5 Manfaat Labu Kuning untuk Kesehatan Pencernaan

Sedang Trending 15 jam yang lalu
5 Manfaat Labu Kuning untuk Kesehatan Pencernaan ilustrasi(Magnific)

LABU kuning kerap kali hanya dipandang sebagai bahan pelengkap masakan alias hiasan musiman. Padahal, dalam bumi medis dan nutrisi, bahan pangan kaya serat ini menyimpan potensi besar sebagai superfood penunjang kesehatan sistem pencernaan manusia.

Pakar nutrisi klinis penyakit pencernaan, Danielle Gaffen, RDN, mengungkapkan bahwa kombinasi unik nutrisi di dalam daging dan biji labu kuning bekerja secara holistik menjaga kelancaran saluran cerna dari lambung hingga usus besar.

5 Manfaat Labu Kuning dalam Melindungi Saluran Cerna

Berdasarkan kajian medis mutakhir, berikut adalah akibat positif konsumsi labu kuning terhadap sistem pencernaan:

  1. Menstabilkan Konsistensi Feses: Serat larut dalam daging labu menyerap air membentuk gel untuk meredakan diare, sementara kandungan magnesium pada bijinya berfaedah melunakkan feses guna mengatasi sembelit kronis.
  2. Memberi Nutrisi Bagi Bakteri Baik Usus: Serat prebiotik labu kuning difermentasi oleh mikrobiom usus menjadi short-chain fatty acids (SCFA), senyawa kunci nan menekan peradangan dan menguatkan daya tahan tubuh.
  3. Melancarkan Gerakan Peristaltik Usus: Kadar kalium nan tinggi pada labu kuning, melampaui kandungan pada buah pisang, sangat krusial untuk memicu kontraksi otot usus agar proses pencernaan melangkah lancar.
  4. Mencegah Kerusakan Dinding Usus: Kombinasi beta-karoten (prekursor Vitamin A) dan mineral zinc berfaedah memperkuat rapatnya sel-sel tembok usus sehingga mencegah kebocoran racun ke aliran darah.
  5. Aman bagi Penderita Radang Usus (IBD): Tekstur daging labu nan lembut setelah dimasak membuatnya sangat ramah bagi saluran cerna nan sensitif alias sedang mengalami peradangan.

Para mahir menyarankan untuk mengintegrasikan labu kuning, baik segar maupun olahan kaleng murni 100% tanpa gula, ke dalam menu harian seperti sup, smoothies, alias bubur gandum demi menjaga keanekaragaman mikrobiom usus.

(Everydayhealth/P-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia