Rencana Presiden AS Donald Trump memblokade penuh Selat Hormuz semakin menakut-nakuti krisis nan tengah terjadi di Timur Tengah.
Selat Hormuz berada di titik panas perang antara AS-Israel dengan Iran nan dimulai pada 6 minggu lalu. Iran memperkuat cengkeramannya di Selat Hormuz dengan menutup jalur krusial itu. Ancaman blokade penuh dapat menghentikan aliran nan tersisa dan menakut-nakuti ekonomi di luar Timur Tengah.
Dikutip dari Bloomberg, Senin (13/4), transit kapal turun per harinya, turun dari sekitar 135 pada masa-masa sebelum perang. Blokade Angkatan Laut AS seperti nan dilakukan di lepas pantai Venezuela dari akhir tahun lampau dapat mengurangi jumlah itu jadi nol, menekan Iran tetapi juga memutus sumber pasokan vital bagi negara-negara Asia.
Namun, tetap belum jelas gimana blokade ini bakal diterapkan ke depan, alias apakah Washington sudah siap menanggung segala risikonya. Lalu, gimana dampaknya terhadap Iran dan negara-negara Asia nan berjuntai pada minyak dari Timur Tengah?
Penjelasan Singkat Ancaman Blokade AS
Beberapa jam setelah perundingan tenteram nan dilakukan di Islamabad, Pakistan, kandas mencapai kata sepakat pada Minggu (12/4), Trump menulis di media sosial bahwa Angkatan Laut AS bakal segera memberlakukan blokade semua kapal nan mencoba masuk alias meninggalkan Selat Hormuz.
Dia mengatakan negara-negara lain bakal berpartisipasi, tanpa menyebut nama-nama negara itu.
Trump juga menakut-nakuti bakal mencegat setiap kapal di perairan internasional nan telah bayar tarif ke Iran, nan menyiratkan bahwa AS dapat memberlakukan blokade secara luas, jauh melampaui Selat Hormuz dan apalagi perairan Teluk Oman.
Militer AS secara terpisah mengeluarkan interpretasi nan lebih sempit, ialah menetapkan dimulainya blokade pada Senin pukul 10.00 pagi waktu setempat. Blokade itu bertindak pada seluruh kapal nan memasuki alias berangkat dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Militer juga menambahkan bahwa kebebasan navigasi melalui koridor tersebut tidak bakal terhambat.
Para pelaut disarankan untuk memonitor siaran resmi dan menghubungi pasukan Angkatan Laut AS ketika berada di Teluk Oman dan mendekati Selat Hormuz.
Meski belum jelas corak blokade nan bakal diterapkan, namun tampaknya bakal melibatkan pemeriksaan dan mencegat beberapa kapal, apalagi mungkin menyita kapal-kapal nan mengenai dengan Teheran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran menanggapi seruan Trump dengan menyatakan setiap kapal militer nan berupaya mendekati Selat Hormuz dengan dalih apa pun bakal dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Kenapa AS Mau Blokade Selat Hormuz?
Penutupan Selat Hormuz telah terbukti sebagai senjata asimetris nan efektif, menimbulkan kerugian finansial nan susah diatasi oleh Washington. Tujuan dari blokade adalah untuk memutus aliran minyak Iran, memutus jalur finansial krusial negara itu.
Namun, Iran sukses menunjukkan kemampuannya menghalang pihak-pihak lain sembari tetap menjaga kelancaran pengiriman minyaknya sendiri. Langkah ini membantu meningkatkan pendapatan minyak, sekaligus mendorong kenaikan nilai minyak global.
Opsi blokade telah digunakan oleh pemerintahan Trump di Venezuela, mencekik ekonomi nan terdampak hukuman untuk kemudian dengan mudah melumpuhkan kepemimpinan di sana. Namun, produsen minyak Amerika Latin itu jauh lebih kecil, berjuntai pada armada kapal nan jauh lebih terbatas dan juga kurang krusial bagi importir minyak terbesar di dunia: China.
"Eskalasi baru ini kemungkinan memicu eskalasi lebih lanjut daripada mendorong rekonsiliasi. Ancaman itu kemungkinan cukup untuk mencegah pengiriman internasional nan sah keluar dari Teluk Persia," kata mantan perwira Angkatan Laut AS dan co-founder Yokosuka Council on Asia-Pacific Studies, John Bradford.
Apa Arti Blokade Ini untuk Iran?
Jika blokade berhasil, maka Iran bakal sangat dirugikan lantaran sangat berjuntai pada ekspor minyaknya.
Dalam beberapa minggu terakhir, Iran diuntungkan dari peningkatan nilai dan kargo nan sebelumnya dijual dengan nilai potongan nilai dibandingkan Brent dunia nan dijual dengan nilai premium bulan ini, berkah pengecualian AS nan memungkinkan pembelian kargo nan sebelumnya dikenakan hukuman untuk meningkatkan pasokan.
India tampaknya telah mengambil dua kargo berasas pengecualian tersebut -- menjadi nan pertama sejak 2019.
Harga jual nan lebih tinggi untuk setiap barel sangat krusial bagi Iran, nan telah menderita kerugian besar akibat serangan udara AS dan Israel dan kudu melakukan investasi signifikan untuk membangun kembali dan menopang ekonominya nan hancur.
Apa Dampaknya Bagi Asia?
Asia menanggung beban terberat dari krisis energi, dan pembatasan lebih lanjut pada lampau lintas Selat Hormuz dapat memperburuk penderitaan di kawasan.
Pengecualian AS terhadap minyak Iran tampaknya dibatalkan oleh blokade tersebut — sebuah pembalikan tajam — dan negara-negara nan telah berupaya mencapai kesepakatan bilateral dengan Iran mungkin sekarang waspada untuk berkonflik dengan AS, nan selanjutnya membatasi pilihan mereka untuk mengamankan bahan bakar dan minyak mentah.
“Mereka begitu konsentrasi pada Iran sehingga mereka kehilangan pandangan tentang apa nan mereka sebabkan bagi dunia,” kata Jorge Montepeque, kepala pelaksana di Onyx Capital Group, dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg.
“Dan penderitaannya ada di Asia, penderitaannya ada di Pasifik Selatan, penderitaannya ada pada siapa pun nan berjuntai pada minyak,” lanjutnya.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·