"Trust the Process" itu Filosofi atau Sekadar Pembenaran?

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi: AI-generated

"Trust the process." Tiga kata nan terasa begitu menenangkan sekaligus misterius. Antara kepercayaan dan pelarian.

Mungkin kita pernah mendengar kata ini dari curhatan kawan nan sedang dalam keadaan sulit, dari konten motivasi di media sosial, alias pun bisa saja terdengar dari diri sendiri saat masa-masa paling lelah. Frasa ini seolah menjadi mantra ajaib bagi mahasiswa nan menunggu hasil sidang skripsi, atlet nan sedang dalam masa pemulihan cedera, hingga seseorang nan tengah menunggu jawaban dari sang gebetan.

Tapi tunggu. Proses mana nan dipercaya? Menuju ke mana? Dan nan lebih penting, apakah kita betul-betul sedang berproses, alias hanya sekadar tak bersuara sembari menunggu sesuatu terjadi dengan sendirinya?

Saat Kata-kata Terdengar Bijak tapi Kosong

Dalam filsafat, ada satu bagian pengetahuan nan secara unik membahas gimana manusia membangun keyakinan, namanya epistemologi. Inti dari epistemologi itu sederhana: tidak semua nan kita yakini otomatis benar, dan tidak semua nan terasa betul sudah tentu berdasar (Suriasumantri, 2009).

"Trust the process" sebenarnya mempunyai fondasi nan sah secara filosofis. Ide dasarnya masuk akal, bahwa sebuah perihal itu memerlukan waktu, hasil nan memuaskan menuntut proses nan berkepanjangan dan jarang terjadi secara instan. Bahkan sains bekerja dengan langkah nan mirip: sebuah asumsi diuji secara berulang, direvisi, diuji lagi, sebelum akhirnya berhujung dengan adanya konklusi (Popper, 2002).

Jadi secara filosofis, mempercayai sebuah proses itu bukan perihal nan naif. Masalahnya, kita jarang sekali berakhir untuk mendefinisikannya. Kita menerima frasa tersebut begitu saja, seperti resep nan diberikan tanpa tahu bahan-bahannya. Padahal sebuah proses nan baik semestinya punya arah nan jelas, langkah nan terukur, dan keberanian untuk berubah ketika sesuatu tidak melangkah semestinya.

Kesabaran terhadap proses adalah kebajikan. Tapi kesabaran tanpa arah bisa jadi sekadar penundaan nan disamarkan.

Garis Tipis antara Sabar dan Pasif

Di sinilah masalah mulai muncul.

Ada perbedaan signifikan antara kesabaran nan aktif dengan kepasifan nan dirasionalisasi. Perbedaan ini sebetulnya tidak serumit nan terlihat. Ada orang nan mengucapkan "trust the process" sembari diam-diam terus mengevaluasi dirinya sendiri setiap malam. Dan ada nan mengucapkan kalimat nan sama, tapi sebagai langkah untuk berakhir bertanya.

Seorang atlet nan berpegang pada "trust the process" sembari terus berlatih setiap hari, mengevaluasi progresnya, dan menyesuaikan pendekatannya, itu adalah sikap nan punya fondasi logis nan kuat.

Tapi gimana dengan seseorang nan tetap memperkuat dalam situasi nan jelas-jelas tidak sehat, entah itu hubungan nan toksik, lingkungan nan tidak mendukung, alias kebiasaan nan merusak diri dan terus membenarkan semuanya dengan argumen "trust the process"?

Di sinilah frasa tersebut berakhir menjadi makulat dan mulai berfaedah sebagai apa nan dalam ilmu jiwa disebut rasionalisasi: menciptakan argumen nan terdengar logis untuk membenarkan sesuatu nan sebenarnya kita lakukan lantaran aspek emosional, bukan logis (Tavris & Aronson, 2007).

Maka pertanyaannya kembali pada diri kita masing-masing. Apakah kita sedang berproses dengan sadar, ada langkah nyata nan dibuat, ada evaluasi, ada keberanian untuk mengubah arah ketika diperlukan? Atau rupanya selama ini "trust the process" nan kita pegang justru hanya menjadi langkah kita untuk berdiam diri, tanpa betul-betul bergerak menuju ke mana pun?

Apa Kata Logika Penyelidikan Ilmiah?

Dalam kerangka Logika Penyelidikan Ilmiah, setiap kepercayaan nan kita pegang semestinya bisa diuji dan dievaluasi (Suriasumantri, 2009).

Ilmu pengetahuan tidak meminta kita percaya secara buta, dia meminta kita percaya berasas bukti, dan tetap terbuka untuk merevisi kepercayaan ketika bukti baru datang (Popper, 2002).

Prinsip ini bukan sekadar urusan laboratorium alias ruang kelas. Ia semestinya kita bawa ke dalam langkah kita menjalani hidup, termasuk dalam menyikapi kepercayaan nan sudah lama kita pegang tanpa pernah betul-betul dipertanyakan. Alih-alih menerima "trust the process" secara mentah-mentah, kita bisa mengusulkan pertanyaan nan lebih kritis: apa nan dimaksud "proses" ini? Indikator apa nan menunjukkan dia melangkah ke arah nan benar? Dan kapan waktunya mengubah proses, bukan sekadar mempercayainya?

Ada juga pertanyaan nan lebih dalam: proses menuju apa? Karena proses apa pun hanya berarti jika dia mengarah pada sesuatu nan berbobot (Frankl, 2006). Mempercayai proses nan tidak jelas tujuannya bukan sebuah kebijaksanaan, itu kemalasan berpikir nan dibalut kata-kata nan terdengar indah.

Dengan kata lain, bukan "trust the process"-nya nan salah. nan perlu dipertanyakan adalah: proses seperti apa nan layak untuk dipercaya?

Jadi, Filosofi alias Pembenaran?

Jawabannya: bisa keduanya, tergantung dengan gimana langkah menggunakannya.

"Trust the process" adalah filosofi ketika dia datang berbareng kesadaran, evaluasi, beserta komitmen untuk terus bergerak. Ia adalah pembenaran ketika dia digunakan sebagai tameng untuk menghindari refleksi nan sesungguhnya (Kahneman, 2011).

Perbedaan keduanya mungkin tidak selalu terlihat dari luar. Tapi kita dapat mengetahuinya dari dalam diri sendiri. Kita tahu apakah kita sedang berjuang dengan sadar, alias sekadar berlindung di kembali frasa nan terdengar bijak.

Dan justru di situlah letak tantangannya. Karena berlindung di kembali frasa nan terdengar bijak itu jauh lebih nyaman daripada menghadapi realita bahwa mungkin kita perlu mengubah arah. Mungkin kita perlu mengakui bahwa proses nan selama ini kita jalani tidak membawa kita ke mana pun nan berarti.

Dan inilah nan membikin makulat pengetahuan begitu relevan dalam kehidupan sehari-hari: dia mengajarkan kita bahwa berpikir kritis bukan sekadar aktivitas akademik. Ia adalah langkah kita bernavigasi di dunia, termasuk di momen-momen ketika kita paling capek dan paling butuh pegangan.

Berpikir kritis bukan berfaedah menjadi pesimis alias tidak percaya diri. Justru sebaliknya, itu tanda bahwa kita cukup menghargai diri sendiri untuk tidak asal menerima sesuatu begitu saja, termasuk terhadap frasa nan sudah telanjur terasa seperti kebenaran.

Percaya pada prosesmu. Tapi sebelum itu, kenali dulu proses apa nan sedang Anda jalani.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan