Singapura memperketat kebijakan moneternya. Langkah tersebut membikin Negeri Singa menjadi negara pertama di Asia nan menanggapi meningkatnya akibat inflasi akibat lonjakan nilai daya imbas bentrok di Timur Tengah.
Dikutip dari Bloomberg pada Selasa (14/4), Monetary Authority of Singapore (MAS) menyatakan bakal meningkatkan kemiringan alias slope dari kebijakan nilai tukarnya.
“Biaya daya impor Singapura telah meningkat. Seiring biaya daya nan lebih tinggi mengalir melalui rantai pasok global, beragam biaya impor Singapura juga bakal meningkat,” ujar Bank Sentral Singapura dalam pernyataannya.
Bank Sentral Singapura juga mencatat nilai minyak kemungkinan bakal tetap tinggi untuk beberapa waktu meskipun pasokan dari Timur Tengah kembali pulih.
Nilai dolar Singapura stabil di level 1,2734 terhadap dolar AS, menjadikannya sebagai mata duit dengan keahlian terbaik di Asia Tenggara terhadap dolar AS sejak pecahnya perang Iran.
Dengan langkah terbaru tersebut, Singapura menjadi nan terdepan pada saat negara-negara lain di area tetap condong menahan kebijakan sembari menilai akibat ekonomi dari bentrok tersebut.
Pada pekan lalu, Reserve Bank of India dan Bank of Korea mempertahankan suku kembang mereka lantaran tetap memantau akibat lonjakan nilai minyak terhadap perekonomian.
Sementara itu, Indonesia, Filipina, dan Thailand nan dijadwalkan mengambil keputusan kebijakan moneter untuk merespons perang dalam beberapa minggu mendatang diperkirakan bakal menahan suku bunga.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·