6,8 Juta Lansia Tunjukkan Sejumlah Faktor Risiko Kesehatan

Sedang Trending 1 jam yang lalu
6,8 Juta Lansia Tunjukkan Sejumlah Faktor Risiko Kesehatan Ilustrasi(Magnific)

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan berasas hasil pemeriksaan kesehatan terhadap sekitar 6,8 juta lansia menunjukkan sejumlah aspek akibat kesehatan nan tetap perlu menjadi perhatian. Sebanyak 95% lansia tercatat kurang melakukan aktivitas fisik, 58% mempunyai tekanan darah di atas normal, dan 51% mengalami kelebihan berat badan.

“Data ini menunjukkan upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit kudu terus diperkuat agar lansia Indonesia dapat tetap sehat, aktif, dan mandiri,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, dalam keterangannya, Minggu (14/6).

Hingga saat ini, sebanyak 8.911 puskesmas telah menerapkan Integrasi Layanan Primer (ILP) nan melayani seluruh siklus hidup termasuk golongan lansia. 

Selain itu, sebanyak 9.013 puskesmas telah menyelenggarakan jasa perawatan jangka panjang dan 7.887 puskesmas telah menjadi puskesmas ramah lansia Upaya tersebut untuk memperluas jasa kesehatan ramah lansia melalui transformasi jasa primer.

Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus, mengatakan sebagian besar beban penyakit nan dialami lansia sebenarnya dapat dicegah melalui pola hidup sehat sejak usia muda. Penyakit seperti hipertensi, diabetes, stroke, hingga kandas ginjal menjadi tantangan besar nan memerlukan perhatian bersama.

“Banyak kasus stroke dan kandas ginjal sebenarnya berasal dari hipertensi dan glukosuria nan tidak terkontrol. Karena itu, upaya menjaga kesehatan kudu dimulai sejak usia produktif melalui pola makan sehat, aktivitas bentuk nan cukup, serta pemeriksaan kesehatan secara rutin,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebugaran bentuk melalui aktivitas sederhana seperti melangkah kaki alias berolahraga minimal 30 menit sehari selama lima hari dalam seminggu. Aktivitas bentuk terbukti membantu menjaga kegunaan organ tubuh, memperbaiki sirkulasi darah, dan mempertahankan kemandirian lansia.

Selain pelayanan kesehatan, pemerintah juga mendorong penguatan sistem perawatan jangka panjang (long-term care) berbasis family dan komunitas. Pendekatan ini dinilai krusial mengingat semakin banyak lansia nan memerlukan pendampingan dan perawatan di rumah.

“Ukuran kemajuan bangsa bukan hanya seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga siapa nan kita lindungi sepanjang perjalanan. Lansia bukan beban, melainkan aset bangsa nan kudu dijaga kesehatan, fungsi, dan martabatnya,” pungkasnya. (Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia