250 PLTU RI Berpotensi Simpan 'Harta Karun' Masa Depan Dunia

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Industri Mineral (BIM) mengidentifikasi potensi 'harta karun' berupa logam tanah jarang (LTJ) nan tersimpan pada sisa pembakaran di lebih dari 250 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Indonesia. Potensi LTJ itu mencakup kandungan monasit, senotim, ion-adsorbed clay (IAC), hingga fly ash dan bottom ash (FABA).

Asal tahu saja, LTJ banyak digunakan sebagai material dasar beragam teknologi maju,, seperti ponsel pintar, baterai kendaraan listrik, superkonduktor, turbin angin hingga rudal.

Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM Yogi Wibisono Budhi menyampaikan bahwa sumber sekunder dari operasional PLTU menjadi salah satu konsentrasi pemetaan sumber daya mineral strategis nasional.

"Kita mempunyai misalkan monasit, ya ada senotim, ada IAC ya di area Mamuju. Kemudian juga ada red mud, ada fly ash bottom ash nan ada di sejumlah PLTU, nan kita mempunyai lebih dari 250 PLTU nan tersebar di Indonesia. Dan di situ terkandung sejumlah logam tanah jarang nan menjadi challenging untuk bisa kita berdayakan," ujarnya dalam aktivitas nan digelar oleh Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, dikutip Jumat (11/9/2026).

Sejatinya, LTJ itu sendiri bisa diambil melalui tiga sumber ialah sumber primer, sekunder, hingga tersier. Pemanfaatan sisa hasil tambang dan industri tersebut dinilai krusial lantaran kebutuhan mineral termasuk LTJ untuk teknologi masa depan terus meningkat.

Berdasarkan info IEA nan dikutip pihaknya, kebutuhan mineral untuk kendaraan listrik meningkat 6 kali lipat, sementara untuk pembangkit listrik tenaga angin darat meningkat 9 kali lipat dibandingkan sistem pembangkit gas.

"Nah, ke depan pergeseran bahwa sumber daya nan berangkaian dengan mineral nan bisa diubah menjadi logam tanah jarang, ini menjadi salah satu kekuatan nan sangat krusial ya untuk bisa dipertimbangkan," katanya.

Logam tanah jarang sendiri terdiri dari 17 unsur logam nan berada dalam satu golongan di tabel periodik, sehingga proses pemisahan menjadi single element mempunyai tantangan teknis nan tinggi. Unsur-unsur seperti neodymium (Nd), praseodymium (Pr), dysprosium (Dy), terbium (Tb), dan yttrium (Y) dibutuhkan sebagai bahan baku magnet permanen pada motor kendaraan listrik dan turbin angin, sedangkan scandium dibutuhkan untuk paduan aluminium.

Indonesia melirik peningkatan potensi LTJ dalam negeri menimbang bahwa saat ini bumi juga tengah mengembangkan pemanfaatan 'harta karun' tersebut.

"Sehingga kemudian persaingan dunia ini telah bergeser dari sekadar mempunyai persediaan ya walaupun jumlahnya banyak, kemudian bergeser menuju gimana supply chains ini bisa dibangun," paparnya.

Sedangkan, pertimbangan ekspor bahan mentah jika diimpor kembali dalam corak produk jadi berpotensi menimbulkan kerugian hingga ribuan triliun rupiah bagi negara akibat kehilangan nilai tambah.

Untuk mengatasi perihal ini, pihaknya bakal mengorkestrasikan kerja sama antara kementerian, lembaga, BRIN, perguruan tinggi, dan industri pertambangan guna mengakselerasi riset ekstraksi dan pemurnian di dalam negeri.

"Oleh lantaran itu, peran BIM datang di sini adalah untuk memotong gap tersebut. Kita mau menghubungkan antara hasil-hasil riset nan ada di perguruan tinggi dan lembaga riset seperti BRIN, dengan kebutuhan riil industri," tandasnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News