Sebanyak 332 mahasiswa dan akademisi dari 16 perguruan tinggi Katolik se-Asia Tenggara, Asia Timur, dan Australia berkumpul di Yogyakarta dalam Konferensi Tahunan ke-32 Association of Southeast and East Asian Catholic Colleges and Universities (ASEACCU), nan berjalan pada 19–21 Agustus 2026. Konferensi ini merupakan hasil kerjasama Universitas Sanata Dharma (USD) dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
ASEACCU sendiri adalah asosiasi perguruan tinggi dan universitas Katolik nan berdiri sejak 1991 dan sekarang beranggotakan kampus-kampus Katolik di area Asia Timur dan Asia Tenggara. Asosiasi ini menjadi wadah bagi para anggotanya untuk saling berdialog, berbagi sumber daya, dan memperkuat identitas berbareng sebagai lembaga pendidikan Katolik. ASEACCU juga tergabung dalam Federasi Universitas Katolik Internasional (IFCU) nan mewakili pendidikan tinggi Katolik se-Asia Timur dan Asia Tenggara di kancah global.
Konferensi tahun ini mengangkat tema "Education, Hope, and Human Flourishing: Fostering Intercultural Encounter and Dialogue", nan menyoroti peran pendidikan tinggi Katolik di tengah bumi nan semakin terhubung namun juga rentan terpecah. Rektor Universitas Sanata Dharma, Albertus Bagus Laksana, menjelaskan bahwa perbincangan antarbudaya menjadi kunci untuk menjawab tantangan tersebut.
"Pendidikan tinggi Katolik (universitas Katolik) perlu memberi perhatian pada perbincangan antarbudaya sebagai sarana bagi orang-orang dari latar belakang berbeda untuk saling berjumpa secara lebih mendalam dan memperkuat ikatan persaudaraan serta solidaritas," ujarnya dalam sambutan pembukaan aktivitas tersebut, Rabu (19/8).
Wakil Rektor IV Universitas Sanata Dharma sekaligus personil Organizing Committee, Caecilia Tutyandari, menegaskan konvensi tahunan ini menjadi bentuk nyata jejaring kerjasama antar-universitas Katolik di area Asia Tenggara dan Asia Timur.
"Konferensi ini adalah aktivitas tahunan. Ini sangat krusial lantaran merupakan salah satu perwujudan gimana kerjasama jejaring antar-universitas Katolik di Asia Tenggara dan Asia Timur ini terjalin. Hal ini merupakan corak nyata gimana kerjasama di tingkat dunia itu menjadi sangat penting," ujarnya.
Merespons tantangan tersebut, panitia merancang Student Workshop nan mempertemukan mahasiswa lintas negara untuk membahas relevansi kearifan tradisional dari budaya masing-masing dalam menjawab persoalan kontemporer.
Antusiasme itu turut dirasakan langsung oleh para peserta nan hadir. Delegasi asal Korea Selatan, Haebin Back, mengaku obrolan lintas negara ini membuka langkah pandang baru tentang komunikasi antarpeserta.
"Menurut saya, peserta lain sangat antusias dan bisa berkata Inggris dengan baik. Itu menjadi momen berbobot nan saya pelajari dari peserta lain," ujarnya.
Bagi sejumlah delegasi, forum ini turut memantik kedekatan individual nan tak terduga. Delegasi asal Filipina, Yvan James Chi Gonzalez, mengaku menemukan kemiripan suasana Yogyakarta dengan kampung halamannya.
"Ini juga pertama kalinya saya di sini, khususnya di Indonesia. Rasanya seperti di rumah sendiri lantaran beberapa tempat di sini mengingatkan saya pada Filipina," ujarnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·