11 Bahaya Pakai Tawas untuk Ketiak

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
11 Bahaya Pakai Tawas untuk Ketiak Berikut Bahaya Pakai Tawas untuk Ketiak(magnific)

TAWAS memang sering digunakan sebagai pengganti deodoran alami, tetapi penggunaannya perlu hati-hati. Jika muncul iritasi alias ketidaknyamanan, sebaiknya segera dihentikan dan beranjak ke produk nan lebih sesuai dengan kondisi kulit.

Tawas biasanya berbentuk batu kristal putih cerah dan mudah larut dalam air. Meskipun bermanfaat, penggunaannya kudu tetap hati-hati terutama pada kulit sensitif lantaran bisa menyebabkan iritasi.

1. Iritasi Kulit

Tawas dapat menyebabkan kulit ketek menjadi kemerahan, perih, alias terasa terbakar, terutama pada kulit sensitif.

2. Kulit Kering

Sifat astringent pada tawas bisa membikin kulit kehilangan kelembapan alami sehingga menjadi kering dan kasar.

3. Gatal-Gatal

Penggunaan berulang dapat memicu rasa gatal nan mengganggu, terutama setelah bercukur.

4. Menyumbat Pori-Pori

Tawas dapat menutup pori-pori keringat sehingga mengganggu proses alami pengeluaran keringat.

5. Risiko Peradangan

Pada sebagian orang, tawas dapat memicu peradangan ringan di area ketiak.

6. Tidak Cocok untuk Kulit Sensitif

Orang dengan kulit sensitif lebih mudah mengalami reaksi negatif seperti ruam alias perih.

7. Mengganggu Keseimbangan Kulit

Penggunaan jangka panjang bisa mengganggu mikroflora alami kulit ketiak.

8. Menyebabkan Rasa Tidak Nyaman Setelah Cukur

Setelah mencukur bulu ketiak, kulit lebih terbuka dan tawas dapat menimbulkan sensasi perih.

9. Potensi Alergi

Beberapa orang bisa mengalami reaksi alergi seperti bentol alias kemerahan.

10. Efek Jangka Panjang Belum Sepenuhnya Jelas

Penggunaan terus-menerus dalam jangka panjang tetap menjadi perdebatan dalam aspek keamanan kulit.

11. Kurang Efektif untuk Keringat Berlebih

Tawas tidak betul-betul menghentikan produksi keringat, sehingga pada beberapa orang hasilnya kurang maksimal dibanding antiperspiran modern. (Z-4)

Sumber: alodokter, halodoc

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia