Toyota Indonesia Sebut Pelemahan Rupiah Jadi Momentum Dongkrak Ekspor

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Sejumlah mobil nan bakal di ekspor terparkir di PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Karawang Plant 1, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/10/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Pelemahan nilai tukar rupiah kerap dipandang sebagai sentimen negatif bagi industri otomotif. Namun, bagi Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), kondisi ini justru membuka kesempatan nan belum sepenuhnya dimanfaatkan, khususnya di sektor ekspor.

Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam, menilai depresiasi rupiah semestinya bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing di pasar global. Per hari ini, Senin, 20 April 2026, nilai tukar rupiah menyentuh Rp 17.145.

"Sekarang dengan rupiah di kisaran Rp 17.000, Indonesia jadi kompetitif sebagai eksportir. Ini kesempatan kita,” ujar Bob saat ditemui usai seremoni kerjasama Toyota Indonesia-CATL di Tangerang, Senin (20/4).

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Bob Azzam. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Menurutnya, pelemahan mata duit membikin biaya produksi di dalam negeri relatif lebih murah jika dibandingkan dengan negara lain, sehingga produk Indonesia mempunyai kelebihan nilai di pasar internasional, semacam 'diskon alami' untuk pembeli luar negeri.

Sebagai gambaran begini, andaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah, maka peralatan nan diproduksi di Indonesia nan umumnya dibeli dalam rupiah menjadi relatif lebih murah bagi pembeli luar negeri. Semakin tinggi kandungan lokal, semakin besar faedah pelemahan rupiah.

Sebaliknya, model nan komponennya sebagian besar tetap diimpor jadi kurang diuntungkan lantaran biaya produksi ikut naik.

Aktivitas ekspor kendaraan buatan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN/Toyota Indonesia). Foto: TMMIN

Secara historis, tren pelemahan rupiah bukan perihal baru. Ia menyebut depresiasi mata duit secara berjenjang sudah terjadi sejak lama, apalagi bisa mencapai sekitar 3 hingga 4 persen setiap tahun.

"Jadi kita kudu prepare, memang dua tahun terakhir ini sampai 7 persen, tapi di sisi lain dengan rupiah melemah ini kesempatan bagi kita untuk menjadi eksportir," katanya.

Kondisi ini menurutnya kudu menjadi dasar bagi pelaku industri untuk menyusun strategi jangka panjang, bukan sekadar merespons situasi jangka pendek. Apalagi, TMMIN sendiri telah lama menjadikan ekspor sebagai salah satu pilar bisnisnya, dengan beragam model kendaraan nan diproduksi di Indonesia untuk pasar global.

Aktivitas ekspor kendaraan buatan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN/Toyota Indonesia). Foto: TMMIN

"Kita kudu lihat orientasinya ke depan jangka panjang. Kalau lihat jangka pendek, nan sudah banyak nan tutup. Pengalaman kita, Toyota menghadapi saat-saat susah seperti 98, kita enggak pernah keluar dari Indonesia. Baru bangun pabrik di Karawang, tiba-tiba terjadi 98. Kita enggak pernah menyatakan keluar dari Indonesia," lanjut Bob.

Menurut Bob, kunci utama agar kesempatan ini bisa dimanfaatkan terletak pada kesiapan industri dalam negeri, mulai dari kapabilitas produksi hingga daya saing produk. Tanpa persiapan nan matang, pelemahan rupiah hanya bakal menjadi nomor tanpa akibat signifikan terhadap peningkatan ekspor.

“Kalau industrinya kuat, justru ini jadi peluang,” ujarnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan