6 Dekade Disangka Mati, Terumbu Karang Laut Dalam Ini Ternyata Masih Sehat

Sedang Trending 1 hari yang lalu
6 Dekade Disangka Mati, Terumbu Karang Laut Dalam Ini Ternyata Masih Sehat Ekosistem laut dalam nan selama puluhan tahun disangka telah meninggal ini tetap menjadi rumah bagi beragam jenis karang dan ikan.(Jurnal Frontiers in Marine Science/ Gérard Zinzindohoué.)

SEBUAH terumbu karang laut dalam di lepas pantai Benin, Afrika Barat, nan selama sekitar 60 tahun diyakini telah meninggal rupanya tetap hidup. Penemuan ini mengubah pemahaman para intelektual terhadap ekosistem laut dalam sekaligus menunjukkan tetap banyak area bawah laut nan belum terdokumentasikan.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Marine Science oleh tim peneliti nan dipimpin Gérard Zinzindohoué dari Institut de Recherches Halieutiques et Océanologiques du Bénin. Penelitian itu menjadi bukti pertama keberadaan ekosistem terumbu karang mesofotik nan tetap hidup di landas kontinen Teluk Guinea.

Terumbu karang tersebut sebenarnya telah terdeteksi dalam survei kelautan nan dilakukan pada 1963-1964. Saat itu, penelitian bermaksud mencari letak penangkapan ikan sehingga para peneliti hanya menemukan struktur keras di dasar laut pada kedalaman lebih dari 50 meter.

Karena keterbatasan teknologi pada masa itu, mereka tidak dapat memandang langsung kondisi dasar laut. Akibatnya, struktur tersebut diduga sebagai terumbu karang nan telah mati. Anggapan tersebut kemudian memperkuat selama enam dasawarsa lamanya.

Kesalahan itu juga dipengaruhi oleh minimnya pengetahuan mengenai terumbu karang mesofotik, ialah terumbu nan hidup di "zona senja" laut pada kedalaman sekitar 30 hingga 150 meter. Kawasan ini terlalu dalam untuk dijangkau penyelam biasa, tetapi juga terlalu dangkal untuk menjadi sasaran utama eksplorasi laut dalam menggunakan kapal selam khusus.

Pada era 1960-an, pengamatan di kedalaman tersebut umumnya hanya mengandalkan jaring alias perangkat pengeruk dasar laut (dredge). Jika perangkat itu mengangkat pecahan karang nan tampak pucat, peneliti sering kali menyimpulkan bahwa terumbu tersebut telah mati. Padahal, karang mesofotik memang tumbuh sangat lambat dan mempunyai warna nan lebih kusam dibandingkan karang di perairan dangkal.

Terungkap Karena Teknologi Modern

Untuk memastikan kondisi terumbu tersebut, tim peneliti melakukan survei antara April hingga Desember 2025 menggunakan kombinasi teknologi side-scan sonar, drone bawah air, dan Deep Sea Camera System milik National Geographic Exploration Technology Lab nan berfaedah layaknya kamera jebak di laut dalam.

Mula-mula, para intelektual memetakan sekitar tujuh kilometer dasar laut menggunakan sonar. Setelah itu, drone bawah air dan kamera laut dalam dikirim ke dua letak nan dinilai paling menjanjikan berasas hasil pemetaan.

Hasil rekaman memperlihatkan bahwa terumbu pada kedalaman sekitar 54 meter tetap dalam kondisi sehat. Ekosistem tersebut didominasi karang lunak (octocorals) dan menjadi kediaman sedikitnya delapan jenis karang serta delapan jenis ikan, termasuk golden African snapper, blackbar soldierfish, Guinean angelfish, West African goatfish, Monrovia doctorfish, three-banded butterflyfish, dan dua jenis damselfish.

Para peneliti menilai penggunaan kamera otonom berbiaya lebih rendah menjadi terobosan penting. Selama ini, eksplorasi laut dalam umumnya berjuntai pada remotely operated vehicle (ROV) nan memerlukan kapal riset besar, biaya operasional tinggi, serta operator khusus. Dengan teknologi nan lebih sederhana, penelitian laut dalam sekarang dapat dilakukan oleh lebih banyak lembaga riset tanpa kudu berjuntai pada ekspedisi besar.

Meski ditemukan dalam kondisi hidup, terumbu karang tersebut belum tentu aman. Selama puluhan tahun area itu relatif tidak terganggu lantaran keberadaannya tidak diketahui. Namun, setelah sukses dipetakan, beragam ancaman mulai muncul.

Wilayah Teluk Guinea merupakan salah satu area dengan aktivitas eksplorasi minyak dan gas lepas pantai nan cukup tinggi. Selain itu, pesisir Benin juga menghadapi tekanan akibat limpasan aktivitas pertanian dan penangkapan ikan menggunakan pukat nan berpotensi merusak ekosistem dasar laut.

Hingga kini, tim peneliti belum mengambil sampel karang secara langsung. Oleh lantaran itu, identifikasi jenis dan penilaian kondisi kesehatan terumbu tetap berkarakter sementara. Gérard Zinzindohoué menyatakan bahwa langkah berikutnya adalah kembali ke letak untuk melakukan penyelaman dan pengambilan sampel sehingga karakter ekosistem tersebut dapat dipahami lebih mendalam.

Masih Banyak Terumbu nan Belum Ditemukan

Menurut Zinzindohoué, penemuan ini kemungkinan bukan kasus satu-satunya. Ia menduga tetap banyak terumbu karang mesofotik di sepanjang pesisir Afrika Barat nan belum pernah didokumentasikan.

Temuan ini menunjukkan bahwa keterbatasan teknologi dan pendanaan selama bertahun-tahun membikin banyak ekosistem laut dalam luput dari perhatian ilmuwan. Kini, dengan semakin terjangkaunya teknologi pemetaan dan kamera bawah laut, kesempatan untuk menemukan terumbu-terumbu nan selama ini tersembunyi menjadi semakin besar. (Science Blog/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia