Penanggung Jawab Evakuasi Tanazul KKHI Makkah, Syougie (SpKP).(Dok. MCH 2026)
PETUGAS Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi melalui Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) terus mengintensifkan program tanazul bagi jemaah haji nan mengalami gangguan kesehatan. Melalui program ini, jemaah dengan indikasi medis tertentu dapat dipulangkan ke Tanah Air lebih awal tanpa kudu menunggu agenda kepulangan kloternya.
Penanggung Jawab Evakuasi Tanazul KKHI Makkah, Syougie (SpKP), menjelaskan bahwa program tanazul diperuntukkan bagi jemaah nan dinilai layak terbang berasas hasil pemeriksaan medis secara ketat.
“Jadi program tanazul ini merupakan program di mana jemaah haji atas indikasi medis itu dipulangkan lebih awal dari kloternya alias jika jemaah hajinya dirawat di rumah sakit dan kloternya telah pulang ke Indonesia itu kita pulangkan,” ujar Syougie di Mekah.
Meski demikian, setiap jemaah nan diusulkan mengikuti program tanazul kudu melalui proses penilaian kesehatan terlebih dahulu. Aspek keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama sebelum jemaah diberangkatkan.
Dokter nan berdinas di RS UI ini menjelaskan, asesmen dilakukan terhadap kondisi medis jemaah, baik nan mempunyai penyakit penyerta (komorbid) maupun nan baru selesai menjalani perawatan di rumah sakit. Setelah itu, tim kesehatan bakal menilai stabilitas kondisi pasien dan berkonsultasi dengan master penanggung jawab pelayanan (DPJP) sesuai penyakit nan diderita jemaah.
“Alur nan kita lakukan adalah setelah pulang dari rumah sakit alias nan datang ke kita, itu bakal kita nilai dulu stabilitasnya lampau bakal kita konsulkan ke DPJP nan terkait. Contoh misalnya dia ada masalah jantung kita konsulkan ke penyakit jantung, dia paska stroke kita konsulkan ke master saraf. Setelah itu baru kelak hasilnya kita nilai apakah layak untuk terbang alias tidak, baru kelak kita programkan untuk mutasi kloternya ke Yanpul,” jelasnya.
Hingga saat ini, permohonan tanazul nan masuk ke KKHI mencapai ratusan kasus. Namun, tidak semua permohonan berujung pada penyelenggaraan tanazul lantaran sebagian jemaah akhirnya dapat kembali pulih dan pulang berbareng kloternya.
“Yang masuk itu ada nyaris 400 permohonan nan masuk tetapi itu baru permohonan saja lantaran kadang mereka telah memohonkan tetapi jemaahnya telah pulang, itu bisa kembali dengan kloternya. Jadi permohonannya bukan ditolak tetapi dia tidak jadi kita tanazulkan,” kata Syougie.
Berdasarkan info terakhir nan dihimpun KKHI hingga Senin (15/6) malam, sebanyak 142 jemaah telah sukses dipulangkan melalui program tanazul. Sementara itu, jumlah permohonan nan tercatat mencapai 334 pengajuan, belum termasuk tambahan 33 permohonan nan masuk pada hari berikutnya.
Syougie memastikan jemaah sakit nan mengikuti program tanazul tetap mendapatkan pengawasan kesehatan secara berkala hingga menjelang keberangkatan. Mereka bakal menjalani pemeriksaan ulang sebelum masuk ke ruang tunggu bandara.
“Kalau dia memang sudah ada jadwalnya itu tidak terlalu lama dari agenda penerbangan lantaran nan amannya itu enam jam sebelum penerbangan jemaah sudah ada di bandara. Tapi untuk jemaah sakit kita bakal nilai ulang sebelum penerbangan,” ujarnya.
Ia menegaskan pendampingan medis tetap diberikan secara melekat selama proses pemulangan. Jemaah nan ditanazulkan bakal terus dipantau oleh petugas kesehatan hingga naik ke pesawat menuju Tanah Air. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·