Liputan6.com, Jakarta - Fenomena ikan sapu-sapu nan memenuhi sejumlah aliran sungai di Jakarta belakangan ramai diperbincangkan. Video dan foto nan memperlihatkan banyaknya ikan berwarna gelap itu memenuhi dasar sungai viral di media sosial.
Bahkan, sebagian penduduk mulai cemas lantaran populasi ikan sapu-sapu dianggap semakin mendominasi dan menakut-nakuti keberadaan ikan lokal.
Di tengah ramainya perbincangan tersebut, muncul pula komparasi dengan ikan lain nan sama-sama berasal dari Amazon, ialah ikan piranha. Keduanya memang berasal dari area nan sama, tetapi mempunyai karakter dan akibat nan sangat berbeda.
Ikan sapu-sapu dikenal sebagai jenis invasif nan bisa memperkuat hidup di lingkungan ekstrem, termasuk air tercemar. Ikan ini mempunyai keahlian beradaptasi nan tinggi, sehingga populasinya sigap berkembang di perairan seperti Ciliwung.
Selain itu, ikan sapu-sapu juga mempunyai kebiasaan menggali lubang di tebing sungai untuk berkembang biak. Aktivitas tersebut dapat mempercepat erosi bantaran sungai dan meningkatkan akibat longsor.
Meski tidak rawan bagi manusia, keberadaan ikan sapu-sapu tetap menjadi masalah bagi ekosistem. Ikan ini bersaing dengan ikan lokal dalam mencari makanan, apalagi mengganggu rantai makanan alami di sungai. Akibatnya, sejumlah ikan original mulai berkurang jumlahnya.
Berbeda dengan sapu-sapu, ikan piranha dikenal sebagai predator ganas. Ikan ini mempunyai gigi tajam dan kebiasaan berburu secara berkelompok. Di kediaman aslinya, piranha memang berada di puncak rantai makanan dan memangsa ikan lain maupun hewan mini nan masuk ke dalam air.
Meski terkenal berbahaya, piranha sebenarnya jarang ditemukan di perairan Indonesia. Selain itu, ikan ini juga tidak mudah berkembang seperti sapu-sapu, lantaran memerlukan kondisi lingkungan tertentu untuk memperkuat hidup. Karena itulah, ancaman piranha di sungai Indonesia relatif mini dibandingkan dengan ikan sapu-sapu.
Kesamaan keduanya terletak pada asal usulnya. Baik sapu-sapu maupun piranha berasal dari perairan Amazon di Amerika Selatan. Namun, keduanya masuk ke Indonesia melalui jalur berbeda, umumnya dari perdagangan ikan hias alias pelepasan oleh pemilik nan tidak lagi memeliharanya.
Masuknya jenis asing seperti sapu-sapu menjadi tantangan tersendiri bagi ekosistem sungai di Indonesia. Tidak adanya predator alami membikin populasinya berkembang pesat. Kondisi ini berbeda dengan piranha nan meski berbahaya, populasinya lebih susah berkembang di luar kediaman aslinya.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·