Gempa bumi kembar bermagnitudo 7,2 dan 7,5 meluluhlantakkan Venezuela. Tim penyelamat berpacu dengan waktu di tengah hancurnya ratusan bangunan.(Viory)
PETUGAS penyelamat tengah berpacu dengan waktu untuk mengevakuasi penduduk nan terjebak di bawah reruntuhan pasca-gempa kembar berkekuatan Magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang Venezuela. Berdasarkan laporan terbaru, sedikitnya 188 orang tewas, lebih dari 1.500 orang luka-luka, dan 157 orang dinyatakan lenyap oleh media lokal Venezolana de Televisión. Meski demikian, nomor korban lenyap dikhawatirkan jauh lebih tinggi.
Dua gempa besar tersebut terjadi pada Rabu sore dengan jarak kurang dari satu menit. Gempa kedua tercatat sebagai guncangan terkuat nan melanda Venezuela sejak tahun 1900. Guncangannya begitu masif hingga terasa hingga kota Manaus di Amazon, Brasil, nan berjarak lebih dari 1.600 kilometer.
Ketua Majelis Nasional, Jorge Rodríguez, menyebut sekitar 250 gedung rusak alias hancur total, terutama di wilayah pesisir utara La Guaira nan sekarang ditetapkan sebagai area musibah oleh Presiden Pelaksana Delcy Rodríguez.
"Ini adalah tragedi nan mutlak," kata Delcy Rodríguez dalam siaran televisinya. "Ada puluhan gedung nan runtuh di sana dan saat ini kami sedang melakukan tugas pengamanan nan sangat berat dengan angan dapat menyelamatkan nyawa nan diizinkan Tuhan kepada kami."
Kerusakan parah juga melanda ibu kota Caracas, khususnya di lingkungan Altamira dan Los Palos Grandes. Bandara Internasional Simón Bolívar, gerbang utama negara tersebut, turut mengalami kerusakan berat.
Seorang penduduk Caracas berumur 20 tahun, Antoan Marín, mengkhawatirkan upaya pengamanan saat ini tetap "tidak memadai" dibanding skala kehancuran nan ada. Ia menceritakan bahwa pengajar universitasnya sekarang terjebak di sebuah gedung nan "runtuh total." Sementara itu, seorang ibu di La Guaira meratap pilu, "Saya hanya mau tahu di mana anak saya berada."
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa Departemen Pertahanan AS bakal membantu mengerahkan tim pencari dan penyelamat (SAR). Ia menegaskan pentingnya periode 72 jam pertama alias golden hours.
"Kebutuhan paling mendesak saat ini adalah pencarian dan penyelamatan. Mereka mempunyai [banyak] gedung nan runtuh sehingga mereka bakal memerlukan banyak support untuk menggali reruntuhan tersebut," ujar Rubio. "Dalam pencarian dan penyelamatan, Anda mencoba menjangkau orang-orang selagi Anda tetap bisa menyelamatkan nyawa mereka, mereka terkubur di bawah reruntuhan."
Bantuan internasional juga terus mengalir. Kepala badan kemanusiaan PBB (OCHA), Tom Fletcher, menyatakan pihaknya telah memobilisasi support penuh untuk mengirimkan personel medis dan tim penyelamat ke letak bencana.
"Kami sepenuhnya dimobilisasi saat ini... Kami bakal mengerahkan orang-orang, kami bakal mengerahkan solidaritas dan, nan terpenting, kami bakal mengerahkan support pencarian dan penyelamatan... untuk orang-orang nan telah kehilangan begitu banyak... Sekarang adalah waktu untuk bertindak," tegas Fletcher.
Selain PBB, Presiden Prancis Emmanuel Macron berkomitmen mengirimkan 85 penyelamat khusus, sedangkan Presiden AS Donald Trump menyatakan seluruh lembaga pemerintahannya siap bergerak sigap untuk membantu Venezuela melewati masa kritis ini. (BBC/The Guardian/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·