Takut Karma atau Paham Empati? Alasan Kita Tidak Menghina

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi korban bullying. Sumber: Freepik

“Jangan suka menghina orang miskin, hati-hati kelak karma malah Anda nan jadi miskin!”

Berapa kali kita mendengar peringatan semacam ini di ruang keluarga, lingkungan pertemanan, alias apalagi di kolom komentar media sosial? Dalam budaya kita, nasihat nan mengandalkan konsep karma, kualat, alias norma tabur-tuai seolah menjadi senjata pamungkas untuk membungkam kesombongan. Sekilas, petuah ini terdengar bijak dan ampuh, seolah menjadi perangkat nan langsung menghentikan niat seseorang untuk merendahkan orang lain.

Namun, mari kita jujur dan membedah isi kepala kita sendiri. Jika kita berakhir menghina orang lain hanya lantaran takut nasib jelek itu berbalik menyerang kita, apakah kita betul-betul sudah menjadi manusia nan bermoral? Atau, bisa jadi kita hanya bertindak lantaran ketakutan, lampau menyamarkannya seolah-olah itu adalah prinsip etika.

Dalam kacamata logika, langkah berpikir semacam ini sebenarnya bermasalah. Kita mengenalnya sebagai appeal to consequences, ialah sebuah sesat berpikir (logical fallacy) di mana kita menilai betul alias salahnya suatu tindakan semata-mata berasas akibat nan mungkin terjadi pada diri kita, bukan pada prinsip perbuatan itu sendiri.

Pakar logika Douglas Walton (1999) dalam kajian sejarahnya pernah menelusuri kejadian ini. Ia menemukan bahwa sejak era Aristoteles, argumen berbasis akibat nan dalam tradisi logika dikenal sebagai argumentum ad consequentiam memang laku digunakan sebagai perangkat persuasi di ruang publik lantaran sangat praktis untuk menakut-nakuti massa. Namun, seiring berkembangnya logika modern, para filsuf sepakat bahwa pola penalaran ini merupakan corak kecacatan bernalar. Mengapa? Karena menakut-nakuti seseorang dengan “karma” sama sekali tidak membuktikan bahwa menghina itu secara moral adalah perbuatan nan salah, melainkan hanya menunjukkan bahwa tindakan tersebut mungkin membawa akibat nan tidak diinginkan.

Dalam konteks ini, argumen untuk tidak menghina nan hanya bertumpu pada ketakutan terhadap akibat menjadi kurang memadai. Kita mungkin terlihat “baik”, tetapi sebenarnya hanya sedang menghindari risiko, bukan memahami nilai kemanusiaan itu sendiri.

Masalah terbesar dari moralitas berbasis ketakutan ini adalah fondasinya nan sangat rapuh. Ancaman “kualat” alias “karma” tidak selalu dapat dibuktikan secara empiris. Dalam kehidupan nyata, anomali sering terjadi. Kita kerap memandang orang nan doyan merendahkan orang lain justru hidupnya tetap baik-baik saja. Sebaliknya, orang nan tutur katanya santun tidak selalu terhindar dari kesulitan.

Jika moralitas kita hanya berjuntai pada norma tabur-tuai nan tidak pasti ini, maka standar etika kita bakal mudah goyah. Mengandalkan dugaan alias kepercayaan spekulatif tentang “karma” bukanlah landasan nan cukup kuat. Jika kita mau menyatakan bahwa suatu tindakan itu salah, kita memerlukan argumen nan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Dalam kajian filsafat, pertanyaan tentang dasar nilai ini dibahas dalam Aksiologi, ialah bagian makulat nan mengkaji tentang nilai dan moralitas. Dari perspektif pandang ini, suatu tindakan tidak cukup dinilai dari akibat nan mungkin terjadi, tetapi dari nilai nan melekat pada tindakan itu sendiri. Dengan demikian, menjauhi perilaku menghina semestinya tidak didasarkan pada ketakutan bakal nasib buruk, melainkan pada pemahaman bahwa tindakan tersebut memang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.

Lalu, jika bukan lantaran “karma”, apa sebenarnya dasar paling kuat untuk mengatakan bahwa menghina itu salah? Jawabannya terletak pada akibat nyata nan dialami oleh orang lain.

Kita tidak perlu menunggu kekuatan gaib untuk menghukum sang penghina. Bukti empiris di bagian ilmu jiwa sudah cukup jelas menunjukkan bahwa agresi verbal, perundungan, dan hinaan secara langsung merusak kesehatan mental seseorang. Hinaan dapat menghancurkan nilai diri, memicu kecemasan, memperburuk kondisi psikologis, hingga memicu bentrok sosial nan lebih luas. Dampak-dampak inilah nan semestinya menjadi argumen utama kita untuk menjaga ucapan, bukan ketakutan bakal kemungkinan nasib jelek di masa depan.

Di titik inilah, empati semestinya mulai menggantikan rasa takut sebagai dasar kita bersikap.

Empati bukan sekadar rasa iba tetapi merupakan sistem kognitif dan emosional nan memungkinkan seseorang memahami sekaligus merasakan akibat dari tindakannya terhadap orang lain. Ketika pemahaman logis dan respons emosional ini melangkah bersama, perseorangan tidak lagi memerlukan ancaman eksternal untuk mengatur perilakunya. Ia tidak menghina bukan lantaran takut, melainkan lantaran betul-betul memahami konsekuensinya bagi orang lain.

Menariknya, melepaskan rasa takut bukan berfaedah kita kudu membuang konsep aliran moral seperti karma sepenuhnya, asalkan kita memaknainya dengan benar. Sebuah studi dari Duong dkk. (2025) membuktikan bahwa kepercayaan pada karma mempunyai dimensi nan berbeda. Jika seseorang mempercayai karma hanya untuk menghindari hukuman, pengaruh moralnya sangat dangkal.

Namun, ketika karma dipahami sebagai karmic duty orientation ialah sebuah tanggungjawab moral untuk melakukan baik tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan imbalan, kepercayaan ini justru terbukti secara signifikan meningkatkan empati seseorang. Artinya, kesadaran spiritual nan matang dan empati sebenarnya dapat melangkah beriringan untuk membentuk karakter nan kuat.

Jika kita terus mempertahankan moralitas nan hanya berbasis ketakutan, kita berisiko melahirkan perilaku nan tidak konsisten. Seseorang mungkin bakal bersikap sopan ketika merasa diawasi alias takut terhadap konsekuensi, tetapi bersikap sebaliknya ketika merasa aman. Hal ini terlihat jelas, misalnya, di media sosial, di mana etika sering kali menguap begitu saja. Ini menunjukkan bahwa nilai moral tersebut tidak betul-betul tertanam, melainkan hanya berkarakter situasional.

Sebaliknya, moralitas nan berbasis empati mempunyai konsistensi nan lebih kuat. Individu tidak hanya mempertimbangkan akibat terhadap dirinya sendiri, tetapi juga akibat terhadap orang lain. Dalam langkah pandang ini, etika bukan lagi perangkat untuk menghindari nasib buruk, melainkan hasil dari pemahaman tentang gimana tindakan kita memengaruhi orang lain.

Pada akhirnya, mungkin nan perlu kita ubah bukan hanya perilaku, tetapi juga argumen di baliknya. Bukan lagi “jangan menghina lantaran kelak bisa terjadi pada kita,” melainkan “jangan menghina lantaran itu memang merugikan orang lain.” Perubahan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi implikasinya sangat besar.

Jika argumen kita untuk tidak menghina hanya berakhir pada ketakutan, maka moralitas kita tidak lebih dari sekadar langkah untuk menghindari risiko. Namun, jika dia berakar pada pemahaman dan empati, di situlah etika betul-betul mempunyai makna.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan