Terjebak Membandingkan Diri: Tekanan Ekspektasi Tinggi pada Siswa

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi siswa nan tertekan akibat ekspektasi tinggi dan kebiasaan membandingkan diri. (Sumber : Dok. Pribadi)

Banyak siswa tanpa sadar mempunyai kebiasaan membandingkan diri dengan kawan nan dianggap lebih pintar, lebih aktif, alias lebih populer. Fenomena ini tidak hanya berangkaian dengan Pendidikan, tetapi juga Psikologi lantaran dapat memengaruhi kepercayaan diri siswa.

Di masa sekolah, banyak siswa merasa kudu memenuhi beragam angan dari orang-orang di sekitarnya.Harapan tersebut bisa datang dari orang tua, guru, teman, apalagi dari media sosial. Siswa diharapkan mempunyai nilai nan bagus, aktif dalam aktivitas sekolah, mempunyai banyak teman, dan tetap terlihat baik di depan orang lain. Tanpa disadari, ekspektasi nan tinggi seperti ini dapat membikin siswa mulai membandingkan dirinya dengan orang lain.

Kebiasaan membandingkan diri sering kali muncul ketika memandang kawan nan lebih pintar, lebih aktif, lebih percaya diri, alias lebih populer. Ada siswa nan merasa dirinya kurang baik hanya lantaran nilainya tidak setinggi teman-temannya. Ada juga nan merasa minder lantaran tidak seaktif siswa lain dalam organisasi alias aktivitas sekolah.

Di era media sosial, kebiasaan membandingkan diri menjadi semakin mudah terjadi. Banyak siswa memandang unggahan kawan nan terlihat bahagia, berprestasi, alias mempunyai kehidupan nan menarik. Padahal, apa nan terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan keadaan nan sebenarnya. Namun, tidak sedikit siswa nan akhirnya merasa bahwa hidup mereka kurang menarik dibandingkan orang lain.

Dalam pengetahuan psikologi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui teori social comparison dari Leon Festinger. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang condong menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Ketika seseorang merasa dirinya lebih rendah dibanding orang lain, rasa percaya dirinya dapat menurun.

Selain itu, teori looking-glass self dari Charles Horton Cooley juga menjelaskan bahwa seseorang sering menilai dirinya berasas gimana dia merasa dilihat oleh orang lain. Akibatnya, banyak siswa menjadi terlalu memikirkan penilaian orang lain dan takut dianggap tidak cukup baik.

Kebiasaan membandingkan diri nan dilakukan terus-menerus dapat memberikan akibat jelek bagi kepercayaan diri siswa. Mereka bisa merasa bahwa apa nan mereka miliki tidak pernah cukup. Mereka juga menjadi lebih mudah merasa minder, tidak percaya diri, dan takut gagal.

Padahal, setiap siswa mempunyai kemampuan, kelebihan, dan proses nan berbeda-beda. Tidak semua orang kudu menjadi nan paling pintar, paling aktif, alias paling populer. Membandingkan diri dengan orang lain hanya bakal membikin seseorang lupa memandang perkembangan dirinya sendiri.

Ekspektasi dari orang lain memang tidak bisa dihindari, tetapi siswa juga perlu belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Kepercayaan diri tidak datang dari seberapa dahsyat seseorang dibanding orang lain, tetapi dari keahlian untuk menerima diri sendiri dan terus berkembang sesuai keahlian masing-masing.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan