Pemerintah mempercepat rangkaian uji coba biodiesel B50 lintas sektor menjelang sasaran penerapan nasional pada 1 Juli 2026.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan sejumlah pengetesan kunci telah mendekati tahap akhir, terutama di sektor otomotif, pertambangan, dan maritim.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyebut progres pengetesan melangkah sesuai jalur waktu nan ditetapkan sejak dimulai serentak pada Desember 2025.
“Insyaallah (implementasi penuh)sesuai dengan pengarahan bisa 1 Juli,” ujar Eniya saat ditemui dalam aktivitas uji jalan B50 di Lembang, Selasa (21/4).
Pengujian B50 dilakukan secara komprehensif di enam sektor, ialah otomotif, pertambangan, perangkat mesin pertanian, kelautan, pembangkit listrik, serta perkeretaapian.
Uji coba tersebut mencakup pertimbangan performa mesin, konsumsi bahan bakar, hingga ketahanan operasional di beragam kondisi.
Eniya menjelaskan, untuk sektor otomotif, pengetesan dilakukan pada sembilan kendaraan dari beragam pabrikan, termasuk Eropa dan Jepang. “Sembilan (kendaraan uji coba) kali ini pabrikannya bukan hanya pabrikan Jepang, pabrikan Eropa juga ikut,” katanya.
Pengujian kendaraan ringan ditargetkan mencapai jarak tempuh 50.000 kilometer, sementara kendaraan berat seperti truk dan bus telah menyelesaikan uji hingga 40.000 kilometer.
Selain otomotif, uji coba juga melibatkan perangkat pertanian beragam jenis, perangkat berat tambang, hingga kapal laut nan untuk pertama kalinya diuji langsung dalam kondisi berlayar.
Performa Mesin dan Kualitas Bahan Bakar
Hasil sementara menunjukkan kualitas B50 memenuhi spesifikasi teknis nan dipersyaratkan. Salah satu parameter krusial adalah kadar air (water content) nan tercatat berada di bawah periode batas.
“Keluar angkanya 208,8. Itu berfaedah di bawah 300 PPM, lebih bagus,” ujar Eniya.
Ia menegaskan, semakin rendah kandungan air, semakin baik performa bahan bakar terhadap mesin. Bahkan, beberapa pabrikan mencatat nomor nan lebih rendah, meski dalam praktik pengedaran kandungan air dapat meningkat akibat proses penanganan.
Dari sisi performa kendaraan, hasil uji menunjukkan konsumsi bahan bakar tetap berada dalam kisaran klaim pabrikan. Tidak ditemukan indikasi penurunan performa signifikan, termasuk tidak adanya kebutuhan penggantian filter selama masa uji.
Uji Lintas Sektor dan Tahapan Menuju Implementasi
Uji coba B50 dimulai sejak 9 Desember 2025 dan dilakukan secara paralel di beragam sektor. Pemerintah menargetkan tiga sektor utama otomotif, tambang, dan maritim rampung pada Juli 2026, sementara sektor lainnya menyusul secara bertahap.
Untuk sektor perkeretaapian, pengetesan dijadwalkan dimulai dalam waktu dekat dengan rute Lempuyangan–Pasar Senen dan Gambir–Pasar Turi. Selain itu, pengetesan juga bakal dilakukan di wilayah bersuhu rendah seperti Bromo guna memastikan keandalan bahan bakar dalam kondisi ekstrem.
“Prediksi kita itu Juli sudah selesai tiga sektor. Jadi otomotif selesai, tambang selesai, maritim selesai,” kata Eniya.
Pemerintah menegaskan penerapan B50 bakal dilakukan serentak secara nasional, tanpa skema berjenjang per wilayah alias sektor. “Semua sektor, nasional,” ujarnya.
Pasokan dan Harga Masih Dihitung
Di sisi pasokan, pemerintah memastikan kesiapan bahan baku fatty acid methyl ester (FAME) tetap terjaga. Eniya menyebut pasokan tetap dalam kondisi kondusif meski kalkulasi rinci terus dilakukan.
“Kalau saya prediksi cukup. Cukup. FAME-nya cukup,” ujarnya.
Adapun untuk nilai B50, pemerintah bakal mengikuti formula nan selama ini digunakan dan disesuaikan secara berkala. “Mengikuti formula. Kalau itu mengikuti formula kan tiap bulan kita keluarkan harganya,” kata Eniya.
Perhitungan lebih lanjut tetap dilakukan berbareng Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), terutama untuk memproyeksikan konsumsi hingga akhir tahun.
Dampak dan Strategi Besar B50
Di kembali percepatan penerapan B50, pemerintah menempatkan program ini sebagai bagian dari strategi besar mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil sekaligus memperkuat kemandirian daya nasional.
Pemanfaatan biodiesel berbasis minyak sawit mentah (CPO) juga diarahkan untuk mengoptimalkan sumber daya domestik serta mendukung sasaran penurunan emisi gas rumah kaca menuju Net Zero Emission pada 2060.
Kebijakan pengembangan bahan bakar nabati tidak hanya menyasar aspek energi, tetapi juga ekonomi dan sosial. Pemerintah memandang program ini bisa meningkatkan nilai tambah komoditas sawit, membuka lapangan kerja, serta mendorong kesejahteraan petani. Dari sisi lingkungan, penggunaan biodiesel menjadi instrumen krusial dalam menekan emisi dan mempercepat transisi menuju daya bersih.
Hingga pertengahan April 2026, realisasi penyaluran biodiesel telah mencapai sekitar 3,90 juta kiloliter alias 24,9 persen dari total alokasi awal tahun ini. Angka tersebut mencerminkan percepatan pengedaran seiring persiapan peralihan dari B40 menuju B50 nan dijadwalkan mulai Juli.
Pemerintah memperkirakan masa transisi berjalan sekitar tiga bulan, dengan penyesuaian pada kapabilitas produksi, distribusi, serta regulasi.
Dari sisi manfaat, penerapan B50 diproyeksikan memberikan akibat signifikan. Penghematan devisa negara diperkirakan meningkat hingga Rp 157,28 triliun pada 2026, lebih tinggi dibandingkan capaian sebelumnya.
Selain itu, program ini berpotensi menyerap lebih dari 2,2 juta tenaga kerja dan menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton CO₂.
Secara teknis, hasil uji sementara menunjukkan B50 mempunyai keahlian nan andal dan kompatibel dengan teknologi mesin nan ada saat ini. Parameter kualitas seperti kadar air, monogliserida, dan stabilitas oksidasi berada dalam pemisah nan dipersyaratkan. Uji performa juga menunjukkan konsumsi bahan bakar tetap stabil sesuai standar pabrikan, tanpa indikasi gangguan berfaedah pada mesin maupun sistem bahan bakar.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·