Video Lego Iran: Bagaiman Propaganda Perang melawan Trump

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Dok Generated AI

Dunia mengenal Lego sebagai simbol produktivitas tanpa batas, ketertiban, dan kepolosan masa kecil. Namun, dalam ruang digital hari ini, balok-balok plastik itu telah mengalami re-purposing nan ekstrem. Di tangan pembuat asal Iran, karakter-karakter mini nan kaku ini berubah menjadi tokoh dalam panggung perang kognitif, meluncurkan rudal-rudal nan tidak hanya mengincar sasaran fisik, melainkan menyerang persepsi publik di Barat.

Fenomena video animasi bergaya Lego nan viral belakangan ini bukan sekadar tren kreatif. Ini adalah corak disonansi visual nan memaksa penonton berakhir sejenak di tengah kebisingan media sosial. Mengapa Lego? Karena Lego adalah bahasa visual universal. Dengan membungkus pesan politik nan tajam, mengenai tragedi kemanusiaan, kebijakan luar negeri, hingga rumor domestik Amerika Serikat, dalam estetika mainan, pembuat sukses menurunkan kewaspadaan kritis penonton. Pesan tersebut masuk bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai intermezo visual nan mudah dicerna.

Dalam kacamata kriminologi dan studi keamanan, kejadian ini adalah manifestasi dari perang asimetris nan canggih. Negara alias tokoh non-negara sekarang menyadari bahwa mereka tidak mungkin memenangkan konfrontasi militer kinetik secara langsung melawan hegemoni Amerika Serikat. Sebagai gantinya, mereka menggunakan teknologi AI sebagai force multiplier. Produksi video nan cepat, berbiaya rendah, namun tersebar masif, memungkinkan mereka untuk memenangkan "kavling" di ruang pikiran masyarakat dunia.

Dok Generated AI

Strategi nan digunakan sangat presisi. Kreator tidak hanya menyerang secara membabi buta. Mereka mengeksploitasi celah domestik Amerika (fissures). Dengan mengangkat rumor seperti kasus Jeffrey Epstein, polarisasi politik domestik, hingga narasi mengenai subordinasi kebijakan luar negeri AS terhadap kepentingan tertentu, mereka membenturkan narasi musuh dengan menggunakan argumen nan sebenarnya lahir dari internal masyarakat Amerika sendiri. Ini adalah teknik penyelundupan info nan cerdas, nan membikin khalayak internasional mempertanyakan legitimasi tindakan Amerika.

Lebih jauh, kita tengah menyaksikan normalisasi "perang sebagai tontonan" (war as a spectacle). Ketika kematian, serangan rudal, dan kehancuran sebuah bangsa dibungkus dalam corak Lego, empati publik terhadap korban nyata justru berisiko terdegradasi. Di era post-truth ini, video-video ini memenangkan persepsi publik bukan lantaran menyajikan info nan akurat, melainkan lantaran menawarkan "perasaan benar" (truthiness). Sarkasme, musik rap, dan visual nan catchy menciptakan kesan bahwa perlawanan terhadap hegemoni adalah sesuatu nan "keren" dan relevan bagi generasi muda dunia.

Sebagai pengamat keamanan, kita kudu menyadari bahwa front pertempuran sekarang telah bergeser ke dalam genggaman setiap orang. Perang masa depan tidak lagi ditentukan semata oleh siapa nan mempunyai peluru terbanyak alias rudal tercanggih, melainkan oleh siapa nan bisa menguasai narasi digital. Kemampuan memilah antara hiburan, agitasi, dan kebenaran menjadi pertahanan sipil nan paling krusial.

Pada akhirnya, perang ini mengingatkan kita bahwa kedaulatan sebuah negara di masa depan juga kudu dibangun di atas kedaulatan narasi digital. Tanpa literasi media nan kuat, kita semua berisiko menjadi "penonton" nan tidak sadar tengah diarahkan untuk memihak dalam sebuah narasi nan dikonstruksi secara matematis oleh algoritma. Mengabaikan kekuatan "propaganda mainan" ini bukan hanya naif, tetapi juga rawan bagi keamanan dunia nan semakin cair.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan