Turun 30 Persen, Jumlah Kasus Gizi Buruk di DIY Tersisa 191 Anak pada 2025

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi gizi anak. Foto: iStock

Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat jumlah kasus gizi jelek pada 2025 mencapai 191 anak. Angka ini menurun sekitar 30 persen dibandingkan tahun 2024 nan mencapai 275 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Gregorius Anung Trihadi, mengatakan penurunan tersebut menunjukkan tren perbaikan penanganan gizi jelek di wilayah DIY.

“Itu turun 0,04 persen, tahun 2024 ada 275 kasus jadi turun cukup banyak,” kata Anung ditemui di Gedung DPRD DIY, Senin (13/4).

Secara persentase, nomor gizi jelek di DIY juga menurun dari 0,17 persen menjadi 0,13 persen pada 2025.

Anung menjelaskan, penanganan gizi jelek dilakukan secara komprehensif melalui beragam layanan, mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga edukasi keluarga. Program ini melibatkan tenaga medis serta support lintas sektor, termasuk pemerintah wilayah dan dinas sosial.

Layanan nan diberikan mencakup pemeriksaan oleh master anak, pemberian makanan tambahan, hingga penyuluhan pola makan di rumah. Seluruh pembiayaan program juga telah diakomodasi pemerintah daerah.

“Sebetulnya nggak perlu cemas soal biaya lantaran memang sudah diakomodasi Pemda sampai kemudian kita datangkan dokter. Memang ada juga dari pembiayaan lain nan tetap ada dalam koridor,” kata Anung.

Intervensi penanganan dilakukan hingga tingkat kabupaten/kota dengan support tenaga kesehatan. Kabupaten Gunungkidul menjadi wilayah dengan intervensi terbanyak dalam penanganan gizi buruk.

“Salah satu wilayah pedoman intervensi kita adalah Gunungkidul itu menjadi salah satu nan terbanyak dari beberapa kabupaten kota tapi saya lupa persentasenya berapa, tapi itu intervensi terbanyak itu di 2024 dan di 2025 ada di Gunungkidul,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Anung menjelaskan penemuan kasus gizi jelek dilakukan sejak usia balita melalui pemantauan pertumbuhan rutin di akomodasi kesehatan. Pengukuran meliputi berat badan, tinggi badan, serta umur anak nan dianalisis untuk menentukan status gizi.

Dari pemantauan tersebut, tenaga kesehatan dapat segera memberikan intervensi awal sebelum kondisi memburuk.

Dinkes DIY juga mencatat nomor anak dengan kondisi kurang gizi (underweight) nan turut mengalami penurunan. Pada 2025, angkanya berada di 10,28 persen, turun dari 10,73 persen pada 2024.

Anung menegaskan bahwa underweight berbeda dengan gizi buruk, baik dari tingkat keparahan maupun parameter pengukurannya.

“Kalau underweight itu hanya berasas berat badan per umur, sementara jika wasting dan gizi jelek itu berat badan per tinggi badan,” kata Anung.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan