Tanah Abang dan Bayang-Bayang Pungli Sopir Bajaj yang Tak Kunjung Usai

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Bagi seorang pengemudi bajaj seperti Edi, kondisi ini kian menyesakkan. Penghasilan rata-rata sebesar Rp 200 ribu nan hanya cukup untuk menghidupi dapur rumah dan pemilik bajaj, terpaksa kudu dibagi ke pada preman nan datang tanpa bisa ditolak.

"Ada kecil-kecil dulu, Rp 5.000, Rp 5.000, tapi kan nan minta banyak," tutur Edi.

Kondisi ini bukan cerita baru nan terjadi belakang ini saja. Bagi Edi, praktik ini sudah mengakar sejak lama.

Bahkan, ada beberapa momen di mana para preman gencar melakukan pemalakan kepada para sopir. Salah satunya menjelang bulan puasa, di mana aktivitas Pasar Tanah Abang lebih ramai dari biasanya.

Bulan nan semestinya identik dengan keberkahan, tapi justru berbeda bagi Edi dan kawan-kawannya. Ia justru disambut dengan tekanan pemalakan nan lebih intens, di tengah kebutuhan nan semakin meningkat.

Kondisi ini sangat membikin Edi resah. Namun, apalah daya baginya nan tak punya pilihan lagi selain memberinya. Menolak jatah, artinya ada akibat lebih besar nan bakal dihadapi bagi Edi.

Ia mengaku, ancaman bagi para pengemudi bajaj kerap kali datang jika mereka menolak memberi jatah kepada para preman tersebut. Edi dan para pengemudi lainnya bisa saja tidak lagi diperbolehkan untuk mangkal di sekitar Tanah Abang, tempatnya mengais rezeki selama ini.

Bukan hanya dilarang mangkal, tapi lebih dari itu. Edi bercerita, tindakan pengeroyokan alias pemukulan kerap kali terjadi kepada pengemudi bajaj maupun pedagang bagi nan menolak memberikan jatah.

Kala itu, sempat terjadi peristiwa tersebut. Tak ada nan berani melawan, apalagi petugas keamanan sekalipun.

"Ada security juga tak bersuara doang, security nggak berani," ungkap Edi.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita