18 Bulan Tanpa Suami, tentang Menjadi Istri Prajurit, Ibu, dan Mahasiswi

Sedang Trending 42 menit yang lalu
Sumber: Dokumentasi pribadi, diambil dari akun IG pribadi.

Menuju tiga tahun pernikahan kami, kehidupan saya terasa semakin penuh. Kami telah dikaruniai seorang putri nan usianya belum genap dua tahun. Di saat nan sama, saya tengah mengandung anak kedua nan sejenak lagi bakal lahir ke dunia. Saya juga sedang menjalani pendidikan sebagai seorang calon Magister.

Di tengah beragam peran dan waktu nan kudu saya bagi, terdengar berita bahwa nama suami saya termasuk dalam daftar prajurit nan bakal diberangkatkan untuk melaksanakan tugas ke Tanah Mutiara Hitam di timur Indonesia.

Saat itu, nan pertama kali datang bukanlah rasa bangga, melainkan kecemasan.

Apakah saya bisa menjalankan semua ini dengan baik tanpa didampingi suami?

Bagaimana dengan anak-anak?

Bagaimana dengan pendidikan nan sedang saya jalani?

Bagaimana pula dengan beragam aktivitas sebagai seorang ibu di lingkungan satuan?

Haruskah saya memilih? Fokus kepada anak-anak dan keluarga, kemudian mengorbankan pendidikan nan sudah melangkah separuh perjalanan? Atau tetap melanjutkan kuliah sembari menjalani kehidupan sebagai seorang istri prajurit dan ibu dari dua orang anak?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala saya.

Dua Bulan Sebelum Keberangkatan

Dua bulan sebelum keberangkatan suami, anak kedua kami lahir.

Alhamdulillah, persalinan melangkah dengan baik dan putri mini kami lahir dengan selamat. Di saat nan sama, saya mengambil keputusan untuk libur kuliah selama satu semester.

Bukan lantaran saya menyerah pada pendidikan, tetapi saat itu saya merasa kedua putri kami lebih memerlukan kehadiran saya.

Saya mau menikmati masa-masa awal berbareng bayi kami. Saya mau memastikan kakaknya tetap mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Saya juga mau mempersiapkan diri sebelum akhirnya kudu menjalani hari-hari tanpa pendampingan suami di rumah.

Setelah masa libur selesai, saya kembali melanjutkan kuliah. Kehidupan kemudian melangkah dengan ritmenya sendiri.

Siang hari saya mengurus anak-anak. Di sela-sela itu saya berupaya mengikuti perkuliahan. Ketika malam tiba dan anak-anak mulai tidur, saya baru mempunyai waktu untuk membuka laptop dan mengerjakan tugas-tugas dari dosen.

Tidak jarang saya kudu menyicil tugas dalam keadaan mengantuk.

Ada malam ketika tubuh sudah meminta istirahat, tetapi tugas belum selesai. Ada pula malam ketika saya baru bisa belajar setelah memastikan kedua anak tertidur.

Saya menjalani semuanya sebisa saya. Sampai akhirnya tubuh mulai memberikan peringatan. Karena terlalu sering tidur larut dan kurang menjaga pola makan, lambung saya pun bermasalah. Saya tersenyum ketika mengingatnya. Di tengah kesibukan itu, rupanya tubuh juga meminta untuk diperhatikan.

Namun, di kembali semua kelelahan tersebut, ada satu perihal nan baru saya sadari. Orang mungkin mengira kuliah adalah tambahan beban bagi seorang ibu nan kudu mengurus dua anak, terlebih ketika suami sedang menjalankan tugas jauh.

Namun bagi saya, justru sebaliknya. Kuliah menjadi semacam keimunan untuk menjalani hidup. Dengan kuliah, saya mempunyai sesuatu nan kudu saya perjuangkan. Ada agenda nan kudu saya ikuti, tugas nan kudu diselesaikan, penelitian nan kudu dikerjakan, dan sebuah tujuan nan kudu saya capai.

Kesibukan itu membikin saya tidak terus-menerus larut dalam rasa sunyi lantaran ditinggal suami.

Bukan berfaedah saya tidak rindu. Saya sangat rindu. Ada banyak momen ketika saya mau bercerita kepada suami tentang anak-anak. Tentang perkembangan mereka, tingkah kocak mereka, alias sekadar tentang gimana hari saya berjalan.

Namun keadaan mengajarkan saya untuk belajar menjalani sebagian perihal seorang diri.

Dua Belas Bulan nan Menjadi Delapan Belas

Awalnya kami memperkirakan tugas suami bakal berjalan sekitar 12 bulan. Ternyata waktu berbicara lain. Kami kudu menjalani jarak itu kurang lebih selama 18 bulan.

Enam bulan tambahan mungkin terdengar sederhana ketika hanya ditulis sebagai angka. Tetapi bagi family nan sedang menunggu, enam bulan bukanlah waktu nan sebentar. Ada banyak perihal nan berubah selama 18 bulan itu.

Anak-anak bertumbuh. Saya menyelesaikan tahapan demi tahapan pendidikan. Ada penelitian nan kudu diselesaikan. Ada seminar nan kudu dilewati. Ada ujian komprehensif nan akhirnya saya hadapi. Dan di tengah semua proses itu, saya tetap menjalani peran sebagai ibu.

Saya tidak selalu sukses melakukan semuanya dengan sempurna. Ada hari ketika saya merasa sangat lelah. Ada hari ketika saya menangis. Ada hari ketika saya bertanya dalam hati, Sampai kapan saya kudu sekuat ini?

Tetapi rupanya menjadi kuat bukan berfaedah tidak pernah menangis. Menjadi kuat mungkin hanya berfaedah tetap bangun keesokan harinya dan kembali menjalani apa nan memang kudu dijalani.

Ketika Akhirnya Kami Bertemu Kembali

Saat saya sukses menyelesaikan penelitian, seminar, hingga ujian komprehensif, suami sedang dalam perjalanan pulang menuju Pulau Sumatera.

Rasanya seperti dua perjalanan nan akhirnya berjumpa di satu titik. Saya sedang menyelesaikan perjalanan pendidikan saya. Sementara suami sedang menyelesaikan perjalanan tugasnya.

Kemudian tibalah hari wisuda. Hari nan selama ini saya perjuangkan. Dan Alhamdulillah, pada momen itu kami dapat berkumpul kembali. Saya memandang kembali perjalanan nan sudah kami lewati.

Tiga tahun pernikahan.

Dua orang putri.

Kehamilan.

Kelahiran.

Kuliah.

Tugas-tugas nan dikerjakan tengah malam.

Rasa lelah.

Rasa rindu.

Dan 18 bulan penantian.

Ternyata saya sampai juga di titik ini.

Bukan lantaran saya selalu kuat.

Bukan pula lantaran semuanya melangkah mudah.

Saya hanya belajar untuk terus melangkah meskipun dalam beberapa keadaan saya kudu melangkah sendirian.

Hari ini saya memahami bahwa menjadi istri seorang prajurit bukan hanya tentang menunggu suami pulang.

Ada banyak perihal nan kudu dipelajari: belajar mandiri, belajar mengelola rasa khawatir, belajar menjadi ibu ketika hati sedang lelah, belajar tetap mendukung suami dari kejauhan, dan belajar bahwa setiap family mempunyai corak perjuangannya masing-masing.

Saya tidak selalu kuat. Saya hanya belajar menjadi istri seorang prajurit. Dan mungkin, itulah corak cinta nan selama ini diam-diam kami perjuangkan bersama.

Momen kebersamaan berbareng family nan menjadi bagian dari perjalanan saya sebagai seorang pendamping prajurit sekaligus ibu dari dua putri kami
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan