14 Tahun Perjalanan Mengelola Isu, Konflik dan Krisis

Sedang Trending 1 jam yang lalu
14 Tahun Perjalanan Mengelola Isu, Konflik dan Krisis Ilustrasi(Dok Istimewa)

Pengalaman 14 tahun Nexus Risk Mitigation and Strategic Communication (Nexus RMSC) dalam menangani beragam isu, bentrok dan krisis dituangkan dalam kitab Nexus Way : 14 Years of Incredible Journey in Handling Issues, Conflicts and Crises. Buku tersebut dibahas dalam aktivitas Book Review dan Public Lecture nan digelar berbareng Program Studi Humas Sekolah Vokasi Universitas Indonesia (UI) dan LEMKASI UI di Auditorium Vokasi UI, Kamis (17/9).

Kegiatan nan mengangkat tema “Nexus Way : 14 Years of Incredible Journey in Handling Issues, Conflicts, and Crises” ini menghadirkan sejumlah praktisi komunikasi dan public relations untuk berbagi pengalaman mengenai pengelolaan isu, bentrok dan krisis berasas pengalaman di lapangan. 

Salah satu pembicara, Firsan Nova nan merupakan penulis, Pakar Manajemen Krisis, sekaligus Chief Executive Officer Nexus RMSC, menceritakan perjalanan Nexus selama 14 tahun dalam mendampingi beragam pengguna menghadapi persoalan komunikasi dan reputasi.

Menurut Firsan, perjalanan panjang tersebut mempertemukan Nexus dengan beragam karakter persoalan, mulai dari rumor nan dapat dikelola melalui komunikasi hingga situasi krisis nan memerlukan respons sigap dan terukur.

“Selama 14 tahun membangun Nexus, kami belajar bahwa setiap pengguna mempunyai karakter rumor dan tantangan nan berbeda. Kita kudu memahami konteks, membaca akibat dan menyiapkan respons nan berbeda sesuai kondisi nan ditemui,” ujar Firsan.

Lebih lanjut, dia menekankan pentingnya setiap perusahaan mempunyai parameter krisis nan jelas. Menurutnya, perusahaan perlu bisa membedakan antara rumor biasa, rumor nan berkembang menjadi konflik, hingga situasi nan sudah masuk dalam kategori krisis.

“Perusahaan kudu punya parameter krisis. Jangan sampai ketika situasi sudah membesar baru kita bertanya, ini sebenarnya krisis alias bukan. Dengan parameter nan jelas, perusahaan bisa menentukan kapan kudu melakukan eskalasi, siapa nan kudu terlibat, dan gimana respons komunikasinya,” katanya.

Pembicara lainnya, Aisyah Muftian, nan turut terlibat dalam perjalanan Nexus dan merupakan alumnus cI, membagikan pengalamannya selama berasosiasi dengan Nexus.

Menurut Aisyah, tantangan di bumi kerja justru terletak pada dinamika persoalan nan dapat berubah sangat cepat. Ia mengaku mendapatkan pengalaman nan jauh lebih beragam dan menantang ketika berhadapan langsung dengan beragam rumor klien.

“Dalam satu hari saja, kita bisa shifting menangani empat rumor nan berbeda, dengan karakter pengguna dan kebutuhan komunikasi nan berbeda pula,” ujar Aisyah.

Pengalaman tersebut, lanjutnya, membikin seorang praktisi public relations tidak cukup hanya menguasai teori. Kemampuan membaca situasi, beradaptasi, bekerja cepat, serta memahami karakter setiap persoalan menjadi bagian krusial dalam pekerjaan komunikasi.

Sementara itu, Sari Soegondo, Executive Director IDCOMM sekaligus Ketua Asosiasi Perusahaan PR Indonesia (APPRI), memandang kehadiran kitab Nexus Way sebagai tambahan krusial bagi perkembangan literatur public relations di Indonesia.

Sari mengatakan, pengarsipan pengalaman praktisi dalam corak kitab dapat menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dengan pengalaman ahli nan selama ini banyak berkembang di bumi industri.

“Buku ini krusial untuk menambah literatur tentang public relations, baik bagi bumi akademik maupun praktisi. Pengalaman nan dituangkan dalam kitab seperti ini memberikan gambaran gimana teori dan konsep PR diterapkan dalam menghadapi isu, konflik, dan krisis nan nyata di lapangan,” kata Sari.

Ia menilai, tidak banyak agency seperti Nexus nan memilih “jalan sepi”, lantaran itu literatur nan lahir dari pengalaman seperti ini  dapat membantu mahasiswa dan calon praktisi memahami bahwa pekerjaan public relations tidak hanya berangkaian dengan publikasi dan membangun citra, tetapi juga mencakup keahlian mengantisipasi risiko, mengelola rumor serta mengambil keputusan komunikasi dalam situasi nan penuh tekanan.

Kegiatan tersebut juga diisi dengan book insight session, talkshow bertema “Managing Issues, Conflicts, and Crises in Today’s Landscape”, sesi tanya jawab, serta peresmian buku. Dalam rangkaian aktivitas tersebut juga dilakukan peresmian kerja sama antara APPRI dan UI. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia