Jakarta -
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) menegaskan kiprah alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) dalam perjalanan ketatanegaraan Indonesia telah berjalan sejak lama. Menurutnya, sejak era MPRS hingga Reformasi, alumni Gontor tercatat mengisi posisi krusial di lembaga permusyawaratan negara.
HNW mengatakan sejarah mencatat Ketua MPRS pertama, KH Dr Idham Chalid, merupakan alumni Gontor. Memasuki era Reformasi, posisi Ketua MPR RI juga pernah dijabat oleh alumni Gontor, ialah Hidayat Nur Wahid.
"Sepanjang sejarah Reformasi selalu saja alumni Gontor menjadi ketua MPR. Kalau tidak ketua, adalah wakil ketua," kata HNW, dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut disampaikan HNW dalam aktivitas Malam Peradaban nan digelar untuk menyambut 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (6/9) malam.
Menurut HNW, kiprah tersebut menunjukkan bahwa selama satu abad pertama, Gontor tidak hanya berkedudukan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga turut memberikan warna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia menilai nilai-nilai nan ditanamkan di lingkungan pesantren, seperti etika, pengetahuan pengetahuan, pembelajaran, dan semangat perjuangan, perlu terus diwujudkan para alumni melalui beragam bagian pengabdian.
HNW menambahkan Gontor telah memberikan kontribusi melalui pendidikan nan tidak memisahkan penguasaan pengetahuan dengan nilai keagamaan. Prinsip tersebut dinilai relevan dengan arah pendidikan nasional sebagaimana ditegaskan dalam konstitusi.
Pendidikan, Agama, dan Arah Bangsa
Turut berkedudukan dalam kebijakan arah pendidikan bangsa di parlemen baik di DPR maupun MPR, adalah satu upaya nan dilakukan Gontor untuk menjaga dan membingkainya, sehingga hadirlah UUD NRI Tahun 1945, nan pada Pasal 31 ayat (3) dan ayat (5), memberikan penegasan tentang bakal dibawa kemana pendidikan Indonesia.
Menurut HNW, pendidikan nasional tidak cukup hanya berorientasi pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan juga kudu bisa meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan adab mulia.
"Dasar pendidikan ini menjadi banget sangat kokoh ketika kemudian dia bisa mengoreksi upaya-upaya untuk membawa pendidikan Indonesia keluar dari jalur agama," ujarnya.
Ia mencontohkan polemik mengenai rancangan peta jalan pendidikan nasional pada periode sebelumnya nan menurutnya sempat mengabaikan unsur agama.
Dalam konteks itu, HNW menilai konstitusi menjadi instrumen krusial untuk memastikan kebijakan pendidikan tetap berada dalam koridor nan telah ditetapkan negara.
Penguatan terhadap pendidikan keagamaan juga diwujudkan melalui Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional dan kemudian Undang-Undang tentang Pesantren nan disahkan pada 2019.
HNW mengatakan lahirnya UU Pesantren merupakan hasil kerjasama pemerintah, DPR, dan para ustad pesantren. Ia juga menyoroti peran Menteri Agama saat itu, Lukman Hakim Saifuddin, nan merupakan alumni Gontor.
"Hadirlah Undang-Undang tentang Pesantren nan memberikan bingkai banget sangat kokoh dan kuat bagi pesantren dan bagi alumni-alumni pesantren," katanya.
Menurutnya, penguatan posisi pesantren melalui izin menjadi bagian krusial dalam memastikan nilai-nilai keagamaan dan kepesantrenan tetap menjadi bagian dari pembangunan bangsa.
Gontor Menuju Abad Kedua
Memasuki usia 100 tahun, HNW berambisi Gontor tidak berakhir pada pencapaian sejarah, tetapi menjadikan pengalaman satu abad pertama sebagai modal untuk memasuki abad kedua.
Menurut HNW, modal tersebut semakin besar dengan berkembangnya cabang-cabang Gontor, munculnya pesantren-pesantren nan terinspirasi dari Gontor, serta kiprah para alumninya di beragam bidang.
Ia berambisi Gontor dapat terus membersamai perjalanan bangsa Indonesia sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat bumi dengan menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil alamin.
Dan itu bakal menjadi sesuatu nan sangat mungkin dilakukan ketika basisnya adalah pendidikan pesantren, pesantren nan modern, pesantren nan terus bisa menghadirkan spirit dan sekaligus inspirasi nan tidak pernah berhenti.
Ia menilai pendidikan pesantren nan modern dapat menjadi salah satu kekuatan untuk membangun manusia Indonesia nan berilmu, berakhlak, dan mempunyai semangat pengabdian. Karena itu, HNW mengaitkan penguatan pendidikan berbasis nilai keagamaan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045.
Menurut HNW, visi tersebut bakal lebih mungkin diwujudkan andaikan arah pendidikan nasional betul-betul dijalankan sesuai petunjuk konstitusi dan UU Pesantren.
"Kita bakal bisa menuju Indonesia Emas 2045 ketika kemudian tujuan pendidikan nasional dan Undang-Undang tentang Pesantren diwujudkan dengan sebenar-benarnya," tegasnya.
HNW juga menyampaikan apresiasi kepada para ustad dan ketua Pondok Modern Darussalam Gontor nan selama satu abad dinilai konsisten menjaga dan mengembangkan lembaga pendidikan tersebut.
Ia membujuk seluruh family besar Gontor memandang peringatan satu abad bukan sebagai titik akhir, melainkan momentum untuk melanjutkan perjuangan pada abad kedua.
Peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor dijadwalkan berjalan pada 19-20 September 2026 di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.
HNW berambisi Gontor dapat terus menjadi pusat pendidikan nan melahirkan generasi berilmu, berakhlak, serta bisa berkontribusi bagi bangsa dan dunia.
"Terima kasih nan luar biasa, nan sangat mendalam kepada para ustad kita, para ketua kita Pondok Modern Darussalam Gontor nan telah bukan hanya menghadirkan, tapi menjaga, mengembangkan, sehingga kita semuanya pada malam hari ini bisa berada di sini untuk kemudian melanjutkan perjuangan di abad kedua daripada Pondok Modern Darussalam Gontor," pungkasnya.
Sebagai tambahan, datang dalam acara, Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal dan K.H. M. Akrim Mariyat, berbareng seluruh jejeran Anggota Badan Wakaf PMDG, para Duta Besar negara sahabat antara lain dari Kuwait, Palestina, Turki, Tunisia, Sudan, dan para peserta Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026. Acara juga dihadiri Plt Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah dan tamu undangan lainnya.
(akd/ega)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·