150 Juta Warga Eropa Akan Disengat Suhu di Atas 35 Derajat, Jerman Terparah

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Termometer raksasa nan dipasang di tembok markas besar Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC) menunjukkan suhu 39 derajat Celsius, selama gelombang panas di seluruh Eropa, di Bonn, Jerman, 1 Juli 2025. Foto: REUTERS/Wolfgang Rattay

Sedikitnya 150 juta penduduk Eropa diperkirakan menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius pada Jumat (27/6).

Gelombang panas nan melanda benua itu juga diperkirakan membikin sekitar 420 juta orang, alias nyaris 70 persen populasi Eropa (di luar Turki), mengalami suhu di atas 30 derajat Celsius.

Berdasarkan kajian instansi buletin AFP, Jerman menjadi negara nan diperkirakan paling terdampak. Sebanyak 82 juta penduduknya diprediksi mengalami suhu di atas 30 derajat Celsius, sementara sekitar 52 juta orang bakal menghadapi suhu nan melampaui 35 derajat Celsius.

Gelombang panas ini sebelumnya telah memecahkan rekor suhu di sejumlah negara, termasuk Inggris, Prancis, Spanyol, dan Swiss.

Warga membawa kipas angin listrik saat gelombang panas di Paris, Prancis, Selasa (23/6/2026). Foto: Abdul Saboor/REUTERS

Suhu ekstrem sekarang diperkirakan meluas ke negara-negara lain seperti Hungaria, Belgia, dan Luksemburg.

AFP menyusun proyeksi tersebut menggunakan prakiraan cuaca dari Deutscher Wetterdienst (DWD), badan meteorologi Jerman, nan dipadukan dengan info kepadatan masyarakat dari Pusat Penelitian Bersama Uni Eropa.

Dalam analisisnya, AFP menghitung seluruh masyarakat nan berada di wilayah dengan prakiraan suhu melampaui 30 alias 35 derajat Celsius pada salah satu waktu sepanjang hari Jumat.

Dampak Diperkirakan Lebih Luas

Lembaga nirlaba Austria Klimadashboard menilai jumlah penduduk nan terdampak kemungkinan lebih besar daripada hasil kajian tersebut, terutama di area perkotaan nan padat penduduk.

"Kemungkinan nomor ini tetap meremehkan jumlah orang nan terdampak di area perkotaan nan padat penduduk," tulis Klimadashboard dalam laman European Heat Tracker.

Peneliti Klimadashboard, David Jablonski, menjelaskan bahwa kalkulasi tersebut belum sepenuhnya memperhitungkan kejadian urban heat island alias pulau panas perkotaan.

Sejumlah anak-anak bermain bermain air di Taman Plaenterwald di Berlin, Jerman, Selasa (2/8/2022). Foto: Ina Fassbender/AFP

"Analisis ini belum sepenuhnya menangkap pengaruh pulau panas perkotaan, ketika suhu di kota-kota jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah pedesaan di sekitarnya," ujarnya.

Fenomena tersebut terjadi lantaran area perkotaan mempunyai lebih banyak bangunan, jalan beraspal, dan permukaan beton nan menyerap serta menyimpan panas lebih lama dibandingkan area nan mempunyai banyak ruang hijau.

Akibatnya, suhu di kota-kota besar bisa terasa jauh lebih tinggi dibandingkan prakiraan umum.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan