jawa, Bali NTB, NTT, pulau Kalimantan, pulau Sulawesi, Maluku Utaram Maluku, dan Papua diprediksi mengalami curah hujan kategori Rendah alias <50 mm/dasarian.
Hari Tanpa Hujan Ekstrem Panjang
Sementara itu, BMKG mencatat ribuan titik letak di Indonesia telah mengalami hari tanpa hujan (HTH) panjang. Bahkan, ada nan masuk kategori ekstrem panjang.
"Wilayah Indonesia saat ini mengalami hari tanpa hujan dengan kategori sangat pendek hingga Ekstrem panjang. HTH terpanjang selama 90 hari, terjadi di pos hujan BPP
Pajangan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta," tulis BMKG.
Tercatat, HTH panjang alias tak turun hujan sekitar 21-30 hari berturut-turut terjadi di 322 titik, HTH sangat panjang (31-60 hari berturut-turut) di 1.657 titik, dan HTH ekstrem panjang (lebih dari 60 hari berturut-turut) terjadi di 306 titik.
Penampakan detilnya ada di info skematis BMKG berikut:
Monitoring Hari Tanpa Hujan (Pemutakhiran: Dasarian III Juli 2026). (Dok. BMKG) Foto: Monitoring Hari Tanpa Hujan (Pemutakhiran: Dasarian III Juli 2026). (Dok. BMKG)
Imbauan BMKG
BMKG mengingatkan, suasana dan musim tandus saat ini memengaruhi banyak sektor nan memerlukan perhatian khusus.
BMKG merekomendasikan langkah-langkah konkret kepada beragam pemangku kepentingan untuk menekan akibat iklim, terutama pada sektor pertanian serta sumber daya air (SDA) dan daya nan sangat berjuntai pada pasokan air.
Di sektor pertanian, para pelaku upaya tani perlu menyusun strategi agenda awal musim tanam dan memilih varietas tanaman nan tahan terhadap kondisi kering.
Sementara, pengelola sektor SDA dan daya kudu menghitung kesiapan air baku, menentukan volume air bendungan, serta mengantisipasi dinamika produksi listrik PLTA guna mengendalikan lonjakan konsumsi energi.
Di sisi lain, minimnya curah hujan memicu penurunan kualitas udara nan berpotensi meningkatkan akibat penyakit ISPA.
"Pemangku kepentingan dan masyarakat luas perlu mewaspadai kondisi ini, sekaligus menyiapkan sistem respons sigap untuk mengantisipasi potensi perubahan sebaran penyakit DBD dan malaria, serta ancaman heat stroke akibat cuaca panas ekstrem," tulis BMKG.
"Tak kalah penting, pengelola sektor kehutanan dan kebencanaan wajib meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan serta potensi kebakaran rimba dan lahan (karhutla)," tegas BMKG.
Di sisi lain, BMKG menyebut, pelaku sektor perikanan dan tambak garam dapat memanfaatkan momentum tandus ini untuk mengoptimalkan produksi garam serta memaksimalkan kejadian upwelling guna meningkatkan hasil tangkapan ikan.
Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Pemutakhiran: Juli III 2026, Berlaku untuk Dasarian I Agustus 2026 dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Juli 2026, dirilis BMKG pada 3 Agustus 2026. (Dok. BMKG) Foto: Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Pemutakhiran: Juli III 2026, Berlaku untuk Dasarian I Agustus 2026 dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Juli 2026, dirilis BMKG pada 3 Agustus 2026. (Dok. BMKG)
(dce/dce)
[Gambas:Video CNBC]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·