20 Anak Muda Indonesia Jalani Pembinaan 9 Bulan Jelang WSC Shanghai 2026

Sedang Trending 55 menit yang lalu
Pelepasan kontingen Indonesia untuk WorldSkills Competition (WSC) Shanghai 2026 di Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Selasa (15/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Sebanyak 20 anak muda Indonesia bakal berkompetensi dalam WorldSkills Competition (WSC) Shanghai 2026 dengan didampingi 16 expert. Sebelum mengikuti kejuaraan keahlian tingkat bumi itu, para lulusan SMK nan bakal jadi pesaing WSC ini kudu menjalani pembinaan selama 6 hingga 9 bulan.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, mengatakan para peserta sebelumnya merupakan siswa SMK nan mengikuti Lomba Kompetensi Siswa (LKS) dalam beberapa tahun penyelenggaraan.

“Jadi mereka ini adalah dulunya siswa SMK, kemudian mereka ikut Lomba Kompetensi Siswa (LKS) ya, dari beberapa tahun,” kata Tatang saat ditemui wartawan dalam agenda pelepasan kontingen Indonesia untuk WSC Shanghai 2026 di Gedung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta Pusat, Selasa (15/9).

Menurut Tatang, sebagian pemenang LKS tersebut sekarang telah bekerja di industri terbaik, sedangkan sebagian lainnya melanjutkan pendidikan di politeknik. Para peserta nan terpilih pun kudu berumur maksimal 21 tahun.

Pelepasan kontingen Indonesia untuk WorldSkills Competition (WSC) Shanghai 2026 di Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Selasa (15/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Setelah terpilih dari pemenang tingkat nasional, mereka menjalani training di sejumlah mitra Kemendikdasmen dengan lama pembinaan nan bervariasi, mulai dari 6 hingga 9 bulan.

Tatang menuturkan, pembinaan dilakukan berbareng sejumlah balai besar vokasi dan mitra industri, termasuk perusahaan multinasional nan mempunyai pengalaman, serta jaringan di beragam negara.

“Ada di balai besar vokasi, seperti balai elektronik otomotif di Malang. Ada juga dengan industri Festo dan misalnya industri-industri makanan dan lainnya. nan jelas adalah industri-industri terpilih nan mereka juga multinasional punya pengalaman, jaringan, di seluruh dunia,” ungkapnya.

Dalam WSC Shanghai 2026, kontingen Indonesia bakal mengikuti 17 bagian kompetisi. Beberapa di antaranya, ialah cooking, web technology, dan mekatronika. Namun, kata Tatang, Indonesia belum mengikuti seluruh bagian nan dipertandingkan lantaran mempertimpangan kesiapan kompetensi.

“Cuma memang tidak semua bagian kejuaraan kita ikuti, lantaran ada beberapa nan kita memang jikalau ikut agak berat. Misalnya, welding underwater gitu ya, gimana mengelas di bawah air gitu,” beber Tatang.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin pada pelepasan kontingen Indonesia untuk WorldSkills Competition (WSC) Shanghai 2026 di Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Selasa (15/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, berambisi prestasi Indonesia dalam WSC Shanghai 2026 dapat meningkat dibandingkan keikutsertaan sebelumnya di Lyon, Prancis, pada 2024 silam.

“Dan kami berambisi di arena tahun ini di Shanghai prestasi delegasi kita makin meningkat ya,” ucap Fajar.

Kendati demikian, Fajar menjelaskan keberhasilan kontingen tidak hanya diukur dari lencana nan sukses diraih. Para peserta juga diharapkan membawa pulang praktik-praktik terbaik setelah memandang talenta dari beragam negara berkompetisi di Shanghai.

“Tentu tidak hanya dilihat dari raihan lencana nan didapat, tetapi juga impact, ya. Dampak nan dibawa oleh kontingen setelah kembali ke Tanah Air. Kita berambisi para talenta ini membawa praktik-praktik terbaik setelah memandang gimana talenta-talenta dunia di Shanghai berlaga,” tutur Fajar.

Menurut dia, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dan penajaman bagi pendidikan vokasi di Indonesia. Fajar pun menilai, arena WSC Shanghai sebagai jendela untuk memandang perkembangan teknologi dan keahlian nan dibutuhkan pada masa depan.

“Dan itu juga tentu bakal memberikan pertimbangan ataupun penajaman terhadap pendidikan vokasi di Indonesia. Karena arena di Shanghai ini dianggap sebagai jendela untuk memandang perkembangan teknologi ataupun keahlian di masa depan,” pungkas Fajar.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan